;

Tarif Baru Jangan Bebani Pengguna

Ekonomi Yoga 22 Apr 2024 Kompas
Tarif Baru
Jangan Bebani
Pengguna

Bus Transjakarta dari Stasiun Palmerah ke Tosari terisi penuh penumpang, Sabtu (20/4) pagi. Miranda (24), salah seorang penumpang, harus berdiri karena tak satu pun kursi tersisa. Kondisi ini sering Miranda rasakan. Namun, dengan ongkos Rp 3.500 untuk perjalanan 6 km, ia merasa kurang bersyukur jika mengeluh. Soal wacana kenaikan tarif Transjakarta, ia berpendapat, seiring waktu kenaikan tarif pasti akan terjadi. ”Saya, sih, setuju saja asal tidak kemahalan dan membebani masyarakat,” ujarnya. Selain itu, kualitas layanan dan bus juga harus ditingkatkan. Ia berharap tidak ada penumpang yang kesusahan, seperti bingung dengan rute, desak-desakan, hingga terjatuh, saat berada di dalam bus atau di halte.

Di awal kemunculannya pada Februari 2004, tarif Transjakarta dipatok Rp 2.000. Adapun tarif Rp 3.500 pada pukul 07.00-pukul 24.00 WIB dan Rp 2.000 pada pukul 05.00-pukul 07.00 WIB berlaku sejak tahun 2007 dan belum ada perubahan sampai sekarang. Saat ini Pemprov DKI Jakarta masih mengkaji rencana kenaikan tarif Transiakarta. Sebab, ada usulan penyesuaian tarif dari Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) sejak setahun lalu. Tarif diusulkan menjadi Rp 4.000, sedang pada jam sibuk (pukul 07.01-pukul 10.00 WIB dan pukul 16.01-pukul 21.00 WIB) diusulkan Rp 5.000.

Sebagai penumpang setia Transjakarta sejak empat tahun lalu, Syahrul Fauzi (28) kurang setuju jika tarif transportasi publik ini naik. Jika tarif naik, pengeluarannya akan bertambah. ”Kami, para pekerja, pasti menggunakan Transjakarta di jam sibuk,” kata warga Jakpus ini. Syahrul berharap tarif tidak naik. Kalaupun harus naik, ia berpendapat Rp 4.000 sudah cukup. Sebab, tak semua orang punya dana cukup apabila tarif naik. ”Sebelum menaikkan tarif, kualitas halte mohon diperbaiki. Kadang ada halte yang AC-nya tak terasa. Kebersihannya juga perlu ditingkatkan, terutama untuk halte tua,” ujarnya. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :