;

Memotret Pola Konsumsi Baru Setelah Lebaran

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 14 Jun 2020 Kompas, 27 Mei 2020
Memotret Pola Konsumsi Baru Setelah Lebaran

Pasca Lebaran, konsumsi masyarakat akan berlanjut dengan perubahan polabelanja dan tantangan finansial baru seiring pandemi Covid-19. Tak hanya pekerjaan dan belajar yang dilakukan di rumah. Pembatasan sosial untuk menahan laju penyebaran virus korona juga mengubah lanskap bisnis. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 375.165 pekerja formal mengalami PHK dirumahkan 1.032.960 orang. Sementara di sektor informal sekitar 316.000 orang. Data dari Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya mencatat ada 274 kasus aduan terkait ketidak mampuan perusahaan membayar THR, 61 persen tidak membayar THR, 29 persen pembayaran bertahap dan pemotongan THR, dan selebihnya penundaan THR

Meski demikian, tiga periode survei McKinsey & Company, diperoleh hasil rata – rata 49 persen responden optimistis perekonomian Indonesia akan pulih 2-3 bulan ke depan bahkan sebagian berpendapat lebih kuat dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi Covid-19. Masih merujuk survei McKinsey & Company, pola konsumsi mengalami perubahan, sebagian masyarakat menghindari kerumunan, 36 persen cenderung memilih berbelanja lewat aplikasi dan memanfaatkan e-dagang. Selama pandemi Covid-19, minat pembelian webcam meningkat hingga 1.572 persen. Produk mode masih paling diminati (63 persen), diikuti produk elektronik (45 persen), kebutuhan rumah tangga dan toko grosir (41 persen), kosmetik (33 persen), dan produk kesehatan (30 persen).

Analisis Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyimpulkan, akan ada perubahan dan model bisnis baru dalam kehidupan normal baru sehingga warga tetap bisa menjalankan usaha nya karena harus mulai bisa hidup bersama Covid-19. Dunia usaha juga perlu melakukan inovasi dan kreatif sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri. Prinsip-prinsip tersebut rasanya relevan dengan penyataan yang pernah diungkapkan Hermawan Kartajaya, salah seorang pakar pemasaran senior Indonesia. Krisis, di mata seorang profesional, adalah sebuah bahaya. Sementara seorang wirausaha justru memandang krisis sebagai sebuah peluang

Tags :
#Ekonomi
Download Aplikasi Labirin :