Antrean Pembeli Beras yang Memanjang
Antrean pembeli beras berlangsung di banyak tempat, puncaknya
terjadi setelah Pemilu 2024. Masyarakat berebutmembeli beras murah Bulog. Harga
beras terus naik dan tinggi tidak hanya karena gangguan produksi padi, tetapi
juga stok Bulog relatif kecil, dan ini berpengaruh terhadap rendahnya
intervensi pasar serta impor terlambat. Pada saat yang sama, stok beras yang
dikuasai penggilingan padi (PP) dan pedagang juga merosot jumlahnya sejak 2019.
Akibatnya, gejolak harga beras di pasar akan sulit dikendalikan. Produksi padi
turun cukup tajam di 2023, sebesar 2,05 %, atau berkurang 1,1 juta ton gabah
kering giling (GKG). Gangguan iklim El Nino menyebabkan panen raya 2024 mundur
2-3 bulan.Biasanya panen raya pada bulan Februari, tetapi mundur menjadi April dan
Mei. Ini memperparah kenaikan harga gabah dan beras. Pemerintah telah mengantisipasinya
dengan menambah suplai beras dari impor agar Bulog dapat ”mengebom” pasar dalam
negeri.
Pada 2023 impor beras Bulog mencapai 1,8 juta ton. Pada 2024
realisasi impor beras Bulog (Januari hingga 20 Februari) mencapai 3,5 juta ton.
Sekarang, stok cadangan beras pemerintah (CBP) 1,46 juta ton, hampir seluruhnya
berasal dari impor. Penyaluran CBP ditingkatkan, baik melalui pasar, terutama
lewat program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), maupun non- pasar
lewat program bansos beras. Pada tahun 2024 ini (hingga 20 Februari) penyaluran
beras SPHP mencapai 275.000 ton dan bansos beras 203.000 ton. Namun, upaya
pemerintah belum berhasil membendung sepenuhnya laju kenaikan harga beras.
Kenaikan harga sudah terjadi sejak Juli/Agustus 2021. Bulog kurang berdaya
dalam mengelola pasar karena rendahnya stok yang dimiliki. Keputusan impor
terlambat, baru bisa direalisasikan di tahun 2023. Sekarang, harga beras
kualitas medium telah mencapai Rp 13.000- Rp 14.000 per kilogram dan beras
kualitas premium Rp 15.000-Rp 18.000 per kg.
Bulog menjual beras dalam kemasan 5 kg setara dengan Rp 10.600
per kg. Sebagian besar beras Bulog berkualitas premium, dengan broken 5 persen,
berasal dari impor. Semakin tinggi selisih harga pasar dengan harga jual Bulog,
semakin berjubel masyarakat memperebutkannya, apalagi kualitas beras Bulog
bagus dan lebih murah Rp 5.000 per kg atau lebih. Antrean pembeli beras tambah
panjang, membuat wajah pemerintah tercoreng. Upaya peningkatan produksi padi
via peningkatan produktivitas haruslah dilakukan sembari mengatasi kehilangan
hasil pada tahap pengeringan dan penggilingan padi. Pada saat yang sama, areal
sawah harus diperluas. Tanpa upaya itu, hampir tidak mungkin Indonesia mampu menghindari
impor beras (Yoga)
Postingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023