;

Mengatasi Hambatan Demi Investasi yang Lebih Kuat

Hairul Rizal 12 Feb 2025 Bisnis Indonesia

Riset Capgemini menunjukkan bahwa separuh pemimpin bisnis global berencana untuk meningkatkan investasi mereka pada tahun ini, sementara sebagian lainnya memilih untuk mempertahankan atau memangkas investasi mereka. Fokus utama mereka adalah pada pertumbuhan pendapatan, dengan pemanfaatan sumber daya yang ada dan automasi dalam produksi. Riset tersebut melibatkan 2.500 pemimpin bisnis dari 17 negara yang berasal dari berbagai sektor industri.

Pergeseran lokasi investasi dan produksi juga menjadi perhatian, di mana banyak perusahaan memilih merelokasi pusat produksi dan logistik ke negara-negara seperti India, Thailand, Vietnam, dan Meksiko. Meskipun Indonesia berpotensi menjadi pilihan investasi, negara ini tidak menjadi tujuan utama, karena negara-negara seperti Singapura, Thailand, dan Vietnam lebih menarik bagi para pemimpin bisnis global.

Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menarik investasi melalui kebijakan ramah investasi, tetapi tantangan terkait penegakan hukum dan keamanan masih menjadi hambatan. Meskipun Indonesia berhasil mencapai target investasi pada 2024, tantangan besar masih ada untuk mencapai target investasi yang lebih tinggi pada 2025.


Ancaman Tarif Trump: Ekonomi Thailand & India Bisa Terdampak

Hairul Rizal 12 Feb 2025 Bisnis Indonesia

Sejumlah ekonom dari bank global, termasuk Morgan Stanley dan Nomura Holdings Inc., mengidentifikasi India dan Thailand sebagai negara-negara yang paling rentan terhadap risiko tarif timbal balik yang dapat dikenakan oleh Presiden AS Donald Trump. Hal ini disebabkan karena tarif yang dikenakan oleh kedua negara tersebut terhadap barang-barang AS lebih tinggi dibandingkan dengan tarif AS terhadap mereka. Sonal Varma, analis dari Nomura, menjelaskan bahwa negara-negara berkembang di Asia, termasuk India dan Thailand, berisiko menghadapi tarif yang lebih tinggi.

Trump baru-baru ini mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif timbal balik untuk memastikan AS diperlakukan setara dalam perdagangan internasional, termasuk kemungkinan tarif terhadap barang-barang seperti mobil, semikonduktor, dan produk farmasi. Ekonomi negara-negara Asia yang bergantung pada ekspor, seperti India dan Thailand, diperkirakan akan merasakan dampak besar jika kebijakan ini diterapkan, dengan tarif yang lebih tinggi kemungkinan dikenakan pada produk tertentu, seperti mobil dan produk pertanian.

Di sisi lain, Perdana Menteri India, Narendra Modi, telah memberikan sejumlah konsesi kepada AS sebagai respon terhadap ancaman tarif ini, termasuk mengurangi bea masuk atas impor barang tertentu. Sementara itu, Thailand juga berencana meningkatkan pembelian produk dari AS untuk mengurangi risiko pembalasan.

Secara keseluruhan, kebijakan tarif yang lebih agresif dari Trump dapat meningkatkan ketegangan perdagangan internasional, dan negara-negara Asia seperti India dan Thailand berusaha melakukan negosiasi untuk mengurangi dampak negatifnya.


BTN Optimistis Aset Menembus Rp500 Triliun pada 2025

Hairul Rizal 12 Feb 2025 Bisnis Indonesia

PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk (BTN) optimistis aset perseroan akan mencapai Rp500 triliun pada akhir 2025. Pada 2024, BTN mencatatkan aset sebesar Rp469,61 triliun, tumbuh 7% dibandingkan tahun sebelumnya. Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut didorong oleh penyaluran kredit yang solid, terutama pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR), baik subsidi maupun non-subsidi. Selain itu, BTN juga berhasil membukukan pertumbuhan signifikan pada dana pihak ketiga (DPK), khususnya dari tabungan dan giro.

BTN terus fokus pada digitalisasi, dengan jumlah pengguna aplikasi mobile BTN yang meningkat tajam pada 2024, serta mempertahankan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang sehat. Pada sektor BTN Syariah, laba bersih dan aset juga mengalami pertumbuhan yang signifikan, mendukung optimisme perseroan dalam mencapai target yang lebih tinggi pada tahun-tahun mendatang.

Nixon LP Napitupulu menekankan bahwa strategi ini sejalan dengan komitmen BTN dalam mendukung Program Tiga Juta Rumah yang digagas pemerintah, serta upaya untuk meningkatkan layanan dan inovasi produk perbankan secara berkelanjutan.


'Perisai Ganda' Danantara dalam Strategi Bisnis

Hairul Rizal 12 Feb 2025 Bisnis Indonesia

Draf RUU Perubahan Ketiga UU No. 19/2003 tentang BUMN, pengurus dan pegawai Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dapat terbebas dari pertanggungjawaban hukum atas kerugian yang terjadi pada badan tersebut jika dapat membuktikan empat poin utama: tidak ada kesalahan atau kelalaian, pengelolaan dilakukan dengan itikad baik dan kehati-hatian, tidak ada benturan kepentingan, dan tidak ada kepentingan pribadi yang diperoleh secara tidak sah. Ketentuan serupa juga berlaku bagi direksi dan dewan pengawas BUMN lainnya yang dapat membuktikan bahwa kerugian bukan akibat kesalahan mereka dan bahwa mereka telah menjalankan pengelolaan dengan penuh kehati-hatian sesuai tujuan dan tata kelola.

Sementara itu, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyatakan bahwa pemerintah membutuhkan waktu sekitar sebulan untuk menyusun organisasi Danantara, dengan sektor-sektor investasi seperti pangan, perumahan, dan energi menjadi fokus utama. Kepala BPI Danantara, Muliaman D. Hadad, juga menambahkan bahwa sejumlah peraturan teknis terkait pembentukan BPI Danantara belum selesai.


Hati-Hati Pangkas Anggaran, Jangan Sampai Ekonomi Melemah

Hairul Rizal 12 Feb 2025 Kontan (H)
Rencana pemerintah memangkas anggaran sebesar Rp 306,70 triliun demi efisiensi menuai kekhawatiran karena berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut bahwa anggaran besar diperlukan untuk renovasi sekolah dan pembangunan sekolah unggulan, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, belum ada kepastian apakah dana efisiensi ini juga akan dialokasikan untuk sektor tersebut.

Sebagian besar anggaran yang dipangkas, yakni Rp 100 triliun, akan digunakan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), sementara sekitar Rp 200 triliun dialokasikan untuk hilirisasi pertanian. Kebijakan ini mendapat sorotan dari Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco, yang meminta penundaan pembahasan anggaran Kementerian dan Lembaga (K/L) 2025 karena adanya rekonstruksi anggaran.

Menurut Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, penghematan besar ini justru bisa berdampak negatif lebih besar dibandingkan efek positif dari program MBG. Ia memperingatkan bahwa daya beli masyarakat bisa melemah dan pertumbuhan ekonomi 2025 berpotensi lebih rendah dibanding 2024. Ambisi Presiden Prabowo untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029 pun semakin sulit terwujud. Wijayanto menilai efisiensi anggaran ini perlu dikaji ulang, terutama agar tidak memicu PHK massal yang bisa menimbulkan ketidakstabilan ekonomi dan sosial.

Sementara itu, Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, menyetujui efisiensi anggaran, tetapi menekankan pentingnya selektivitas dalam pemangkasan. Ia mengusulkan penghapusan jabatan wakil menteri, staf khusus, dan tenaga ahli yang tidak esensial sebagai bentuk efisiensi lain yang lebih tepat sasaran.

Pemangkasan anggaran dalam skala besar ini masih menjadi perdebatan. Pemerintah perlu mempertimbangkan efeknya secara lebih mendalam agar tidak menghambat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Negara-Negara Asia Jadi Sasaran Tarif Baru AS

Hairul Rizal 12 Feb 2025 Kontan
Ekonom global memperkirakan India dan Thailand akan menjadi target tarif berikutnya dari Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump, seiring ambisinya untuk mengurangi perbedaan tarif perdagangan. Analis Nomura, Sonal Varma, menilai negara-negara Asia yang mengenakan tarif tinggi pada ekspor AS berisiko menghadapi tarif balasan yang lebih besar, sehingga negosiasi dengan Trump menjadi penting untuk melindungi perekonomian kawasan.

Menurut ekonom Bloomberg Maeva Cousin dan ekonom Deutsche Bank George Saravelos, India memiliki potensi risiko tinggi karena tarif rata-ratanya terhadap barang AS 10% lebih tinggi dibandingkan tarif AS pada barang India. Sementara itu, Chetan Ahya dari Morgan Stanley menghitung bahwa India dan Thailand bisa menghadapi kenaikan tarif 4%-6%, meskipun langkah-langkah seperti peningkatan pembelian produk AS, termasuk energi dan pertahanan, bisa menjadi alat negosiasi yang efektif.

Ahya juga memperingatkan bahwa kebijakan tarif Trump kali ini tampak lebih agresif dibandingkan perang dagang AS-China pada 2018-2019, sehingga ketegangan perdagangan global bisa semakin meluas. Namun, rincian kebijakan tarif ini masih bergantung pada keputusan Trump selanjutnya.

Dengan demikian, negara-negara Asia harus bersiap menghadapi potensi lonjakan tarif AS, sembari memperkuat strategi diplomasi ekonomi untuk memitigasi dampak negatif terhadap perdagangan dan pertumbuhan ekonomi mereka.

Konsumen Mulai Cemas Soal Ketersediaan Lapangan Kerja

Hairul Rizal 12 Feb 2025 Kontan
Optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi menurun pada awal 2025, terutama karena kekhawatiran terhadap ketersediaan lapangan kerja. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat di 127,2, turun 0,5 poin dari Desember 2024. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) juga mengalami penurunan, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru meningkat, menunjukkan harapan ekonomi di masa depan masih ada.

Salah satu faktor utama turunnya optimisme adalah PHK yang meningkat, di mana 77.965 orang kehilangan pekerjaan pada 2024, lebih tinggi dari 2023. Kekhawatiran semakin besar akibat efisiensi anggaran pemerintah, yang menyebabkan PHK di beberapa lembaga penyiaran seperti TVRI dan RRI, serta potensi pemutusan tenaga honorer di berbagai instansi. Akibatnya, masyarakat mulai mengurangi konsumsi dan tabungan, dengan proporsi pendapatan untuk konsumsi turun menjadi 73,6%, dan untuk menabung turun menjadi 15,3%.

Meski begitu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa keyakinan konsumen terhadap ekonomi masih kuat. Namun, kajian Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menunjukkan bahwa 90% lebih warganet di media sosial mengkhawatirkan PHK massal. Direktur Pengembangan Big Data Indef, Eko Listiyanto, menilai sulit bagi ekonomi tumbuh lebih tinggi jika lapangan kerja terus menyusut. Menurutnya, pemerintah perlu menciptakan lapangan kerja, baik melalui APBN maupun investasi, serta didukung dengan kebijakan suku bunga rendah.

Sementara itu, Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menambahkan bahwa penurunan optimisme konsumen juga dipengaruhi oleh faktor musiman. Pada akhir tahun, biasanya lapangan pekerjaan lebih banyak tersedia karena meningkatnya permintaan tenaga kerja selama liburan.

Dengan kondisi ini, diperlukan langkah nyata dari pemerintah untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan, terutama dengan menciptakan kesempatan kerja baru agar daya beli masyarakat tidak terus melemah.

Hantaman Palu Godam Tarif Trump

Yoga 12 Feb 2025 Kompas (H)
Tarif Trump Kawan dan lawan terimbas. Tarif menjadi ciri khas kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejak dilantik. Berbagai negara mencari siasat untuk lolos dari imbas kebijakan tanpa pandang bulu itu. Kebijakan terbaru Trump diberlakukan untuk semua impor baja dan aluminium. Pada Senin (10/2/2025) waktu Washington DC atau Selasa pagi WIB, Trump mengumumkan kebijakan yang menyasar kawan dan lawan AS itu. ”Kita dihantam teman dan lawan dalam hal ini. Sekarang waktunya mengembalikan kejayaan industri Amerika Serikat,” kata Trump. Cuma Australia yang mungkin selamat dari kebijakan itu. ”Di dalam neraca perdagangan AS-Australia, AS surplus sehingga kita tak perlu memberi mereka tarif,” kata Trump Duta Bisnis Australia untuk Indonesia Jennifer Westacott mengatakan, RI-Australia perlu bekerja sama menghadapi perkembangan ini. ”Kunci menghadapi ancaman penjatuhan tarif impor oleh Trump ialah kemampuan bernegosiasi dengannya. Pada masa jabatan Trump sebelumnya (2017-2021), Indonesia dan Australia bisa melakukannya,” ujarnya.

Terlepas dari kemampuan bernegosiasi dengan Trump, Westacott menekankan pentingnya meningkatkan kerja sama ekonomi dan investasi dua arah Indonesia dan Australia. Keragaman sektor investasi akan memajukan perekonomian kedua negara dan memperkuat ketahanan pembangunan. Para pengamat ekonomi mengkritik kebijakan Trump. Sebab, ia menggunakan tarif sebagai satu senjata untuk menyelesaikan semua persoalan. Apabila mengamati perkembangan soal tarif ini, terlihat setidaknya ada tiga kegunaan tarif oleh Trump. Pertama, ia memakainya sebagai senjata politik untuk menekan. Ini  terlihat dari tarif yang dijatuhkan kepada Kanada dan Meksiko, tetangga langsung AS yang terikat perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara. Penjatuhan tarif ini kemudian ditangguhkan 30 hari menyusul perundingan terpisah dengan Kanada dan Meksiko. 

Intinya, Trump menginginkan Kanada dan Meksiko meningkatkan pengawasan di perbatasan masing-masing dengan AS guna mencegah penyelundupan imigran gelap dan narkoba jenis fentanil. Kegunaan kedua ialah sebagai penutup defisit neraca perdagangan AS. Trump selalu mengeluhkan bahwa AS terlalu banyak mengimpor barang dari luar negeri. Sebaliknya, terlalu sedikit barang AS yang diekspor. Ada pula negara-negara yang menetapkan tarif impor produk AS lebih tinggi dibandingkan dengan tarif di AS. Contohnya ialah Uni Eropa. Blok ini menetapkan tarif 10 persen untuk kendaraan yang diimpor dari AS. Sebaliknya, AS hanya menetapkan tarif 2,5 persen untuk mobil-mobil Eropa yang masuk ke ”Negara Paman Sam”. Walhasil, Trump mengharapkan dari pemberian tarif balasan ini AS bisa menutupi kekurangan pemasukan ekspor. Tujuan ketiga ialah melindungi komoditas tertentu yang dianggap strategis oleh AS. Trump mendorong, terkait komoditas yang mencakup baja dan aluminium, agar perusahaan-perusahaan asing memilih berinvestasi di AS. (Yoga)

Menkeu Berjanji Akan Perbaiki Sistem Coretax

Yoga 12 Feb 2025 Kompas (H)
Pemerintah memberlakukan dua sistem perpajakan pada tahun 2025 akibat ketidaksiapan Sistem Inti Administrasi Perpajakan atau Coretax. Langkah tersebut dianggap sebagai jalan tengah yang tepat untuk saat ini. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun berjanji memperbaiki sistem Coretax. ”Saya tahu sebagian dari Anda yang hadir masih komplain soal Coretax. Kami akan terus memperbaiki layanan itu. Membangun sistem yang kompleks seperti Coretax, dengan lebih dari 8 miliar transaksi, itu tidak mudah,” kata SriMulyani saat menyampaikan sambutan pada acara Mandiri Investment Forum 2025 yang digelar di Jakarta, Selasa (11/2/2025). Sri Mulyani menegaskan, Coretax tetap dibutuhkan untuk mendorong sistem pengumpulan pajak yang terdigitalisasi yang memudahkan pemerintah sekaligus wajib pajak dalam urusan pajak. ”Kami bukan lagi mencari-cari alasan. This is not an excuse (ini bukan alasan). Saya hanya mau menjelaskan bahwa kami akan terus memperbaiki sistem tersebut,” ucapnya. Keputusan untuk tidak menerapkan Coretax sepenuhnya pada 2025 diambil dalam rapat dengar pendapat antara Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan dan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/2).

Rapat yang digelar secara tertutup itu memutuskan, sistem pajak lama alias Sistem Informasi DJP (SIDJP) masih akan digunakan untuk mengantisipasi Sistem Inti Administrasi Perpajakan (SIAP) atau Coretax yang bermasalah. Dengan demikian, beberapa urusan pajak masih dapat menggunakan sistem lama, sementara urusan tertentu sudah memakai Coretax. Konsultan pajak dari Botax Consulting Indonesia, Raden Agus Suparman, mengatakan, sudah banyak kesulitan yang dihadapi wajib pajak akibat implementasi Coretax yang bermasalah sejak 1 Januari 2025. Contohnya, akibat sistem yang terkendala, selama satu bulan terakhir staf administrasi pajak di berbagai perusahaan terpaksa bekerja lembur hingga dini hari. Ada pula kabar staf pajak dipecat karena dianggap tidak bisa bekerja gara-gara Coretax. ”Sampai ada guyonan staf pajak kerjanya tiga sif. Walau telah bekerja sampai dini hari pun, tidak ada jaminan pekerjaan mereka lancar karena memang aplikasi Coretax belum siap digunakan. Di satu sisi, mereka dituntut bekerja, di sisi lain aplikasi yang dibutuhkan belum siap,” kata Raden.

Ia berharap, dengan pemerintah memutuskan memakai sistem pajak ganda, kesulitan yang dihadapi staf administrasi pajak itu bisa berakhir. Pengusaha kena pajak dapat memilih tetap menggunakan sistem lama, seperti e-Faktur Desktop untuk menerbitkan faktur pajak Konsultan pajak dari Botax Consulting Indonesia, Raden Agus Suparman, mengatakan, sudah banyak kesulitan yang dihadapi wajib pajak akibat implementasi Coretax yang bermasalah sejak 1 Januari 2025. Contohnya, akibat sistem yang terkendala, selama satu bulan terakhir staf administrasi pajak di berbagai perusahaan terpaksa bekerja lembur hingga dini hari. Dipecat gara gara Coretax Ada pula kabar staf pajak dipecat karena dianggap tidak bisa bekerja gara-gara Coretax. ”Sampai ada guyonan staf pajak kerjanya tiga sif. Walau telah bekerja sampai dini hari pun, tidak ada jaminan pekerjaan mereka lancar karena memang aplikasi Coretax belum siap digunakan. Di satu sisi, mereka dituntut bekerja, di sisi lain aplikasi yang dibutuhkan belum siap,” kata Raden. Ia berharap, dengan pemerintah memutuskan memakai sistem pajak ganda, kesulitan yang dihadapi staf administrasi pajak itu bisa berakhir. (Yoga)

BTN Lahirkan Perbankan Syariah Terbesar Nomor Dua

Yuniati Turjandini 12 Feb 2025 Investor Daily (H)
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) di awal tahun ini semakin mematangkan proses kelahiran bank syariah terbesar kedua di Indonesia. Terlihat dari proses akuisisi yang dimulai terhadap bank umum syariah, yakni PT Bank Victoria Syariah (BVIS). BTN menandatangani  perjanjian jual beli bersyarat (Conditional Sales Purchase Agreement/CSPA) dengan para pihak pemegang saham BVIS dengan mengambil alih 100%  saham BVIS dari para pemegang sahamnya, yakni PT Victoria Investama Tbk, PT Bank Victoria internasional Tbk, dan Balai Harta Peninggalan (BHP) Jakarta. Adapun, Victoria Investama  merupakan pemegang saham mayoritas BVIS dengan kepemilikan 80,18% dan BPH Jakarta 0,0016%. Melalui akuisisi tersebut, BTN akan menjadi pemilik penuh BVIS dengan kepemilikan saham sebanyak-banyaknya sebesar 100% dari seluruh  modal ditempatkan disetor penuh dalam BVIS  dengan total nominal sebesar  Rp1,06 triliun. BVIS melakukan pembelian BVIS dengan sumber pendanaan internal yang telah disiapkan sesuai rencana bisnis bank. Direktur BTN Nixon LP Napitupulu berharao proses akuisisi ini dapat selesai sebelum semester 1-2025 berakhir sehingga proses merger antara UUS BTN dan BVIS bisa dijakankan. (Yetede)

Pilihan Editor