;

Banjir Minyak

Lingkungan Hidup R Hayuningtyas Putinda 27 Apr 2020 Kompas, 24 April 2020
Banjir Minyak

Lebih dari 30 kapal tanker berkumpul di dekat pantai California, Amerika Serikat, dengan muatan penuh minyak mentah. Kapal-kapal itu membawa sekitar 20 juta barel minyak mentah selama berhari-hari tanpa tahu hendak ditaruh di mana muatan tersebut. Jutaan barel minyak itu belum memiliki calon pembeli. Cerita itu ada di laman Bloomberg, Rabu (22/4/2020).

Berdasarkan perdagangan minyak, Selasa (21/4), harga minyak mentah AS jenis WTI (West Texas Intermediate) minus 35,55 dollar AS per barel. Apa artinya? Pembeli malah dibayar untuk menerima minyak mentah itu. Sebab, produsen minyak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk penyimpanan pada saat tangki penyimpanan sudah penuh. Begitu penjelasan CEO Indonesia Commodity and Derivatives Exchange Lamon Rutten.

Dalam sejumlah laporan, kondisi ini berpotensi membuat banyak perusahaan minyak di AS bangkrut. Di sisi lain, Indonesia sebagai pengimpor bersih minyak justru bisa mengambil keuntungan dengan harga minyak mentah yang murah. Seperti disampaikan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati ketika pandemic Covid-19 belum meluas di Indonesia. Namun, semua berubah saat pandemi Covid-19 dinyatakan sebagai bencana nasional oleh Presiden Joko Widodo, yang diikuti pembatasan social berskala besar (PSBB).

Dalam rapat dengar pendapat Pertamina dengan Komisi VII DPR secara daring, laporan Pertamina menunjukkan, konsumsi BBM nasional merosot hingga 35 persen dikarenakan Pandemi Covid-19 menurunkan pergerakan orang dan barang secara drastis. Situasi ini berujung pada desakan agar harga BBM di Indonesia diturunkan. Namun, pemerintah mempertimbangkan rencana pemotongan produksi minyak anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan kondisi fiscal Pertamina. Pertanyaan lain, sejauh mana signifikansi penurunan harga BBM saat tak banyak orang membutuhkannya ditengah pandemi Covid-19?

Download Aplikasi Labirin :