Kinerja Bank Besar Saat Turbulensi Global
PERTUMBUHAN laba bersih pada empat bank besar yang berada dalam kategori Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV merosot tajam. Berdasarkan laporan keuangan publikasi kuartal I-2024, misalnya, laba bersih BRI hanya tumbuh 2,69 persen secara tahunan (yoy), Mandiri 1,13 persen, BCA 11,7 persen, dan BNI 2,00 persen. Kondisi ini berbeda setahun lalu. Pada kuartal I-2023, perolehan laba keempat bank tersebut melonjak tajam. Laba bersih BRI tumbuh 27,4 persen (yoy), Mandiri 25,2 persen, BCA 43,00 persen, dan BNI 31,8 persen. Meski secara persentase menyusut, secara nominal perolehan laba keempat bank itu tetap fantastis. BRI mencatatkan laba sebesar Rp 15,88 triliun, Mandiri Rp 12,70 triliun, BCA Rp 12,9 triliun, dan BNI Rp 5,32 triliun. Dalam industri perbankan nasional, aset gabungan keempat bank tersebut cukup mendominasi. Porsinya mencapai 56,11 persen dari total aset perbankan Tanah Air. Karena itu, kondisi yang terjadi pada keempat bank tersebut dapat menjadi gambaran kondisi industri perbankan secara umum.
Memang tidak bisa dimungkiri bahwa tingginya pertumbuhan laba bersih pada kuartal I-2023 lebih disebabkan faktor basis level yang rendah. Pada 2022, perbankan masih terpapar dampak pandemi Covid-19, sehingga aktivitas perbankan merosot dan berimbas pada laba yang rendah. Ketika dampak pandemi memudar pada 2023 dan kondisi beralih menuju normal, aktivitas perbankan kembali bergairah sehingga mengerek laba. Dengan demikian, saat ini sebenarnya pertumbuhan laba perbankan relatif sudah normal. Bahkan tumbuhnya laba bank besar pada kuartal I-2024, meski melambat, dipandang masih cukup bagus. Terutama mengingat berbagai ketidakpastian global yang terus menghadang perbankan.
Kendati begitu, kondisi ini tetap menarik untuk ditelisik lebih detail. Apakah pertumbuhan laba yang lebih rendah daripada tahun lalu itu merupakan efek dari ketidakpastian global? Atau ada faktor dari suku bunga acuan tinggi yang mendongkrak biaya dana? Pertanyaan lainnya, apakah hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan kredit bermasalah (NPL)? Ataukah ada faktor lain yang mempengaruhi. Apabila berkaca pada aktivitas intermediasi, penyaluran kredit keempat bank tersebut sebenarnya cukup menjanjikan dan tumbuh tinggi di kisaran target Bank Indonesia 10-12 persen (yoy) pada 2024. Pertumbuhan kredit paling tinggi diraih Bank Mandiri sebesar 19,1 persen (yoy), diikuti BCA 17,1 persen, BRI 10,9 persen, dan BNI 9,6 persen. Hanya BNI yang kreditnya tumbuh di bawah industri yang mencapai 12,40 persen. (Yetede)
Tags :
#PerbankanPostingan Terkait
KB Bank Raih Fasilitas Pinjaman Rp 3 Triliun
Kopdes Merahputih mendapat dukungan Bank Mandiri
Geopolitik Memanas, Bisnis Bank Emas Mengkilap
Bank Masih Dilema Menurunkan Bunga Kredit
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023