Mandiri Jogja Marathon 2025 Dongkrak Ekonomi DIY
Proyek Hilirisasi US6 Miliar Segera meluncur
Demo Penolakan ODOL Hambat Jalur Logistik Nasional
Aksi mogok supir truk yang menuntut revisi aturan Over Dimension Over Load (ODOL) dapat menyebabkan terhambatnya jalur logistik nasional. Seluruh pihak baik pemerintah, pelaku usaha dan asosiasi supir truk harus bisa duduk bersama mencari solusi dari permasalahan tersebut. Ratusan sopir truk dari berbagai daerah, antara lain Jawa Barat dan Jawa Timur, menggelar aksi demonstratif menolak penerapan aturan kelebihan muatan dan kelebihan dimensi atau biasa disebut ODOL. Aksi ini merupakan protes atas kebijakan yang dinilai memberatkan para pengemudi dan pengusaha angkutan barang, khususnya yang selama ini bergantung pada kendaraan dengan dimensi dan muatan yang diluar ketentuan. Demonstran berlangsung di sejumlah titik strategi sepertii Tol Palimanan (Cirebon), Surabaya Kudus, Bandung, dan wilayah lainnya. Aksi ini telah dimulai sejak 19-20 Juni 2025 dan berlanjut di Semrang pada Senin (23/06) kemarin, seiring belum adanya respons konkret dari pemerintah terkait tuntutan mereka. Ketua Umum Aliansi Pengemudi Independen (API) Suroso jelaskan bahwa para sopir truk opada dasarnya tidak menolak Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. namun pihaknya menilai penerapan aturan Zero ODOL tersebut akan semakin memberatkan para pengemudi, khususnya disektor logistik. (Yetede)
Danantara Suntik Pendanaan ke PT Garuda Indonesia Rp 6,65 T
Upaya Banding Google Kandas, Terbukti Monopoli
Pemerintah akan Menjaga Laju Invetasi Asing
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) kembali mengambil langkah strategis dengan memberikan pinjaman pemegang saham sebesar US$405 juta (sekitar Rp6,65 triliun) kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., yang sedang menjalani proses pemulihan. Pendanaan ini diberikan melalui anak usahanya, PT Danantara Asset Management (DAM), sebagai bagian dari komitmen total sebesar US$1 miliar, dengan fokus pada kebutuhan maintenance, repair and overhaul (MRO).
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa suntikan dana ini merupakan awal dari rangkaian aksi korporasi yang lebih luas untuk mendukung transformasi kinerja operasional dan keuangan Garuda. Direktur Utama Garuda, Wamilidan Tsani, menyambut baik dukungan ini dan optimistis akan mencetak laba bersih positif pada tahun 2026.
Namun, sejumlah pengamat seperti Toto Pranoto dari Universitas Indonesia dan Bhima Yudhistira dari Celios menilai bahwa Danantara perlu menerapkan kontrak manajemen ketat dan lebih fokus pada proyek-proyek yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi nyata, bukan hanya menyuntik BUMN bermasalah. Mereka menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan dana, mengingat dana tersebut berasal dari dividen BUMN yang tahun ini mencapai sekitar US$7 miliar (Rp114 triliun).
Langkah Danantara mendanai Garuda ini menjadi ujian penting bagi kredibilitas dan efektivitasnya sebagai pengelola dana investasi negara. M. Rizal Taufikurahman dari INDEF menambahkan bahwa meski mendukung program prioritas pemerintah seperti hilirisasi nikel dan industri petrokimia, Danantara harus waspada terhadap proyek-proyek berisiko tinggi yang kerap dikendalikan oleh kepentingan politis alih-alih kajian ekonomi yang solid.
Dengan demikian, dukungan Danantara terhadap Garuda merupakan simbol komitmen pemulihan BUMN strategis, namun harus dikawal ketat agar tidak menjadi beban fiskal dan tetap sejalan dengan tujuan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dampak Blokade Selat Hormuz pada Logistik Laut
Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran hampir dipastikan akan memblokade Selat Hormuz, sebagai respons atas pengeboman fasilitas nuklirnya oleh Amerika Serikat. Keputusan strategis ini diperkirakan akan memberikan dampak besar terhadap industri pelayaran minyak dunia, karena Selat Hormuz adalah jalur vital yang setiap harinya dilintasi sekitar 20 juta barel minyak—setara 30% perdagangan minyak global—menurut data International Energy Agency (IEA).
Blokade ini sangat mengancam armada tanker jenis VLCC dan ULCC yang menjadi tulang punggung pengangkutan crude oil jarak jauh. Tidak seperti kasus penutupan Terusan Suez pada 1956, Selat Hormuz tidak memiliki jalur alternatif, sehingga kapal-kapal tanker akan terjebak tanpa solusi pelayaran pengganti. Ketika kapal seperti Coswisdom Lake dan South Loyalty langsung membelokkan arah akibat kabar serangan, dunia pelayaran langsung panik.
Dalam situasi ini, Iran menjadi satu-satunya pihak yang diuntungkan, baik secara ekonomi maupun strategi perang psikologis (psy war). Iran, sebagai produsen minyak terbesar kedua dunia, mampu mengendalikan harga minyak global melalui pengetatan pasokan. Meskipun perang berkecamuk, Iran tetap akan menjual minyaknya, namun tidak kepada AS dan sekutunya. Bahkan, Iran dapat menjual minyaknya dengan harga premium kepada negara-negara sahabat seperti China dan Rusia, dan mengangkutnya menggunakan armada tankernya sendiri yang tergolong dalam lima besar dunia.
Tokoh penting dalam ketegangan ini adalah pemerintah AS, yang dilaporkan telah meminta China untuk menekan Iran agar tidak menutup Selat Hormuz, karena potensi kerugian ekonomi—khususnya dalam sektor energi—akan sangat besar bagi negara-negara Barat.
Secara keseluruhan, blokade ini menegaskan bagaimana geopolitik dan kontrol atas jalur laut strategis seperti Selat Hormuz dapat menjadi senjata ekonomi yang sangat efektif, sekaligus menggarisbawahi ketergantungan dunia pada stabilitas kawasan Timur Tengah dalam menjaga kelancaran suplai energi global.
Kemenaker Siaga Hadapi Gelombang PHK
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa kondisi geopolitik global yang tidak menentu dapat berdampak signifikan terhadap industri berorientasi ekspor dan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia. Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) telah mengantisipasi hal ini dengan memperkuat program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) serta mempercepat pembentukan Satuan Tugas PHK.
Yassierli menjelaskan bahwa selain bantuan tunai, pekerja yang terdampak PHK juga akan mendapatkan akses pelatihan dan informasi lowongan kerja. Koordinasi telah dilakukan dengan dinas ketenagakerjaan di seluruh wilayah dan lintas kementerian. Ia menambahkan bahwa draf regulasi pembentukan Satgas PHK telah disusun dan tengah dikonsultasikan dengan Kementerian Sekretariat Negara (Setneg).
Dirjen PHI & Jamsos Kemenaker, Indah Anggoro Putri, melaporkan bahwa sejak akhir Mei hingga awal Juni 2025, sekitar 30.000 pekerja terkena PHK, meskipun rincian sektor dan provinsinya belum dijabarkan. Data akurat akan dipusatkan dan divalidasi oleh Barenbang Naker untuk menghindari ketidaksesuaian antara laporan daerah dan klaim JKP.
Selain itu, pemerintah juga telah menyalurkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) 2025 sebesar Rp600.000 per orang, yang hingga 24 Juni sudah diberikan kepada 2,45 juta pekerja dari total penerima tahap I sebanyak 3,69 juta orang. BSU disalurkan melalui bank Himbara dan PT Pos Indonesia, terutama bagi pekerja yang tidak memiliki rekening bank.
Kebijakan ini mencerminkan respons cepat pemerintah untuk menjaga ketahanan ketenagakerjaan nasional di tengah tantangan eksternal, sekaligus memastikan pekerja tetap memiliki perlindungan sosial dan dukungan finansial selama periode ketidakpastian ekonomi.
Pilihan Editor
-
Cabai Rawit di Papua Capai Rp 90.000 Per Kg
26 Jul 2022 -
Ketidakpastian Global
26 Jul 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022









