;

Apa Untung-Rugi Menaikkan Tarif KRL Jabodetabek

Apa Untung-Rugi Menaikkan Tarif KRL Jabodetabek
Desy Aldewistya mengaku khawatir akan rencana pemerintah menaikkan tarif kereta rel listrik Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi alias KRL Jabodetabek. Pegawai lembaga swadaya masyarakat di Jakarta tersebut hampir setiap hari bepergian ke beberapa wilayah. Selama ini KRL menjadi moda transportasi andalan Desy untuk berhemat, sehingga kenaikan tarif akan berdampak besar baginya.  Ia menilai KRL sebagai sarana transportasi umum seharusnya dapat diakses dengan murah. “Kalau tarifnya tinggi, pekerja lapangan dengan gaji UMR seperti aku akan sangat terbebani,” ujar Desy kepada Tempo, Ahad, 5 Mei 2024..

Selain memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah, menurut dia, kenaikan tarif KRL berpotensi mendorong masyarakat berpenghasilan menengah ke atas kembali menggunakan kendaraan pribadi. Padahal warga Jabodetabek membutuhkan layanan transportasi publik yang mudah diakses dan murah untuk mengatasi masalah kemacetan.    Pengguna KRL lainnya, Irma Rahmayuni, menilai rencana kenaikan tarif KRL belum sejalan dengan peningkatan kualitas layanannya. Warga Tangerang Selatan yang berkantor di Jakarta Selatan itu mengeluhkan fasilitas seperti eskalator yang sering mati dan kepadatan penumpang di stasiun-stasiun transit, seperti di Stasiun Manggarai dan Tanah Abang. 

“Aku enggak setuju tarif KRL dinaikkan kalau tidak ada perubahan signifikan dari pelayanan dan fasilitasnya,” kata Irma.  Adapun komunitas konsumen KRL, KRLMania, menilai kenaikan tarif wajar dilakukan, mengingat manajemen PT Kereta Commuter Indonesia sudah melakukan banyak perbaikan bila dibandingkan dengan kondisi pada 2016. Kendati demikian, juru bicara KRLMania, Gusti Raganata, menyebutkan perbaikan fasilitas belum merata. (Yetede)
Download Aplikasi Labirin :