Komplet Sudah Tanda Ekonomi Tidak Baik-Baik Saja
Lengkap sudah sinyal kelesuan ekonomi dalam negeri. Jika tak sigap menanganinya, ekonomi Indonesia terancam masuk krisis. Setidaknya ada tiga faktor yang menunjukkan ekonomi nasional sedang lesu. Pertama, data Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2024 melorot ke level 49,7. Ini adalah level terendah sejak Agustus 2021 atau di masa pandemi Covid-19. Indeks di bawah 50 menunjukkan kinerja manufaktur terkontraksi. Di ASEAN, Indonesia memang tak sendirian. Pelemahan manufaktur juga dialami Malaysia dan Myanmar. Namun kinerja manufaktur Filipina, Thailand dan Vietnam masih di fase ekspansi, yakni masing-masing 51,2, 51,7, dan 54,7 berdasarkan laporan S&P Global. Indikator kedua, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kian membesar. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, jumlah karyawan yang terkena PHK per Juni 2024 mencapai 32.064 orang atau naik 21,45% dari periode sama tahun lalu yang mencapai 26.400 orang. Sinyal ketiga, Indeks Harga Konsumen (IHK) selama tiga bulan berturut-turut mencatatkan deflasi.
Terbaru, pada Juli 2024, deflasi di level 0,18%, lebih dalam ketimbang Mei sebesar 0,03% dan Juni 0,08%. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan wholesales mobil nasional turun 19,4% secara tahunan atau year on year (yoy) pada Januari-Juni 2024. Penjualan ritel mobil juga turun 14% yoy di periode itu. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah akan memantau kondisi PMI yang terkontraksi saat ini. "Tentu kita lihat situasinya karena di negara-negara lain masih di atas 50, terutama di ASEAN," kata dia, kemarin. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira melihat, kondisi industri manufaktur, terutama padat karya terus melemah dan memicu PHK. "Kondisi investasi yang baru juga belum mampu meningkatkan serapan tenaga kerja," terang dia. Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai, pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang mendukung stabilitas ekonomi dan merangsang permintaan dalam negeri. "Ini bisa dilakukan dengan memberi insentif fiskal seperti pemotongan pajak untuk industri manufaktur guna mengurangi biaya beban produksi," kata dia, kemarin.
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Kemenaker Siaga Hadapi Gelombang PHK
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023