;

Ambisi Indonesia Mengubah Bumbu Dapur Menjadi Bahan Baku Industri Dunia

Ekonomi Mursito Nugroho 10 Feb 2026 Tim Labirin
Ambisi Indonesia Mengubah Bumbu Dapur Menjadi Bahan Baku Industri Dunia

JAKARTA – Indonesia, negeri yang dikenal sebagai "Mother of Spices", tengah bersiap melakukan lompatan besar dalam peta ekonomi global. Memiliki 275 dari sekitar 500 spesies rempah dunia, Indonesia kini tidak lagi hanya ingin dikenal sebagai pengekspor bahan mentah, melainkan sebagai pusat industri pengolahan rempah yang bernilai tambah tinggi.

Pemerintah pada akhir 2025 telah menetapkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025-2045. Langkah strategis ini bertujuan mengamankan nilai tambah ekonomi di dalam negeri, dengan fokus pada enam komoditas utama: pala, lada, cengkeh, kayu manis, vanili, dan temulawak. Transformasi ini dipicu oleh tren gaya hidup sehat global yang menempatkan rempah bukan lagi sekadar bumbu dapur, melainkan bahan baku esensial untuk industri farmasi, kosmetik, hingga pangan fungsional.

 

Potensi Raksasa yang Terfragmentasi

Meski menduduki posisi puncak sebagai produsen dunia—peringkat kedua untuk pala dan peringkat ketiga untuk lada dan vanili—pangsa pasar ekspor rempah Indonesia di pasar global baru menyentuh angka 2,7 persen. Rendahnya angka ini disinyalir akibat struktur industri yang masih didominasi oleh petani skala kecil dan pelaku UMKM ( sebanyak 45 persen) yang memiliki keterbatasan teknologi.

Selain itu, rantai pasok yang panjang dan ketergantungan pada tengkulak membuat margin keuntungan petani seringkali tertekan. Hal ini menjadi tantangan besar dalam upaya modernisasi industri dari hulu ke hilir. Namun, titik terang mulai terlihat di sejumlah daerah sentra. Lampung kini memasok 90 persen lada nasional, sementara Sumatera Barat menguasai 90 persen pasar dunia dan menjadi pusat ekspor kayu manis.

 

Laju Positif Produk Olahan

Data menunjukkan fluktuasi tajam pada kinerja ekspor rempah mentah. Menurut data UN Comtrade, nilai ekspor sempat melonjak ke angka US$2 miliar pada 2024 setelah sempat turun pada tahun-tahun sebelumnya. Di tengah fluktuasi harga komoditas global, ekspor bumbu dan rempah olahan justru menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 17,29 persen pada periode Januari-Mei 2024, mencapai nilai USD 422,7 juta.

Langkah hilirisasi terbukti memberikan margin yang jauh lebih menguntungkan. Sebagai contoh, mengekspor pala dalam bentuk minyak atsiri atau ekstrak murni jauh lebih bernilai dibanding menjual biji mentah. Hal ini memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen bahan baku industri kelas dunia yang mulai mengadopsi standar internasional.

 

Proyeksi Pasar 2029

Melihat ke depan, permintaan terhadap produk rempah dan herbal dunia diproyeksikan akan menyentuh angka USD 25,6 miliar pada 2029 berdasarkan data Kementerian Pertanian. Tiongkok tetap menjadi pasar tujuan terbesar Indonesia dengan pertumbuhan signifikan mencapai 89,85 persen, disusul oleh India dan Amerika Serikat. Dengan peta jalan yang jelas, Indonesia memiliki peluang besar untuk merebut kembali kejayaan rempah-rempah dalam bentuk yang lebih modern dan berfokus pada industri. (murs)
Download Aplikasi Labirin :