;
Tags

Korporasi

( 1557 )

LAPORAN DARI SINGAPURA : Media Minati Tencent Cloud

HR1 22 Feb 2023 Bisnis Indonesia

Layanan komputasi awan milik Tencent Cloud makin diminati pelaku industri media di Asia Pasifik sepanjang 2022. Carmen Zhu, Research Director Frost & Sullivan, menyebutkan hal itu merupakan kesimpulan dari hasil riset Frost & Sullivan dalam tajuk Asia-Pacific (APAC) Media Service Market Report 2022. Dia menyebutkan penelitian dilakukan di sembilan kawasan di Asia Pasifik. Cakupan yang dievaluasi melingkupi kapabilitas aplikasi, layanan, dan infrastruktur. “Jumlah responden adalah 60 perusahaan dengan skala bisnis hingga lebih dari US$500 juta,” katanya di Singapura, Selasa (21/3). Dia mencatat responden adalah pengguna komputasi awan (cloud) dengan skala bisnis hingga US$5 juta sebanyak 5%, skala US$5,1 juta hingga US$10 juta (7%), skala bisnis dengan nilai US$10,1 juta hingga US$50 juta sebanyak 13%. Selanjutnya, responden memiliki bisnis dengan nilai US$50,1 juta hingga US$100 juta (13%), US$100,1 juta hingga US$500 juta (20%), dan di atas US$500,1 juta (42%). Untuk asal negaranya yakni China (30%), Asia Selatan (20%), Asia Tenggara (20%), dan selebihnya dari Jepang dan Korea Selatan. “Riset menemukan bahwa 33,4% perusahaan media dan entertainment memilih layanan Tencent Cloud untuk mengakselerasi perjalanan digital perusahaannya,” ulas Carmen. Poshu Yeung, Senior Vice President of Tencent Cloud International, menyebutkan pihaknya melayani lebih dari 1 miliar pengguna di dunia.

Jaring Cuan Saat Emiten Gelar Buyback

HR1 22 Feb 2023 Kontan

Pembelian kembali ( buyback ) saham masih semarak digelar oleh emiten berkapitalisasi pasar besar ( big caps ). Aksi korporasi ini diguyur dengan dana jumbo, nilainya ratusan miliar hingga triliunan rupiah. Deretan emiten big caps yang bakal menggelar buyback saham di antaranya ada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Usai menuntaskan buyback saham senilai Rp 3 triliun pada akhir Januari 2023, BBRI akan menggelar aksi serupa dengan menggelontorkan dana hingga Rp 1,5 triliun. Bank pelat merah lainnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), juga akan membeli kembali sahamnya. Buyback BBNI akan direalisasikan dengan menyiapkan dana Rp 905 miliar. Di sektor tambang, ada PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang akan menggelar buyback dengan nilai maksimal Rp 4 triliun. Sementara itu, emiten ritel PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) juga akan kembali membeli sahamnya dengan menyiapkan dana maksimal sebesar Rp 1 triliun. Emiten lainnya pun telah memulai dan merealisasikan saham sejak tahun lalu hingga awal tahun ini. Antara lain PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), hingga PT Temas Tbk (TMAS). Pengamat Pasar Modal Fendi Susiyanto menilai, aksi buyback dilakukan untuk mengirimkan sinyal kepada pasar bahwa emiten punya prospek kinerja bisnis dan pergerakan saham yang cemerlang. Selain itu, keuangan atau kas emiten juga dalam kondisi sehat. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger MM menambahkan, pertimbangan buyback juga karena valuasi emiten dinilai masih murah. Aksi buyback pun pada umumnya dilakukan ketika harga saham mulai terkoreksi atau sudah dalam fase bearish

BIPI Tuntaskan Akuisisi Tambang PTT Mining

HR1 17 Feb 2023 Kontan

PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) resmi mengakuisisi PTT Mining Ltd (PTTML) Hong Kong yang memiliki tiga konsesi pertambangan batubara di Kalimantan, yaitu Jembayan, Sebuku dan Penajam. Direktur Utama BIPI Ray Anthony Gerungan mengungkapkan, akuisisi tersebut akan memperkuat kinerja keuangan Astrindo di saat Harga Batubara Acuan (HBA) yang masih tinggi di level US$ 277,05 per ton per Februari 2023 dibandingkan Februari 2022 seharga US$ 188,38 per ton. Direktur BIPI Michael Wong menambahkan, dampak langsung dari akuisisi PTT Mining terhadap prospek keuangan Astrindo sangat luar biasa. Per kuartal III-2022, pendapatan Astrindo tercatat US$ 6,28 juta. Sementara itu, pendapatan PTT Mining sampai kuartal III-2022 sekitar US$ 244,64 juta. Alhasil, performa BIPI diproyeksikan menjadi enam kali lipat dari tahun 2021

Gara-Gara Meikarta Saham Jadi Merana

HR1 16 Feb 2023 Kontan

Sengkarut sengketa pembangunan unit apartemen Meikarta di Cikarang, Jawa Barat antara PT Mahkota Sentosa Utama (MSU) dan konsumennya, membuat saham emiten properti Grup Lippo bergerak naik turun bak rollercoaster. Contoh saham PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK). Pada penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa (14/2), saham LPCK ditutup di Rp 970 atau turun 1,02% dibanding penutupan hari sebelumnya. Tapi, pada penutupan pasar Rabu (15/2), harga saham LPCK tiba-tiba rebound dengan kenaikan hingga 4,64% ke posisi Rp 1.015. Dus, sejak awal 2023, saham LPCK naik 1,50%. Sedang saham sang induk tetap tidak bergerak di level Rp 85, dengan kenaikan sejak awal tahun ini 7,59%. Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro menilai, sejatinya harga saham LPCK dan LPKR saat ini sedang berada dalam fase downtrend. Pemicunya adalah persepsi risiko investor terhadap dampak dari masalah pembangunan apartemen Meikarta yang belum diselesaikan grup Lippo.

AKSI KORPORASI : BUYBACK SAHAM JADI AMUNISI EMITEN

HR1 16 Feb 2023 Bisnis Indonesia

Emiten berkocek tebal mulai menggulirkan aksi pembelian kembali saham atau buyback di tengah penurunan valuasi pada awal tahun ini. Strategi itu diharapkan dapat menopang pergerakan saham dan memberikan sinyal positif tentang fundamental emiten. Terbaru, emiten Garibaldi Thohir PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) mengumumkan buyback saham di tengah harga yang volatil dengan target maksimal Rp4 triliun. Buyback saham tersebut dilaksanakan sesuai ketentuan dalam POJK No. 2/2013 dan SEOJK No. 3/2020 yang menyebutkan bahwa saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari modal disetor dan ketentuan paling sedikit saham yang beredar adalah 7,5% dari modal disetor perseroan. Aksi korporasi itu dilakukan saat harga saham ADRO merosot 23,4% year-to-date ke level Rp2.950 pada perdagangan kemarin. Untuk menopang buyback bernilai triliunan rupiah itu, ADRO ditopang oleh kas dan setara kas yang mencapai US$3,35 miliar per 30 September 2022. Manajemen ADRO menambahkan buyback saham akan menggunakan dana dari kas internal ADRO karena saat ini perseroan memiliki permodalan dan arus kas yang baik dan cukup untuk membiayai seluruh kegiatan usaha dan operasional, belanja modal serta buyback saham. “Kami mengharapkan buyback memberikan tingkat pengembalian yang baik bagi pemegang saham sehingga harga saham ADRO dapat mencerminkan fundamental perusahaan,” kata Head of Corporate Communication Adaro Energy Febriati Nadira, Rabu (15/2). Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) juga mengumumkan akan menggelar pembelian saham publik. BBNI yang menargetkan buyback sebanyak-banyaknya Rp905 miliar mengemukakan aksi korporasi ini dilakukan untuk mengimbangi tekanan jual di pasar saham. Research and Consulting Manager Infovesta Kapital Advisori Nicodimus Kristiantoro mengatakan valuasi yang rendah memang menjadi salah satu pertimbangan utama yang melandasi aksi buyback emiten. Sebagai contoh, valuasi ADRO terbilang rendah jika dibandingkan dengan rata-rata emiten energi lainnya.

Adaro Mineral Anggarkan Capex Batu Bara Rp1,2 Triliun

KT1 16 Feb 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID- PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk segmen batu bara metalurgi (hard coking coal) tahun 2023 sebesar US$ 70-90 juta atau Rp 1,3 triliun. Menurut Head of Corporate Communication Febriati Nadira, belanja modal tersebut belum mencakup investasi smelter aluminium. Sebab, perseroan memproyeksikan financial close untuk proyek smelter alumunium baru tercapai semester I-2023. “Jadi, kami akan membuat pengumuman lebih lanjut mengenai porsi ekuitas di kemudian hari,” jelas Febriati dalam keterangan resmi, Rabu (15/2/2023). Merujuk pada laporan operasional perseroan kuartal- IV 2022, Adaro Mineral membukukan produksi batu bara sepanjang 2022 sebanyak 3,37 juta ton. Realisasi ini meningkat 47% dibandingkan produksi 2021 sebesar 2,3 juta ton. Febriati menegaskan, volume produksi ini melampaui panduan perseroan tahun 2022 berkisar 2,8-3,3 juta ton. Alhasil, volume penjualan batu bara sepanjang 2022 bertumbuh sebesar 39% menjadi 3,2 juta ton dibandingkan 2021 sebanyak 2,3 juta ton. (Yetede)

Adaro Beli Balik Saham Rp 4 Triliun

KT3 16 Feb 2023 Kompas

PT Adaro Energy Indonesia Tbk berencana membeli kembali sahamnya (buy back) dengan anggaran yang disiapkan sebesar Rp 4 triliun. Manajemen Adaro, dalam keterbukaan informasi, Rabu (15/2) mengatakan, saham yang dibeli balik tidak akan melebihi 20 persen dari modal disetor dengan ketentuan saham beredar paling sedikit adalah 7,5 % dari modal disetor perusahaan. (Yoga)

BEER Bidik Penjualan Tumbuh 60% di Tahun Ini

HR1 15 Feb 2023 Kontan

PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk (BEER) membidik pertumbuhan kinerja penjualan sebesar 50%-60% pada tahun ini. Manajemen BEER optimistis target tersebut tercapai lantaran emiten ini telah mendapatkan izin usaha industri hingga 90 juta liter per tahun. Presiden Direktur BEER Audy Lieke mengatakan, perusahaan telah mengantongi izin kapasitas minuman beralkohol full spectrum minuman golongan golongan A (0%-5% alkohol), golongan B (5,01%-20% alkohol) dan golongan C (20,01%-55% alkohol). Saat ini, BEER baru menggunakan kurang dari 5% dari izin tersebut. Dengan kapasitas produksi yang masih bisa dikembangkan, BEER juga berencana menambah hingga 50 produk baru untuk diproduksi, ataupun memproduksi minuman merek lain. Dengan kata lain, BEER dapat memproduksi semua jenis minuman beralkohol. Contohnya bir, anggur, anggur merah, soju, sake, wishky, vodka, rum dan gin. Dengan demikian, pada 2024 mendatang, kapasitas produksi perusahaan ini bisa mencapai 6 juta liter per tahun. Dana untuk ekspansi pabrik ini diperoleh dari initial public offering (IPO) beberapa waktu lalu.

BISNIS MULTIFINANCE : PEMAIN BESAR AGRESIF JAGA PASAR

HR1 15 Feb 2023 Bisnis Indonesia

Bisnis pembiayaan sepanjang tahun lalu mencatatkan kinerja manis. Selain pertumbuhan piutang pembiayaan yang moncer, laba bersih yang dibukukan oleh pelaku multifinance tumbuh hingga digit ganda. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai dengan Desember 2022 mencatat laba Rp20,36 triliun atau tumbuh 33,17% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Adapun outstanding piutang pembiayaan tercatat mencapai Rp441,02 triliun sampai akhir 2022 atau naik 13,48% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kinerja kinclong di industri pembiayaan tecermin dari keberhasilan pemain industri pembiayaan dengan aset jumbo yang performanya cukup apik sepanjang tahun lalu. Emiten pembiayaan PT BFI Finance Indonesia Tbk., misalnya, membukukan laba senilai Rp1,8 triliun sepanjang 2022. Manajemen BFIN menyampaikan perolehan laba senilai Rp1,8 triliun sepanjang 2022 disebabkan oleh mobilisasi masyarakat yang kembali aktif yang diikuti dengan daya konsumsi yang mulai menggeliat. Direktur Keuangan BFI Finance Sudjono mengatakan bahwa perbaikan daya beli dan pelonggaran aktivitas masyaralat itu membuat industri pembiayaan nasional terkerek dengan tren pertumbuhan dan kualitas yang baik sepanjang tahun berjalan. Sementara itu, perusahaan pembiayaan PT BCA Finance membukukan laba bersih senilai Rp1,94 triliun sepanjang 2022 atau naik 14,1% dibandingkan dengan tahun lalu. “NPAT naik karena booking naik,” kata Presiden Direktur BCA Finance Roni Haslim kepada Bisnis. Kinerja cemerlang juga dicatatkan oleh PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. atau Adira Finance. Lini bisnis pembiayaan kelompok usaha PT Bank Danamon Indonesia Tbk. itu membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp1,6 triliun pada kuartal IV/2022.

INSTRUMEN SURAT UTANG : DANA JUMBO SIAP MASUK PASAR

HR1 14 Feb 2023 Bisnis Indonesia

Penggalangan dana jumbo melalui instrumen surat utang korporasi senilai Rp41,5 triliun yang berasal dari 37 perusahaan, siap masuk ke pasar. Berdasarkan mandat penerbitan surat utang korporasi yang dikantongi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) hingga 31 Januari 2023, sejumlah perusahaan telah merencanakan aksi penggalangan dana. Kepala Divisi Pemeringkatan Korporasi Pefindo Niken Indriarsih mengatakan mandat penerbitan surat utang korporasi kali ini mulai menunjukkan perbedaan dengan masuknya sektor seperti pengelolan jalan tol dan bandara. Meskipun, dari sisi nilainya, rencana penerbitan surat utang korporasi terbesar berasal dari sektor bank dan pembiayaan. Adapun, realisasi penerbitan surat utang per Januari 2023 mencapai Rp4,23 triliun dengan Rp3,99 triliun di antaranya berasal dari perusahaan swasta. Sementara itu, berdasarkan sektornya industri bubur kertas dan tisu menggalang dana Rp1,74 triliun dan disusul oleh sektor multifinance dengan Rp1,1 triliun serta energi dengan Rp600 miliar. Kedua sektor yang memimpin penerbitan surat utang korporasi pada Januari 2023 mencerminkan kinerja pada 2022. Dari total penerbitan obligasi korporasi senilai Rp163,63 triliun pada 2022, sektor multifinance berkontribusi sebesar Rp27,08 triliun dan industri bubur kertas dan tisu dengan Rp26,25 triliun. Dalam kesempatan yang sama, Ekonom Pefindo Suhindarto mengatakan kondisi tahun ini bakal lebih positif dibandingkan tahun lalu sehingga mendukung bagi aksi penerbitan surat utang. Dia mengemukakan suku bunga pada 2023 tetap tinggi seiring dengan berlanjutnya kebijakan moneter ketat sejumlah bank sentral dunia. Meski demikian, laju peningkatan tidak akan sesignifikan 2022. Dihubungi terpisah, Vice President Credit Analyst Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Teddy Hariyanto mengatakan obligor atau penerbit surat utang akan memanfaatkan peluang pemulihan ekonomi domestik yang berlanjut. Di sisi lain, imbal hasil surat utang pemerintah dan risiko premium turut menurun.

Pilihan Editor