;

Ainun Murwani, Angkat Kampung Bantaran Sungai

Ainun Murwani, Angkat
Kampung
Bantaran
Sungai

Kumuh, padat, kotor, serta rawan bencana dan penyakit adalah bayangan yang kerap melekat pada permukiman bantaran sungai di kota besar. Ainun Murwani (47) bergerak untuk mengubah kondisi tersebut. Melalui Paguyuban Kalijawi yang didirikan 12 tahun lalu, Ainun dan para anggota, yang sebagian besar perempuan, membangun mimpi bersama untuk menciptakan keamanan bermukim. Komunitas itu menyatukan tekad dan upaya warga bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong, Yogyakarta, agar tempat tinggal mereka bisa layak huni. Gerakan ini bermula dari aktivitas Arkom Indonesia, LSM, yang melakukan pemetaan kampung-kampung urban di bantaran dua sungai besar yang melintasi Yogyakarta itu pada 2011. Dari situ, diperoleh daftar permasalahan dari 14 kampung.

”Hasil pemetaan itu permasalahannya sama, yakni status lahan, rumah tak layak huni, sanitasi, sampah, dan air bersih,” ujar Ainun yang ditemui pada Kamis (21/3). Kala itu, kampung-kampung tersebut tidak dapat mengakses bantuan pemerintah karena status lahannya yang tak memenuhi syarat legalitas. Dari kondisi itulah, warga menyadari persoalan ini harus diselesaikan secara kolektif. ”Juli 2012, dibentuklah Paguyuban Kalijawi ini,” ujar Ainun, yang merupakan salah satu warga Kampung Notoyudan, Yogyakarta, kampung di bantaran Sungai Winongo. Ia bergerilya menggencarkan sosialisasi dan konsolidasi ke kampung-kampung.

Langkah awal paguyuban adalah menjawab permasalahan paling mendesak, yakni perbaikan rumah tak layak huni. Arkom Indonesia turut menyalurkan dana hibah program renovasi rumah, namun, kurang. Setelah berembuk dengan semua anggota di 14 kampung, disepakati setiap anggota yang mayoritas perempuan menabung Rp 2.000 per hari dan dibagi dalam kelompok kecil beranggotakan 10-15 orang untuk mengelola tabungan. Setiap anggota dibekali kapasitas untuk menghitung sendiri kebutuhan material renovasi, desain, hingga rencana anggaran. Dari tabungan itu, dalam dua bulan, setiap kelompok terkumpul dana Rp 1,2 juta.

Dengan tambahan hibah dari Arkom sebesar Rp 1,8 juta, setiap rumah mendapat dana Rp 3 juta. Dalam waktu dua tahun, Paguyuban Kalijawi berhasil merenovasi 165 rumah. Ketika program itu selesai pada 2014, paguyuban memiliki sisa dana tabungan sebesar Rp 126 juta. Ainun mengatakan, dana itu kemudian digulirkan kembali dalam mekanisme simpan-pinjam untuk para anggota. Dana yang bisa diakses anggota juga bisa untuk modal usaha, ekonomi, kesehatan, hingga pendidikan. Paguyuban membentuk koperasi simpan-pinjam bernama Sesarengan Mangayu Bagya, yang berarti meraih kebahagiaan bersama, Seiring waktu, dana yang bergulir kian besar hingga kini total asset koperasi mencapai Rp 1 miliar. (Yoga) 

Download Aplikasi Labirin :