Biodiesel
( 77 )Penyediaan B30 Tempatkan Indonesia Terdepan di Dunia dalam Implementasi Biodesel
Program mandatori B30 atau pencampuran 30% biodiesel dengan 70% minyak solar telah terimplementasi sejak 1 Januari 2020. Pada semester I 2021, volume biodiesel yang telah tersalurkan sebesar 4,3 Juta kilo Liter (kL) atau 46,7% dari target penyaluran biodiesel tahun 2021, dan memberikan manfaat ekonomi setara hingga Rp 29,9 trillun.
Angka tersebut terdiri dan penghematan devisa sebesar Rp 24,6 trillun dan nilai tambah dari Crude Palm Oil (CPO) menjadi biodiesel sebesar 5,3 triliun. Selain itu, implementasi biodiesel juga telah berhasil mengurangi emisi CO2 sebesar 11,4 juta ton CO2e.
la mengatakan capaian program B30 pada semester tahun 2021 ini menegaskan keberhasilan Indonesia sebagai pioneer B30 dunia. Penyediaan dan pemanfaatan B30 telah menempatkan Indonesia pada posisi terdepan di dunia dalam implementasi biodiesel. Program B30 telah dinikmati oleh para konsumen yang menggunakan mesin dengan bahan bakar diesel, baik di sektor transportasi maupun sektor industri lainnya.
Pada tahun 2021, alokasi biodiesel ditetapkan sebesar 9,2 juta kL, didukung oleh 20 BU BBN yang mengikuti pengadaan FAME dan 20 BU BBM yang wajib melakukan pencampuran BBN Jenis dengan BBM Jenis Minyak Solar, Rata-rata serapan setiap bulannya diperkirakan sebesar 766 ribu kL.
Pabrik Biodesel Operasional Oktober 2021
Pabrik biodiesel terbesar di Kalimantan Selatan, segera beroperasi di Kabupaten Tanah bumbu (Tanbu). Dijadwalkan, pabrik dengan investasi Rp 2 triliun tersebut bakal diresmikan oleh Presiden RI, Joko Widodo, akhir Juli 2021.
Bupati dan rombongan disambut GM Jhonline Gimoyo dan Direktur PT JAR, Zafrinal Lubis. Mereka memaparkan soal keberadaan pabrik tersebut. Selain itu, disampaikan juga mengenai pelabuhan Jetty yang bisa digunakan untuk umum bahkan bisa untuk sandar kapal batu bara. Pabrik biodisel ini produksi perjamnya sekitar 60 ton dan per harinya 1.600 ton TBS (Tandan Buah Segar) atau sawit.
BPDPKS Siap Libatkan Petani dalam Rantai Pasok Biodiesel
JAKARTA, Pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) siap melibatkan petani atau pekebun kelapa sawit dalam rantai pasok biodiesel. Hal tersebut untuk menjaga keberlanjutan program energi baru dan terbarukan(EBT) melalui mandatori biodiesel.Plt Kepala Divisi Lembaga Kemasyarakatan Civil Society BPDPKS Sulthan Muhammad Yusa menuturkan, untuk menjaga program EBT melalui program mandatori biodiesel maka pemerintah telah menyesuaikan tarif pungutan ekspor (PE) melalui PMK No 191 Tahun 2020, mengingat kebutuhan sawit untuk program tersebut terus meningkat setiap tahun. “Dan hal itu perlu diikuti dengan peningkatan produktivitas kebun sawit agar kebutuhan bahan baku biodiesel dapat terpenuhi di masa mendatang, untuk itu perlu melibatkan para petani atau pekebun sawit di Tanah Air,” kata dia.
BPDPKS memproyeksikan, produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan stok komoditas tersebut pada 2021-2025 mencapai 52,30-57,61 juta ton atau rata-rata naik 4% per tahun, sementara kebutuhan biodiesel untuk program B30 pada 2021-2025 sebesar 8,34-9,66 juta ton atau rata-rata naik 5% per tahun. Dengan konsumsi domestik yang stagnan, Indonesia memerlukan produk hilir yang mampu menyerap stok CPO yang tinggi. Karena itu, ke depan BPDPKS akan mendorong program palm oil for Renewable Energy: Next Programme yang melibatkan petani dalam rantai pasok biodiesel sawit.
Sementara itu, Koordinator Investasi dan Kerja Sama Bioenergi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Elis Heviati mengatakan, penerapan program mandatori biodiesel Indonesia dilatarbelakangi karena produksi minyak sawit mentah Indonesia yang cukup besar, pada 2020 saja telah mencapai 52 juta ton. Upaya dalam meningkatkan ketahanan energi nasional tersebut juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengingat dengan tutupan lahan sawit seluas 16,38 juta hektare (ha) sebanyak 40% dimiliki pekebun (petani sawit). Dalam grand strategy energi nasional, pada 2030 pemerintah akan tetap mempertahankan kebijakan B30 dan memaksimalkan produksi bahan bakar nabati (BBN) dari biodiesel atau biohidrokarbon. Karena itu, ke depan, pemanfaatan BBN tidak hanya sebatas untuk biodiesel pada pengusahaan skala besar, tapi didorong yang berbasis kerakyatan dan disesuaikan kebutuhan konsumen, termasuk mendorong pemanfaatan by product biodiesel serta pemanfaatan hasil sawit non-CPO. Model kesertaan petard dalam program mandatori biodiesel bisa berupa pengembangan pabrik minyak nabati industrial (FVO) dan bensin sawit dengan bahan baku dari tandan buah segar (TBS) sawit rakyat yang memiliki biaya produksi lebih murah 15-20% dari pabrik kelapa sawit (PKS) konvensional, harga TBS lebih stabil serta dapat dikelola oleh Koperasi/BUMD dan SNI IVO sudah terbit.
(Oleh - HR1)
Menko Airlangga: Indonesia Produsen Biodiesel Terbesar di Dunia
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga mengatakan Indonesia merupakan negara produsen terbesar biodiesel di dunia dengan jumlah produksi mencapai 137 ribu barel minyak per hari lebih tinggi dibandingkan angka produksi biodiesel Amerika Serikat, Brazil, dan Jerman. Ketua Umum Golkar ini mengatakan bahwa keberhasilan ini telah menempatkan posisi Indonesia sebagai negara yang diperhitungkan dalam pasar biodiesel dunia.
Indonesia menggunakan minyak sawit mentah atau CPO sebagai bahan baku utama biodiesel. Minyak sawit dipilih karena pembudidayaanya sudah mapan mengingat posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar nomor dua di dunia. Ilmuwan mencampurkan minyak sawit sebanyak 30 persen ke dalam minyak solar, sehingga menghasilkan produk bernama B30 yang digunakan untuk meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Setiap tahun angka produksi biodiesel terus mengalami pertumbuhan yang positif. Jumlah produksi biodiesel pada 2016 tercatat mencapai 3 juta kiloliter, lalu meningkat 300 persen menjadi 8,5 juta kiloliter pada 2020.
Airlangga: RI Produsen Biodiesel Terbesar di Dunia
JAKARTA – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
mengatakan, Indonesia merupakan produsen terbesar biodiesel di dunia dengan jumlah
produksi mencapai 137 ribu
barel minyak per hari, lebih
tinggi dibandingkan angka
produksi biodiesel Amerika
Serikat, Brazil, dan Jerman.
"Indonesia menjadi negara
produsen biodiesel terbesar
di dunia dengan kapasitas 137
ribu barel minyak per hari.
Sedangkan Amerika Serikat
dengan 112 ribu barel, Brazil
99 ribu barel, dan Jerman 62
ribu barel minyak per hari,"
kata Menko dalam diskusi daring Membedah Urgensi RUU
Energi Baru dan Terbarukan
di Jakarta, Senin (26/4).
Biodiesel merupakan bahan
bakar nabati yang terdiri atas
campuran senyawa methyl ester
dari rantai panjang asam lemak
yang diperuntukkan sebagai
ba han bakar alternatif mesin
diesel.
Indonesia menggunakan minyak sawit mentah atau CPO
sebagai bahan baku utama
bio diesel. Minyak sawit dipilih
karena pembudidayaanya sudah
mapan mengingat posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar nomor dua di dunia.
(Oleh - HR1)
Pengembangan Biodiesel, Produsen Genjot Kapasitas Pabrik
Para produsen biodiesel berencana menambah kapasitas pabriknya hingga 4,9 juta kiloliter hingga 2022 untuk mendukung pengembangan industri energi ramah lingkungan tersebut. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) memperkirakan pada tahun ini ada penambahan kapasitas pabrik sebanyak 3,98 juta kiloliter (kl). Untuk tahun depan, tambahannya akan berkurang menjadi 936.782 kl.Berdasarkan data Aprobi, saat ini kapasitas terpasang pabrik biodiesel tercatat mencapai 11,62 juta kl. Dengan adanya rencana penambahan tersebut, kapasitas terpasang pabrik biodiesel hingga 2022 diestimasikan dapat mencapai 16,53 juta kl.
Harapan kami [penambahan kapasitas] sekitar 15 juta kl sampai akhir tahun ini dan 16 juta kl sampai 2022,” ujar Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan, Sabtu (20/3).Paulus mengatakan pemanfaatan biodiesel masih menemui sejumlah tantangan. Salah satu di antaranya adalah selisih harga biodiesel dengan solar yang makin melebar akibat anjloknya harga minyak bumi. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan-kebijakan tertentu dari pemerintah agar perbedaan harga antara solar dan biodiesel bisa teratasi. Dengan demikian, hal tersebut tidak mengganggu implementasi program mandatori campuran 30% biodiesel dalam minyak solar atau B30.
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi serapan biodiesel tahun lalu mencapai 8,4 juta kl. Realisasi tersebut hanya mampu mencapai sekitar 88% dari target yang ditetapkan tahun lalu sebesar 9,6 juta kl.Alasannya, pandemi Covid-19 telah menekan kinerja hampir seluruh industri, termasuk biodiesel.Adapun, tahun ini serapan biodiesel ditargetkan dapat mencapai 9,2 juta kl.Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengakui bahwa implementasi B30 tengah menghadapi tantangan terkait harga.
PEMANFAATAN LAIN
Di samping mengembangkan biodiesel, pemerintah juga akan mendorong pemanfaatan biofuel lainnya, seperti bioetanol untuk mengurangi impor bahan bakar minyak. Pemerintah sebenarnya telah mencanangkan program bioetanol sejak 2006. Namun implementasi pemanfaatannya hingga saat ini belum bisa berjalan. Hal ini lantaran harga bioetanol masih cukup mahal dan sumber insentif belum tersedia.
Koordinator Investasi dan Kerjasama Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Elis Heviati menambahkan bahwa tantangan implementasi bioetanol lainnya adalah terkait terbatasnya ketersediaan bahan baku. Oleh karena itu, rencana pengembangan bioetanol akan didorong berdasarkan potensi lokal setempat agar lebih mudah implementasinya. Salah satu rencana pengembang-an berbasis potensi lokal yang dilakukan, yakni kerja sama Kementerian ESDM, badan usaha negara dan swasta, serta Pemerin-tah Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk pengembangan bioetanol berbasis rumput gajah di Lombok
(Oleh - HR1)
Kapasitas Produksi Biodiesel Tambah 3,4 Juta KL Tahun 2021
Produsen biodiesel berencana menambah kapasitas produksi pada tahun ini. Pada 2020, direncanakan ada penambahan kapasitas produksi sebesar 3,6 juta KL menjadi mundur ke tahun 2021 sebesar 3,4 juta KL.
Hal tampak dari data Aprobi di mana produksi dari Januari sampai Oktober 2020 sebesar 7,197 juta KL. Dari jumlah ini, penyaluran domestik sebesar 7,076 juta KL dan ekspor sebesar 16.331 KL.
Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan, menyebut “Kontribusi B30 berdampak positif bagi pengurangan emisi gas rumah kaca, tahun ini diproyeksikan 26 juta ton CO2 ekuivalen, atau 68% dari target pengurangan emisi di sektor energi dan transportasi tahun 2020. Sedangkan untuk target pengurangan emisi 2030 pada sektor energi program biodiesel saat ini telah berkontribusi 8,82%,” ujarnya.
Selain itu, implementasi B30 membuat Indonesia menghemat devisa dari impor migas hingga US$ 5 miliar sekitar Rp 70 triliun (kurs Rp 14.000).
Serapan Minyak Sawit, Berhitung Dampak Mandatori B30
Dua bulan lagi, mandatori biodiesel 30% (B30) akan diterapkan. Kebijakan itu diyakini akan meningkatkan serapan minyak kelapa sawit di pasar domestik dan mengerek harga komoditas itu di pasar global.
Saat ini, uji jalan atau road test B30 sudah rampung dikerjakan. Uji jalan yang berlangsung sejak pertengahan Juni 2019 lalu disebut minim catatan. Uji jalan B30 berjalan mulus tanpa hambatan. Kebijakan B20 sepanjang 2019 ini sudah menyerap minyak sawit mentah (CPO) lebih dari 4 juta ton.
Serapan CPO dalam negeri sendiri diproyeksikan akan meningkat pada 2020 mendatang seiring diberlakukannya mandatori B30. Diperkirakan akan ada tambahan serapan CPO domestik sebanyak 3 juta ton dari program ini sehingga konsumsi dalam negeri bertambah menjadi 9,4 juta ton.
Sebelumnya, DBS Group Research dalam penelitian terbaru berjudul "Indonesia Biodiesel: A Game Changer" menyatakan bahwa potensi tambahan serapan minyak sawit mentah CPO lewat program B30 maupun B50 diperkirakan mencapai 15 juta ton setiap tahunnya.
Biodiesel Dongkrak Konsumsi Domestik
Konsumsi panjang Januari-Agustus 2019 mencapai 11,7 juta ton atau melonjak 44% dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu. Lonjakan konsumsi terutama dipengaruhi oleh perluasan pemakaian minyak sawit untuk biodiesel.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat produksi minyak kelapa sawit Indonesia selama Januari sd Agustus 2019 mencapai 34, 7 juta ton (naik 14% pada periode yang sama di tahun 2018). Sekitar 11, 7 juta ton diserap konsumsi domestik dan 22,7 juta ton diekspor. Sementara volume ekspor selama kurun itu naik 3,8%. Kenaikan ekspor minyak kelapa sawit diduga terkait perang dagang AS dan China yang membuat kedelai AS tidak bisa masuk ke China.
Sementara itu, ekspor ke India cenderung turun dari 412.100 ton pada Juli 2019 menjadi 291.320 ton pada Agustus 2019. Tingginya bea masuk 44% untuk minyak sawit dan 54% untuk produk turunanya dinilai menjadi pemicu.
Pemerintah Pastikan Mandatori B30 Berlaku Mulai Januari 2020
Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa pelaksanaan wajib pengguanan biodiesel campuran 30% (B30) dimulai Januari 2020 atau sesuai jadwal awal. Meski sebelumnya pelaku usaha berharap pelaksanaan B30 dapat terlaksana akhir tahun ini. Kebijakan perluasan pemanfaatan sawit sebagai bahan bakar dengan B30 akan berdampak lebih luas, tidak hanya bagi perekonomian nasional tapi juga perbaikan kesejahteraan petani sawit. Bahkan pemerintah telah merencanakan tahapan selanjutnya. Apabila green biofuel sudah dapat diproduksi maka green diesel akan diolah sebagai bahan bakar nabati. "Dengan demikian lambat laun kita dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Sekaligus, mengantarkan kelapa sawit berjaya sebagai komoditas primadona Indonesia di pasar global," kata Darmin.
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









