ASA MEMOMPA CADANGAN DEVISA
Cadangan devisa yang terus menyusut seiring dengan situasi ekonomi global yang masih penuh dengan ketidakpastian, membuat Bank Indonesia (BI) harus aktif bermanuver guna menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan. Terang saja, efek kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed), memberikan pukulan yang tak bisa dianggap remeh terhadap rupiah dan cadangan devisa. Belum lagi faktor musiman yang juga patut diwaspadai, yakni kenaikan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran dividen pada kuartal II/2024. Hal itu terbukti dari laporan BI yang menyebutkan bahwa per akhir April 2024 cadangan devisa berada pada posisi US$136,2 miliar, level terendah setidaknya sejak Desember 2022.
Padahal, urgensi menjaga ketebalan cadangan devisa sangat tinggi lantaran masih menjadi instrumen utama untuk intervensi rupiah tatkala terjadi capital outflow. Di sisi lain, instrumen yang dimiliki untuk mengikat devisa sejauh ini masih kurang optimal. Salah satunya ketentuan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) yang tingkat kepatuhannya sangat rendah. Gubernur BI Perry Warjiyo, pun tak menampik adanya kekhawatiran pelaku pasar melihat penurunan cadangan devisa tersebut, terlebih menjelang musim pembagian dividen. Dia menambahkan, BI juga telah mengantisipasi adanya kebutuhan valuta asing (valas) yang besar, termasuk selama musim pembagian dividen pada kuartal kedua tahun ini.
Di sisi lain, sejumlah upaya yang dilakukan pemangku kebijakan guna menjaga penguatan rupiah masih belum cukup efektif. Di antaranya Term Deposit Valuta Asing DHE dan penggunaan mata uang lokal (local currency transaction/LCT) untuk menekan ketergantungan pada dolar AS. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indra-wati, mengatakan ketentuan insentif terbaru yang mengacu pada PP No. 36/2023 tentang Devisa Hasil Ekspor dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam masih tahap fi nalisasi. Sepanjang skema insentif baru belum dirilis, eksportir bisa memanfaatkan diskon Pajak Penghasilan (PPh) Final atas bunga deposito yang dananya dari DHE.
Dalam kaitan ini, Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi, mengatakan pemerintah perlu mengantisipasi penguatan dolar AS di masa mendatang yang berisiko menguras cadangan devisa lebih dalam.
Seirama, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, menambahkan pemerintah harus memacu kegiatan usaha agar dapat membantu penerimaan devisa, khususnya dari sisi ekspor dan investasi.
Kalangan ekonom memprediksi cadangan devisa bakal terus tertekan setidaknya selama semester I/2024. Kepala Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede, mengatakan sentimen risk off di tengah skenario higher for longerakan menghambat aliran masuk dana asing ke Indonesia, sehingga mengharuskan BI menstabilkan rupiah dengan agresif.
Tags :
#DevisaPostingan Terkait
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023