Reformasi Struktural: Tantangan Transaksi Berjalan
Transaksi berjalan Indonesia menghadapi tantangan signifikan pada paruh kedua tahun ini. Berdasarkan data Bank Indonesia, defisit transaksi berjalan mencapai sekitar US$3 miliar pada kuartal II/2024, lebih besar dari defisit US$2,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penyebab utama defisit ini adalah menyusutnya surplus transaksi barang dan semakin dalamnya defisit transaksi jasa, termasuk biaya transportasi dan asuransi yang tinggi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
David Sumual, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk., mengindikasikan bahwa defisit transaksi berjalan kemungkinan akan tetap besar pada kuartal III dan seterusnya. “Transaksi berjalan masih akan defisit. Nilainya bisa mirip [dengan kuartal II/2024],” katanya. Hal ini disebabkan oleh harga komoditas yang masih landai dan biaya pengapalan yang tetap tinggi.
Satria Sambijantoro, ekonom Bahana Sekuritas, memperkirakan defisit transaksi berjalan akan berada pada kisaran 0,2% hingga 0,4% dari PDB tahun ini. Dia juga mengingatkan bahwa perlambatan ekonomi Amerika Serikat dapat memperburuk prospek ekspor Indonesia pada tahun 2025. "Kalau ekonomi AS melambat, itu akan memperburuk outlook ekspor kita," ujar Satria.
Menanggapi situasi ini, Ferry Irawan, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian, mengatakan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan ekspor jasa dan berfokus pada sektor-sektor strategis seperti teknologi dan layanan keuangan. “Pengembangan yang dilakukan berfokus pada sektor jasa berdaya saing tinggi dan peningkatan investasi di sektor-sektor strategis,” ujarnya. Dia menambahkan bahwa defisit transaksi berjalan tidak selalu menunjukkan kondisi buruk, terutama dalam konteks pembangunan negara berkembang seperti Indonesia.
Bank Indonesia juga telah menerapkan kebijakan untuk mendukung reformasi struktural, termasuk transaksi menggunakan mata uang lokal. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, mengatakan bahwa kebijakan ini mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan volatilitas kurs rupiah. “Ini mengurangi ketergantungan dan volatilitas [kurs rupiah] akibat permintaan dolar AS,” jelasnya.
Ke depan, Satria dari Bahana Sekuritas mengharapkan neraca pembayaran akan kembali surplus, berkat arus masuk investasi portofolio. Namun, defisit transaksi berjalan yang belum pulih dapat memengaruhi kebijakan suku bunga. "Neraca pembayaran memang akan positif pada kuartal III dan IV. Namun, transaksi berjalan yang belum membaik signifikan akan jadi pertimbangan BI dalam menentukan pemangkasan suku bunga," katanya. David dari BCA menambahkan bahwa BI kemungkinan akan melakukan pemangkasan suku bunga secara hati-hati. "Jadi, BI akan prudent dan gradual dalam memutuskan suku bunga," ujarnya.
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Meningkatkan Pendapatan dari Pajak Digital
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023