;

GURU HONORER Bertahan Hidup dengan Gaji Tak Layak

GURU HONORER
Bertahan
Hidup dengan
Gaji Tak Layak

Andri M Fonda (33) meletakkan tasnya di pematang sawah sebelum mulai mencangkul sepetak sawah di Kecamatan Siulak, Kerinci, Jambi, Minggu (20/10) pagi. Tas yang sama dibawa Fonda untuk mengajar siswanya di SMP Negeri Kerinci. Jika biasanya tasnya berisi buku dan alat tulis, pagi itu diisi dengan topi dan air minum. Sudah delapan tahun Fonda mengabdi di SMP negeri sebagai guru honorer. Namun, kata sejahtera tak pernah ada dalam kamus hidupnya. Penghasilan sebagai guru honorer yang jauh dari layak membuat Fonda harus banting tulang mencari tambahan penghasilan sebagai buruh tani. ”Honor (jadi guru) tergantung dari jam mengajar. Kalau mendapat jam mengajar sedikit hanya menerima Rp 400.000 selama enam bulan,” ungkap Fonda. Dari penghasilan yang diperolehnya dalam enam bulan, artinya Fonda hanya digaji sekitar Rp 66.000 per bulan.

Pagi itu Fonda menggarap sawah kerabatnya, dengan upah Rp 70.000 setelah bekerja. Uang itu sangat berarti karena akan diberikan kepada istrinya untuk berbelanja sayuran di pasar. Selain itu, Fonda juga sedang menggarap kebun milik orangtuanya. Namun, penghasilan yang tidak menentu dari hasil berkebun belum bisa diandalkan untuk memberikan penghasilan tambahan. Pada masa panen terakhir, Fonda harus rela menanggung rugi. Tanaman cabai miliknya gagal panen. Padahal, dia berutang ke koperasi untuk mendapatkan modal. Utang Rp 7 juta itu pun saat ini masih belum terbayar. Penghasilan Rp 66.000 per bulan sebagai guru honorer tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup Fonda dan keluarganya. Ia memperkirakan total pengeluaran keluarganya Rp 2,5 juta setiap bulan. Tak heran jika Fonda harus mencari tambahan penghasilan dengan bekerja serabutan selain sebagai guru.

Fonda juga bisa menjadi bangunan dengan bayaran Rp 150.000 per hari. Pekerjaan-pekerjaan sampingan tersebut dijalani Fonda pada hari-hari di luar jam mengajarnya. Istri Fonda membantu menambah penghasilan dengan berjualan baju di ruko yang juga menjadi tempat tinggal Fonda, istri, dan anaknya. Mereka menyewa dengan harga Rp 500.000 per bulan. Namun, hasil penjualan baju sering tak mampu menutupi biaya sewa. Rasa cinta pada dunia pendidikan yang membuat Fonda bertahan menjadi guru honorer hingga saat ini. Interaksi dengan siswa menjadi penyemangatnya untuk terus mengabdi di sekolah. Adanya seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) bagi guru honorer membangkitkan semangatnya untuk mengabdi di sekolah. Pernah gagal pada seleksi 2023, Fonda menaruh harapan besar pada seleksi PPPK tahun ini. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :