Pariwisata
( 749 )Sertifikasi Halal membuat UMKM Naik Kelas
Ada banyak cara agar bisnis
pelaku UMKM naik kelas. Salah satunya lewat sertifikasi halal. Dengan label
itu, UMKM dapat memperluas pasarnya, menjaga kualitas, hingga menumbuhkan industri
halal di Indonesia. Bulan Ramadhan 2025 kali ini menjadi berkah bagi Nugraha
Ningsih, pemilik usaha kuliner Nugroho’s Kitchen. Hampir setiap hari ia
menerima permintaan konsumen, baik puding dan kue lapis untuk acara ulang
tahun, hamper Lebaran, ataupun hantaran pernikahan. Pekan ini saja ia memperoleh
sembilan pesanan. Lama, Jakarta. ”Masih banyak yang saya enggak tulis (di papan).
Hari ini saja pesanan full (penuh),” ucap Ningsih, Sabtu (29/3) di rumahnya di
Kebayoran. Banyaknya permintaan pelanggan tidak terlepas dari cita rasa
penganannya hingga label halal.
Sertifikat itu ia terima akhir
Februari lalu di Kantor Maybank Indonesia, Jakarta. Ia satu dari 1.500 UMKM di
sejumlah kota yang mengikuti pendampingan sertifikasi halal, program kolaborasi
Maybank Indonesia, Lembaga Pengembang UMKM Muhammadiyah, serta Lembaga Pengkajian
Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI, yang menyasar UMKM di Jakarta,
Surabaya dan Yogyakarta. ”Alhamdulillah, saya akhirnya punya sertifikat halal.
Selama ini, banyak yang menanyakan soal sertifikat ini. Dengan ini, saya dapat
banyak pesanan. Saya bahkan terima (pesanan) dari RS di Mampang (Jakarta)
selama bulan puasa setiap Rabu dan Kamis,” ungkapnya. (Yoga)
Lesunya BISNIS MUSIM LEBARAN
Turunnya jumlah orang yang
melakukan perjalanan di musim libur Lebaran 2025 berimplikasi langsung pada
sektor riil, mulai bisnis perhotelan hingga rental mobil. Tingkat hunian hotel
secara nasional pada Lebaran 2025 lebih rendah ketimbang periode sama tahun
sebelumnya. Rendahnya daya beli masyarakat serta pergeseran tren preferensi
akomodasi dan penginapan ditengarai jadi sebabnya. Dua hari menjelang Lebaran,
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyatakan, geliat berlibur masyarakat
pada Lebaran 2025 lebih lesu. Durasi menginap lebih singkat, tecermin dari
tingkat hunian atau okupansi hotel.
”Trennya, yang terjadi dari sisi
libur Lebaran ini, kelihatannya peak (puncak) itu rata-rata hanya sampai Lebaran
hari ketiga. Setelah itu, langsung turun okupansinya (hotel),” ujar Ketua Umum
PHRI Hariyadi Sukamdani, Sabtu (29/3).Saat musim puncak, durasi menginap pelaku
perjalanan bergantung daya beli. Ketika memiliki cukup uang, mereka akan
tinggal lebih lama. Demikian pula sebaliknya. ”Kalau liburan, apalagi dengan
keluarga, bawa anak, lumayan banyak pengeluarannya. Kalau enggak punya uang
cukup, pasti akan memperpendek (masa berlibur),” katanya.
Dalam rentang Senin hingga Kamis
(31/3-3/4), tingkat hunian hotel masih berkisar 70-80 %, selanjutnya, menurun
perlahan. Hanya Yogyakarta, tingkat hunian hotelnya bertahan lebih lama, hingga
Minggu (6/4), khususnya hotel-hotel di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta. Turunnya
permintaan juga dialami bisnis rental atau persewaan mobil pada masa libur
Lebaran 2025. Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengusaha Rental
Mobil Daerah Indonesia, Erwin Suryana, berkata, lesunya sektor pariwisata dan
berkurangnya minat warga untuk mudik memengaruhi bisnis rental mobil.
Bahkan, pada H+2, H+3, diperkirakan
kondisi rental mobil masih lesu. Daya beli masyarakat dan lesunya ekonomi
menjadi faktor rendahnya minat warga mengeluarkan uang di masa liburan.
”Situasi daya beli dan kelesuan ekonomi saat ini hingga setelah Lebaran belum
terlihat ada tren positif, sejalan dengan tren wisata terhadap tingkat hunian
hotel dan penyewaan mobil. Kelesuan ekonomi yang menjadi inti pokoknya,” ujarnya.
Menurut Erwin, omzet sewa mobil turun berkisar 40-50 %. Penurunan omzet tahun
ini paling parah dan tidak pernah dialami sebelumnya oleh pelaku usaha di masa
liburan. (Yoga)
Susahnya Mencari Penjual Makanan Saat Musim Liburan
Bagus Gigih (30) memulai sifnya
Rabu (2/4) pagi sebagai tenaga pengamanan bank di kawasan Thamrin, Jakpus,
dengan perut keroncongan. Ia baru sampai dari kampung halamannya, Tegal, Jateng.
Syukurlah ada lapak gado-gado milik Isa (54), hanya beberapa langkah dari
kantor. Bagus pernah merasakan sulitnya mencari penjual makanan saat libur
Lebaran, waktu bertugas di luar Jakarta, tidak mudah menemukan penjual makanan
saat libur seperti sekarang. Mayoritas pedagang masih mudik sehingga dirinya
mesti berburu hingga ke ujung jalan. Isa selalu berjualan makanan setiap libur
Lebaran dari pagi hingga malam di kawasan Thamrin. Ia menjadi tumpuan harapan
puluhan warga mulai dari penghuni kos, pekerja, hingga pelintas yang berburu
makanan sejak pagi. Namun, warga harus siap merogoh kocek lebih dalam. Sebab,
harga sepiring gado-gado dinaikkan karena bahan baku lebih mahal di masa
Lebaran.
Sepiring gado-gado yang pada hari
biasa dijual Rp 18.000 per porsi, saat Lebaran harus ditebus Rp 20.000 per
porsi. Lain lagi, Miftahudin (23) pekerja jasa pembersih rumah di Serpong,
Tangsel, Banten, harus berkeliling ke berbagai ujung jalan hingga 1 jam demi menemukan
warung makan yang buka. Padahal, perutnya sudah kosong sejak bangun pagi karena
belum sempat sarapan akibat menerima orderan di pagi hari. Ditengah masih
sepinya aktivitas usaha makanan pada libur Lebaran, berkah justru datang bagi
mereka yang memilih tetap berjualan. Rindu yang tertahan karena tak pulang
terbayarkan dengan rezeki dari dagangan. Keberadaan para pedagang makanan saat
libur Lebaran bagaikan ”pemadam kelaparan”. Mereka tak sekadar mencari rezeki
di tengah peluang minimnya pedagang, tetapi juga penolong agar perut warga tak
lagi keroncongan. (Yoga)
Mencari PRT Infal atau Mengurus Rumah Sendiri
Liburan Lebaran menjadi momen
yang dinanti pekerja rumah tangga atau PRT yang bekerja di kota-kota besar,
terutama di Jakarta dan sekitarnya. Selama sepekan hingga dua pekan, mereka
akan pulang kampung. Majikan mereka harus menyiasati bagaimana mengurus rumah
selama ditinggal mudik PRT. Biasanya, keluarga yang tak biasa mengurus rumah
akan mencari PRT infal atau pengganti yang bekerja sementara di rumah tangga
yang PRT-nya mudik hari raya. Ada juga yang memilih pergi berlibur dan baru pulang
saat PRT kembali dari mudik. Namun, ada juga keluarga yang lalu mengerjakan bersama-sama
alias bergotong royong mengurus rumah selama PRT mudik.
Bagi pasangan Brian (49) dan
Melly (49) yang tinggal di Rawamangun, Jakarta, ditinggal PRT pulang kampung
saat Lebaran sudah biasa. Seperti Lebaran 2025 ini. PRT izin mudik Lebaran selama
10 hari, Kamis (27/3) hingga Sabtu (5/4). Untuk itu, Melly dan Brian yang memiliki
seorang putri berusia 11 tahun berbagi tugas dalam urusan rumah tangga. ”Saat
PRT pulang kampung, saya ekstra bangun pagi, membuat sarapan, walau seadanya,”
ucap Melly, Selasa (1/4). Menu makanan pun menyesuaikan, tidak banyak variannya,
yang penting ada makanan tersaji. Kadang makan di luar rumah atau pesan lewat daring.
Ia belanja persediaan bahan makanan sebelum Lebaran tiba. ”Yang bagian-bagian
basah saya, masak, nyuci, dan sebagainya. Suami nyapu atau beresin tempat tidur
dan bersihin rumah,” tutur Melly.
Beberapa PRT malah memilih tetap
bekerja, bahkan mengajukan diri sebagai PRT infal atau pengganti yang bekerja
sementara di salah satu rumah tangga yang PRT-nya mudik Lebaran. Ayu (47) PRT asal
Jatim, memilih berlebaran di Jakarta bersama anaknya yang kini tengah kuliah. Saat
Lebaran, Ayu, yang bekerja di rumah warga asing yang tinggal dan bekerja di
Indonesia, selalu mendapat jatah libur hari raya. Waktu libur tersebut justru
digunakan untuk bekerja sebagai PRT infal di salah satu keluarga, yang beberapa
tahun terakhir selalu memintanya jadi PRT infal. Di rumah keluarga dengan dua
anak itu, untuk pekerjaan 11 hari, Ayu mendapat upah Rp 250.000 per hari. (Yoga)
Berlibur Cukup dengan Seratus Ribu
Dari penurunan daya beli masyarakat hingga menyusutnya
jumlah pemudik mewarnai arus mudik Lebaran 2025. Wisata terjangkau dalam kota menjadi
pilihan pertama dan satu-satunya bagi warga yang tidak pulang kampong, sebagai
obat melawan penat untuk menghabiskan libur hampir sepekan. Kuncinya adalah
memilih destinasi dan strategi yang tepat. Selembar uang seratus ribu rupiah
bahkan bisa membawa rombongan keluarga berekreasi di Jakarta. Eri (38) warga
Pejaten, Jaksel, pada Selasa (1/4) menyiapkan dana Rp 200.000 untuk berwisata
bersama istri dan anak semata wayangnya yang masih berusia 16 bulan ke kawasan
Kota Tua dan Kebun Binatang Ragunan.
Sebagai pekerja swasta dengan status kontrak harian, dia tak
bisa liburan bermewah-mewah. Kedua destinasi itu dipilih karena bisa diakses menggunakan
transportasi publik, seperti bus Transjakarta. Tempat rekreasi lain yang
menjadi primadona murah meriah di Jakarta pada masa libur Lebaran adalah
kawasan Monas. Lokasinya yang berada di pusat kota memudahkan akses transportasi
umum. Pasangan suami-istri Beng (40) dan Nana (40) berekreasi ke Monas menggunakan
transportasi umum bersama kedua anaknya yang berusia 13 tahun dan 5 tahun dari Cibinong,
Kabupaten Bogor, Jabar.
Sekali jalan untuk satu orang dari Cibinong ke Monas hanya
membutuhkan biaya Rp 8.500 untuk membayar ongkos naik kereta rel listrik (KRL) Cibinong-Juanda
Rp 5.000 dan Rp 3.500 untuk bus Transjakarta Juanda–Monas. Pergi-pulang, total
sekeluarga beranggotakan empat orang membutuhkan dana Rp 68.000. Tiket masuk
kawasan Monas tidak dipungut biaya. Namun, jika ingin lanjut masuk ke puncak
Monas, harga tiket untuk orang dewasa dipatok Rp 24.000, sedangkan untuk anak-anak
Rp 6.000. ”Daripada mudik ke Yogyakarta. Harga tiket bus ke Yogyakarta satu
kursi Rp 650.000 sekali jalan,” katanya. Tempat populer lain yang banyak
didatangi warga Jabodetabek pada hari kedua Lebaran 2025 adalah kawasan
Bundaran HI, terutama di area anjungan (skydeck).
Taufan (37) dan Desi (37), warga Cilegon, Banten, memilih
berfoto bersama kedua anak mereka di anjungan ini sebagai bagian dari rencana
perjalanan pertama selama berlibur dua hari semalam di Jakarta. ”Ketika
Lebaran, Jakarta sepi. Jadi, kami ingin menikmati fasilitas-fasilitas umum
Jakarta yang bagus ketika sepi seperti ini. Bagus, bisa lihat gedung-gedung
tinggi,” kata Taufan. Cukup dengan selembar uang seratus ribu, masyarakat dapat
berkeliling Jakarta. Kalau tak punya, coba saja pakai jurus andalan ”Pinjam
dulu seratus”. (Yoga)
Berlibur Cukup dengan Seratus Ribu
Dari penurunan daya beli masyarakat hingga menyusutnya
jumlah pemudik mewarnai arus mudik Lebaran 2025. Wisata terjangkau dalam kota menjadi
pilihan pertama dan satu-satunya bagi warga yang tidak pulang kampong, sebagai
obat melawan penat untuk menghabiskan libur hampir sepekan. Kuncinya adalah
memilih destinasi dan strategi yang tepat. Selembar uang seratus ribu rupiah
bahkan bisa membawa rombongan keluarga berekreasi di Jakarta. Eri (38) warga
Pejaten, Jaksel, pada Selasa (1/4) menyiapkan dana Rp 200.000 untuk berwisata
bersama istri dan anak semata wayangnya yang masih berusia 16 bulan ke kawasan
Kota Tua dan Kebun Binatang Ragunan.
Sebagai pekerja swasta dengan status kontrak harian, dia tak
bisa liburan bermewah-mewah. Kedua destinasi itu dipilih karena bisa diakses menggunakan
transportasi publik, seperti bus Transjakarta. Tempat rekreasi lain yang
menjadi primadona murah meriah di Jakarta pada masa libur Lebaran adalah
kawasan Monas. Lokasinya yang berada di pusat kota memudahkan akses transportasi
umum. Pasangan suami-istri Beng (40) dan Nana (40) berekreasi ke Monas menggunakan
transportasi umum bersama kedua anaknya yang berusia 13 tahun dan 5 tahun dari Cibinong,
Kabupaten Bogor, Jabar.
Sekali jalan untuk satu orang dari Cibinong ke Monas hanya
membutuhkan biaya Rp 8.500 untuk membayar ongkos naik kereta rel listrik (KRL) Cibinong-Juanda
Rp 5.000 dan Rp 3.500 untuk bus Transjakarta Juanda–Monas. Pergi-pulang, total
sekeluarga beranggotakan empat orang membutuhkan dana Rp 68.000. Tiket masuk
kawasan Monas tidak dipungut biaya. Namun, jika ingin lanjut masuk ke puncak
Monas, harga tiket untuk orang dewasa dipatok Rp 24.000, sedangkan untuk anak-anak
Rp 6.000. ”Daripada mudik ke Yogyakarta. Harga tiket bus ke Yogyakarta satu
kursi Rp 650.000 sekali jalan,” katanya. Tempat populer lain yang banyak
didatangi warga Jabodetabek pada hari kedua Lebaran 2025 adalah kawasan
Bundaran HI, terutama di area anjungan (skydeck).
Taufan (37) dan Desi (37), warga Cilegon, Banten, memilih
berfoto bersama kedua anak mereka di anjungan ini sebagai bagian dari rencana
perjalanan pertama selama berlibur dua hari semalam di Jakarta. ”Ketika
Lebaran, Jakarta sepi. Jadi, kami ingin menikmati fasilitas-fasilitas umum
Jakarta yang bagus ketika sepi seperti ini. Bagus, bisa lihat gedung-gedung
tinggi,” kata Taufan. Cukup dengan selembar uang seratus ribu, masyarakat dapat
berkeliling Jakarta. Kalau tak punya, coba saja pakai jurus andalan ”Pinjam
dulu seratus”. (Yoga)
Berlibur Cukup dengan Seratus Ribu
Dari penurunan daya beli masyarakat hingga menyusutnya
jumlah pemudik mewarnai arus mudik Lebaran 2025. Wisata terjangkau dalam kota menjadi
pilihan pertama dan satu-satunya bagi warga yang tidak pulang kampong, sebagai
obat melawan penat untuk menghabiskan libur hampir sepekan. Kuncinya adalah
memilih destinasi dan strategi yang tepat. Selembar uang seratus ribu rupiah
bahkan bisa membawa rombongan keluarga berekreasi di Jakarta. Eri (38) warga
Pejaten, Jaksel, pada Selasa (1/4) menyiapkan dana Rp 200.000 untuk berwisata
bersama istri dan anak semata wayangnya yang masih berusia 16 bulan ke kawasan
Kota Tua dan Kebun Binatang Ragunan.
Sebagai pekerja swasta dengan status kontrak harian, dia tak
bisa liburan bermewah-mewah. Kedua destinasi itu dipilih karena bisa diakses menggunakan
transportasi publik, seperti bus Transjakarta. Tempat rekreasi lain yang
menjadi primadona murah meriah di Jakarta pada masa libur Lebaran adalah
kawasan Monas. Lokasinya yang berada di pusat kota memudahkan akses transportasi
umum. Pasangan suami-istri Beng (40) dan Nana (40) berekreasi ke Monas menggunakan
transportasi umum bersama kedua anaknya yang berusia 13 tahun dan 5 tahun dari Cibinong,
Kabupaten Bogor, Jabar.
Sekali jalan untuk satu orang dari Cibinong ke Monas hanya
membutuhkan biaya Rp 8.500 untuk membayar ongkos naik kereta rel listrik (KRL) Cibinong-Juanda
Rp 5.000 dan Rp 3.500 untuk bus Transjakarta Juanda–Monas. Pergi-pulang, total
sekeluarga beranggotakan empat orang membutuhkan dana Rp 68.000. Tiket masuk
kawasan Monas tidak dipungut biaya. Namun, jika ingin lanjut masuk ke puncak
Monas, harga tiket untuk orang dewasa dipatok Rp 24.000, sedangkan untuk anak-anak
Rp 6.000. ”Daripada mudik ke Yogyakarta. Harga tiket bus ke Yogyakarta satu
kursi Rp 650.000 sekali jalan,” katanya. Tempat populer lain yang banyak
didatangi warga Jabodetabek pada hari kedua Lebaran 2025 adalah kawasan
Bundaran HI, terutama di area anjungan (skydeck).
Taufan (37) dan Desi (37), warga Cilegon, Banten, memilih
berfoto bersama kedua anak mereka di anjungan ini sebagai bagian dari rencana
perjalanan pertama selama berlibur dua hari semalam di Jakarta. ”Ketika
Lebaran, Jakarta sepi. Jadi, kami ingin menikmati fasilitas-fasilitas umum
Jakarta yang bagus ketika sepi seperti ini. Bagus, bisa lihat gedung-gedung
tinggi,” kata Taufan. Cukup dengan selembar uang seratus ribu, masyarakat dapat
berkeliling Jakarta. Kalau tak punya, coba saja pakai jurus andalan ”Pinjam
dulu seratus”. (Yoga)
Kian Melemahnya Magnet Jakarta bagi Pendatang
Jakarta tak
lagi menjadi magnet yang menarik bagi pendatang. Jumlah pendatang setelah Lebaran
2025 diperkirakan lebih kecil ketimbang tahun sebelumnya. Aturan administrasi ketat,
kemajuan teknologi, hingga perubahan gaya hidup diduga melatarbelakanginya. Berdasarkan
data Disdukcapil Jakarta, jumlah pendatang seusai Lebaran 2025 diperkirakan 10.000-15.000
orang. Jumlah itu lebih kecil ketimbang tahun 2024 yang sebanyak 16.207 orang
dan tahun 2023 sebanyak 25.931 orang. Arini (28), perantau asal Surabaya, Jatim,
yang sudah tinggal dua tahun di Jakarta, mengatakan, biaya hidup di Jakarta
sangat mahal. Jika hanya bergaji UMR, mau tidak mau harus berhemat. ”Belum lagi
biaya untuk mudik dan lain-lain. Kos layak di Jakarta saja harganya bisa sepertiga
dari gaji,” ujar Arini, Minggu (23/3).
Menurut
Arini, dengan gaji UMR di kota lain, warga kemungkinan masih bisa menabung.
Sementara gaji UMR di Jakarta butuh perhitungan tepat dan gaya hidup yang tidak
sembarangan untuk menabung. ”Jika bisa mengulang waktu, mending cari kerja di Surabaya.
Tidak ada biaya mudik,” ucapnya. Ika Vandari (26), karyawan di Jakarta,
berpendapat, magnet Jakarta untuk mencari pekerjaan kian memudar. Saat ini,
banyak orang yang lebih menginginkan kerja jarak jauh atau WFH (work from home).
”Saya juga sebenarnya ingin beralih WFH. Kemajuan teknologi mendorong banyak orang
untuk bisa bekerja lebih fleksibel tanpa meninggalkan kota asal,” kata Ika,
yang baru tinggal di Jakarta satu tahun.
Pengamat
tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, menilai, Jakarta sudah tidak lagi menarik bagi pendatang.
Salah satu alasannya, kemajuan teknologi. Dia mencontohkan, masyarakat bisa
berjualan daring di lokapasar atau menjadi pengendara ojek daring di daerah
asal. ”Ini yang membuat kesempatan kerja di daerah menjadi sama tanpa harus ke
Jakarta,” katanya. ”Daya tarik Jakarta bagi kaum urbanis baru itu sudah tidak
menarik seperti dulu lagi. Kota-kota, seperti Bekasi dan Tangerang, itu tumbuh sebagai
kota tujuan pendatang baru dengan aturan yang lebih fleksibel dibandingkan
Jakarta,” ujar Yayat. (Yoga)
KJP Plus Tahap I Tahun 2025 Diterima Siswa Jakarta
Pemprov Jakarta mencairkan dana
bantuan sosial Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus tahap I tahun 2025 dengan jumlah
penerima 707.622 orang atau bertambah 126.000 penerima disbanding tahun lalu.
Penerima bantuan KJP Plus juga digratiskan masuk ke sejumlah obyek wisata di
Jakarta, seperti Taman Mini Indonesia Indah dan Ancol. Hari ini secara resmi
KJP Plus dicairkan. Ada penambahan 126.000 penerima,” ujar Gubernur Jakarta
Pramono Anung, Kamis (20/3). Pemprov Jakarta mencairkan dana bansos tahap I
tahun 2025 dengan jumlah penerima sebanyak 707.622 siswa untuk periode Januari,
Februari, dan Maret 2025. Jumlah penerima ini berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan
Sosial (DTKS) dan data Dinas Pendidikan Jakarta yang sudah dipadankan.
Anggaran untuk KJP Plus senilai Rp 3,2
triliun dari semulaRp 2,5 triliun pada tahun 2024. ”Tahap II tahun 2024 jumlah penerima
KJP Plus sebanyak 523.000 orang dengan anggaran Rp 2,5 triliun. Sekarang pada
tahap I tahun 2025 menjadi 707.622 penerima dengan anggaran Rp 3,2 triliun,” ucap
Pramono. Pramono mengatakan, penerima KJP Plus tidak hanya gratis masuk TMII,
tetapi juga gratis masuk ke Ragunan, Ancol, Monas, serta sejumlah museum di
Jakarta. Hal ini jadi pemenuhan salah satu janji politiknya selain terkait
penyaluran dana bantuan sosial untuk pendidikan. ”Ini memang sesuai dengan apa
yang menjadi perhatian saya dan Bang Doel. Kami mengejar kalau bisa 100 hari terselesaikan,
ternyata bisa diselesaikan lebih cepat,” tutur Pramono. (Yoga)
Alarm Darurat dari Pariwisata di Danau Toba
Banjir bandang merusak jantung
pariwisata Danau Toba di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumut. Sudah lima hari
aktivitas pariwisata lumpuh. Bencana ekologis itu disebabkan kerusakan hutan di
hulu Danau Toba. Banjir bandang menghantam destinasi wisata, hotel, restoran,
rumah sakit, permukiman warga, dan sempat membuat jalan nasional lumpuh total.
Hingga Kamis (20/3) kawasan pariwisata Parapat masih lumpuh. Rumah makan, restoran
dan hotel belum beoperasi. Masyarakat masih sibuk membersihkan material lumpur
di dalam rumah. Jaringan Advokasi Masyarakat Sipil Sumut (Jamsu) menelusuri
penyebab banjir bandang. Jamsu, antara lain, terdiri dari Kelompok Studi dan
Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
(AMAN) Tano Batak, dan Auriga Nusantara.
”Hasil penelusuran kami, banjir
bandang disebabkan hilangnya 6.148 hektar hutan alam di hulu Parapat,” kata
Direktur Eksekutif KSPPM, Rocky Pasaribu. Banjir bandang dan longsor melanda
kawasan pariwisata Parapat, Minggu (16/3) malam. Rocky menyebut, banjir bandang
yang menghantam jantung pariwisata Danau Toba merupakan alarm darurat yang memperingatkan
kerusakan lingkungan hidup yang masif. Berdasarkan
analisis spasial dan penelitian di lapangan, kata Rocky, dalam kurun waktu 20
tahun terakhir terjadi pembukaan hutan yang signifikan di lima kecamatan
sekitar Parapat, yang merupakan lanskap Daerah Aliran Sungai (DAS) Bolon
Simalungun.
”Jika diakumulasi sejak 2000 hingga 2023,
kawasan ini telah kehilangan hutan alam seluas 6.148 hektar. Perubahan ini
sangat berpengaruh terhadap daya tampung air hujan dan stabilitas tanah yang
akhirnya menyebabkan bencana ekologis banjir bandang,” ungkap Rocky. Koordinator
Jamsu, Juniati Aritonang menyebut, pemerintah harus melakukan mitigasi bencana
ekologis dalam jangka pendek dan panjang. Hal yang mendesak dilakukan adalah evaluasi
tata ruang kawasan Danau Toba, terutama di wilayah rawan bencana. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023







