;

Bank Besar Menaikan Porsi Perdagangan

Ekonomi Hairul Rizal 02 May 2024 Kontan
Bank Besar Menaikan Porsi Perdagangan

Risiko kredit perbankan berpotensi meningkat di tengah kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke level 6,25% serta faktor sentimen ekonomi global dan domestik. Untuk mengantisipasi risiko ini, perbankan melakukan penguatan pencadangan. Kenaikan suku bunga dan potensi kenaikan inflasi bisa berdampak pada likuiditas perbankan. Penurunan likuiditas akan membuat perebutan dana semakin sengit, yang akhirnya meningkatkan biaya dana dan menurunkan kualitas aset perbankan. Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, untuk mengantisipasi potensi peningkatan risiko kredit tersebut, BRI terus memantau tingkat kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) dan terus melakukan simulasi stress test secara berkala. Per Maret 2023, nilai NPL BRI mencapai Rp 40,6 triliun, dengan rasio terhadap kredit sebesar 3,11%. Untuk itu, BRI telah melakukan pencadangan hingga 214,2%. Di akhir tahun, BRI menargetkan NPL turun ke bawah level 3%. 

Sementara jumlah kredit berisiko alias loan at risk (LAR) BRI mencapai Rp 166,2 triliun atau 12,7% dari total kredit. Ini termasuk kredit dalam perhatian khusus Rp 74,4 triliun dan restrukturisasi kredit Rp 51,1 triliun. Jumlah LAR tersebut meningkat dari Rp 157,9 triliun pada Maret 2023. Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia (BNI) bahkan memupuk pencadangan lebih tinggi, masing-masing dengan rasio 318% dan 330,2%. Ini dilakukan meski kualitas aset keduanya membaik. Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan, perbaikan kualitas aset tidak hanya terlihat dari NPL. Rasio LAR bank ini juga telah menyusut dari 16,3% pada Maret 2023 menjadi 13,3%. Ia bilang, kualitas kredit akan terus diperbaiki agar biaya kredit susut. Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan, BCA akan terus mengkaji nilai CKPN sesuai perkembangan kualitas aset dan kondisi perekonomian.

Download Aplikasi Labirin :