Maju Mundur Industri Manufaktur
Melewati paruh pertama tahun berjalan, ketidakpastian global masih menggelantung. Teka-teki kapan pemangkasan suku bunga acuan the Fed dan ekskalasi geopolitik di Timur Tengah membawa imbas signifikan pada kinerja perekonomian baik di level nasional, sektoral, maupun di ranah regional. Sektor industri manufaktur tampaknya bukan sebuah pengecualian. Sektor yang digadang menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi itu agaknya masih gamang. Purchasing Manager’s Index atau PMI manufaktur publikasi S&P Global Market Intelligence pada Juni 2024 menunjukkan penurunan menjadi 50,7 dari bulan sebelumnya 52,1. Komparasi dengan indikator industri terbitan lembaga lain agaknya masih sejalan. Kementerian Perindustrian mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Juni 2024 berada di level 52,50, alias tidak berubah dibanding Mei 2024.
Bahkan, nilai itu melambat 1,43 poin dibandingkan dengan nilai IKI Juni tahun lalu yang sebesar 53,93, Sementara, IKI Juni 2023 meningkat 3,03 poin dari IKI Mei 2023 dan masih tertinggi sepanjang IKI rilis. Artinya, bidang usaha yang diharapkan menyerap banyak tenaga kerja itu terkesan mandek. Narasi yang sedikit berbeda datang dari Prompt Manufacturing Index (PMI) yang dirilis Bank Indonesia (BI). Pada triwulan kedua 2024, PMI-BI nangkring di posisi 52,39. Capaian itu lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang berada di level 50,75 persen. Jika dirata-ratakan untuk bulanan, PMI-BI menunjukkan tren kenaikan kendati kecil. Diagnosa stagnasi sektor industri pengolahan masih bisa diterima.
Impor industri manufaktur mayoritas berupa bahan mentah, bahan penolong, dan barang modal yang digunakan untuk pengolahan produk ekspor. Impor nonmigas per Juni 2024 yang ambles 8,83% dari bulan sebelumnya dengan sendirinya mendukung tesis di atas. Dugaan bahwa sektor industri pengolahan tetap tumbuhpun juga tidak terlalu keliru. Terlepas dari perbedaan indikator plus argumen logis yang menyertainya, persamaan yang termaktub dari ketiga indikator di atas adalah ekspansi (semua indeks lebih besar dari 50). Artinya, sektor industri pengolahan sejatinya masih memiliki persepsi positif atas kondisi ekonomi dalam kurun 6 bulan ke depan. Momentum persepsi positif inilah yang musti dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengakselerasi perkembangan industri di Tanah Air. Dalam situasi ketidakpastian yang masih tinggi, pemerintah perlu menggenjot insentif pada industri manufaktur. Penguatan dan perluasan pasar ekspor juga tetap harus didukung dengan berbagai kemudahan serta insentif pembiayaan ekspor. Relaksasi beberapa aturan tentang Devisa Hasil Ekspor perlu dimodifikasi. Lebih lanjut, dorongan pada kemampuan produksi juga perlu diimbangi dari konsumsinya. Menjaga daya beli masyarakat juga menjadi determinan yang krusial. Oleh karenanya, pemerintah untuk menciptakan stabilitas nilai tukar rupiah serta mengendalikan inflasi demi keterserapan produk industri di pasar domestik.
Tags :
#OpiniPostingan Terkait
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023