Industri lainnya
( 1893 )Ekosistem Industri Penerbangan Tanah Air Dipacu
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus mendorong terciptanya ekosistem industri penerbangan di tanah Air mampu memiliki daya siang dengan negara lain. Setiap tahap awal pemerintahan bakal mengembangkan Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, Jawa Barat. Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, menciptakan ekosistem industri penerbangan di dalam negeri harus bisa dilakukan bertahap, salah satunya dengan mendorong ekosistem bisnis layanan fasilitas dan perawatan atau Maintance Repair and Overhaul (MRO) di Tanah Air dengan memanfaatkan Bandara Internasional Kertjati di Jawa Barat. “Untuk ekosistem MRO, saya optimis hars bias bergerak seperti yang kami lakukan di Bandara Kertajati.
Segala upaya kami lakukan, dimana kemarin Garuda Maintance Facility (GMF)
AeroAsia sudah beroperasi di kawasan Aerospace Park Kertajati meski baru
sebatas perawatan helicopter,” ujar Menhub Dudy. Menurutnya lahan untuk
pengembangan Bandara Internasional Kertajati sebagai Kawasan Aerospace Park
juga sudah tersedia. Sehingga dengan beroperasinya GMF diharapkan mampu
mengundang para pelaku usaha lain yang berkecimpung di sektor aviasi dan kargo
untuk bisa berinvestasi Aerospace Park. “Dengan adanya GMF kita berharap bisa memantik industri aviasi lain bisa masuk ke
Kertajati,” Bandara Kertajati tidak hanya berfungsi sekedar bandara, namun juga
bisa berkembang dengan ekosistem aviasi yang lebih besar seperti MRO, kargo dan
penerbangan haju hingga umroh. (Yetede)
Permintaan Mulai Normal Penjualan Eceran Kontraksi 6,9%
BI memperkirakan penjualan eceran pada April 2025 terkontraksi 6,9% dari posisi Maret yang tumbuh 13,6%, karena permintaan secara bertahap mulai normal setelah meningkat pada bulan Ramadan dan Idulfitri. Adapun survey BI juga memperkirakan penjualan pada Juni dan September 2025 dalam tren menurun. “Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2025 diperkirakan terkontraksi sebesar 6,9%, dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri,” jelas Kepala Departeman BI Ramdan Denny Parkoso. Mayoritas kelompok barang tercatat turun dan berada dari pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnnya (-10,6%, secara month to month/mtm), makanan, minuman, dan tembakau (-7,2%, mtm).
Responden menginformasikan penurunan penjualan eceran dipengaruhi oleh
normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan
Idulfitri. Sementara itu, kelompok bahan
bakar kendaraan bermotor menjadi satu-satunya kelompok yang tercatat mengalami perbaikan meski masih dalam fase kontraksi sebesar 0,8%
(mtm) didukung oleh kelancaran distribusi. BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil
(IPR) April 2025 mencapai 231,1 karena didiukung oleh tumbuhnya kelompok suku
cadang dan aksesoris, bahan bakar, dan subkelompok sandang. Kondisi IPR pada
April 2025 disokong oleh tumbuhnya kelompok suku cadang dan aksesori, bahan
bakar kendaraan bermotor, dan subkelompok sandang. Sedangkan penjualan kelompok
lainnya diperkirakan menurun, tertama kelompok
peralatan informasuk dan komunikasi, perlengkapan rumah tangga lainnya, makanan, minuman, dan tembakau. (Yetede)
Penurunan Daya Beli Pukul Multifinance
Harga Produk Turun, Marjin Laba Terancam
Beragam Masalah Mendera Daya Saing Industri Nasional
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, industri dalam negeri menghadapi beragam tantangan yang tidak mudah dan menggerus daya saing nasional. Memasuki awal 2025, perekonomian Indonesia, baik dari faktor domestik maupun eksternal, pada triwulanI-2025 hanya tumbuh 4,87 % secara tahunan. Angka ini menunjukkan perlambatan yang lebih rendah dari triwulan I-2024, yaitu 5,11 %. Perlambatan juga terlihat pada triwulan IV-2024, yaitu 5,02 %. Secara triwulanan, perekonomian terkontraksi sebesar 0,98 %. Kontraksi ini menandai meningkatnya tekanan dari sisi domestik ataupun eksternal.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi itu karena melemahnya konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional. Pada triwulanI-2025, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,89 %. Padahal, ada periode Ramadhan yang biasanya menjadi momentum mendorong peningkatan belanja masyarakat. ”Capaian ini terendah dalam lima triwulan terakhir, yang mencerminkan tekanan pada daya beli masyarakat, terutama di kelompok pendapatan menengah ke bawah. Tekanan inflasi dan belum optimalnya stimulus fiskal langsung, memengaruhi lemahnya konsumsi domestik,” ujar Shinta dalam acara Media Briefing Apindo Indonesia Quarterly Update, di Jakarta, Selasa (13/5).
Ada empat tantangan structural yang terus menggerus daya saing nasional. Pertama, hambatan regulasi yang masih menjadi sorotan utama dunia usaha. Kedua, tingginya biaya berusaha menjadi kendala serius. Ketiga, keamanan berusaha menjadi tantangan nyata di lapangan. Gangguan dari oknum di luar sistem hukum kerap menghambat proses produksi dan distribusi, serta menciptakan ketidakpastian operasional bagi pelaku usaha. Keempat, kualitas SDM juga jadi penghambat utama. Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dari rata-rata negara di kawasan ASEAN. (Yoga)
TIK Membeberkan Peran Operator Telekomunikasi dalam Memperkuat Konektivitas
Pemerintah dan Pelaku Perlu Duduk Bersama Secara Intensif
Ditengah Gempuran Smartphone Canggih, Ponsel Jadul Tetap Memiliki Tren Bertahan
Berkilaunya Pertambangan di Kalbar sejak dulu hingga Hilirisasi Bauksit Sekarang
Kilau tambang di Kalbar telah lama memikat, setidaknya saat Kongsi Tambang China yang menggarap emas. Kini, giliran bauksit yang memikat. Bahkan, Kalbar menjadi salah satu daerah yang turut berperan dalam program strategis nasional, yaitu hilirisasi bauksit. Kongsi Tambang China pernah berdiri di Kalbar dari 1776-1884. Saat Kesultanan Sambas dan Mempawah mendatangkan pekerja dari China untuk bekerja di pertambangan emas Monterado dan Mandor. Monterado kini jadi kecamatan di wilayah Kabupaten Bengkayang. Sementara Mandor, kini kecamatan di wilayah Kabupaten Landak. Lanfang, satu di antara 16 kongsi tambang yang ada di Kalbar saat itu. Usaha pertambangan dan perdagangan emas dikelola para perantau dari daratan China. Mereka beranak pinak, bahkan menjadi cikal bakal orang Tionghoa di Kalbar.
Kendati Kongsi Tambang China di Kalbar sudah lama bubar, kekayaan tambangnya masih memikat banyak pihak. Kini, bauksit yang sedang booming. Berdasar data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kalbar, realisasi PMA dan dalam negeri pada 2024 sebesar Rp 31,47 triliun. Penyumbang investasi terbesar adalah sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya sebesar Rp 7,91 triliun. Kalbar pun menjadi daerah yang turut ambil bagian dalam program strategis nasional, yaitu hilirisasi bauksit. Hilirisasi bauksit, telah dilakukan di Kabupaten Ketapang, Kalbar. Pabrik pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina (smelter) juga telah berproduksi sehingga memberi nilai tambah pada sumber daya alam itu. Hilirisasi diharapkan kelak meninggalkan jejak pada lanskap budaya, juga dampak yang berarti secara ekonomi bagi masyarakat. (Yoga)
Pelaku Bisnia Terapkan Sharing Economy
Pilihan Editor
-
Mengelola Risiko Laju Inflasi
09 Jun 2022 -
Audit Perusahaan Sawit Segera Dimulai
08 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022 -
Menkeu Minta Kualitas Belanja Pemda Diperbaiki
08 Jun 2022 -
Yusuf Ramli, Jalan Berliku Juragan Ikan
10 Jun 2022









