;

Antrean Pembeli Beras yang Memanjang

Lingkungan Hidup Yoga 12 Mar 2024 Kompas
Antrean Pembeli Beras yang Memanjang

Antrean pembeli beras berlangsung di banyak tempat, puncaknya terjadi setelah Pemilu 2024. Masyarakat berebutmembeli beras murah Bulog. Harga beras terus naik dan tinggi tidak hanya karena gangguan produksi padi, tetapi juga stok Bulog relatif kecil, dan ini berpengaruh terhadap rendahnya intervensi pasar serta impor terlambat. Pada saat yang sama, stok beras yang dikuasai penggilingan padi (PP) dan pedagang juga merosot jumlahnya sejak 2019. Akibatnya, gejolak harga beras di pasar akan sulit dikendalikan. Produksi padi turun cukup tajam di 2023, sebesar 2,05 %, atau berkurang 1,1 juta ton gabah kering giling (GKG). Gangguan iklim El Nino menyebabkan panen raya 2024 mundur 2-3 bulan.Biasanya panen raya pada bulan Februari, tetapi mundur menjadi April dan Mei. Ini memperparah kenaikan harga gabah dan beras. Pemerintah telah mengantisipasinya dengan menambah suplai beras dari impor agar Bulog dapat ”mengebom” pasar dalam negeri.

Pada 2023 impor beras Bulog mencapai 1,8 juta ton. Pada 2024 realisasi impor beras Bulog (Januari hingga 20 Februari) mencapai 3,5 juta ton. Sekarang, stok cadangan beras pemerintah (CBP) 1,46 juta ton, hampir seluruhnya berasal dari impor. Penyaluran CBP ditingkatkan, baik melalui pasar, terutama lewat program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), maupun non- pasar lewat program bansos beras. Pada tahun 2024 ini (hingga 20 Februari) penyaluran beras SPHP mencapai 275.000 ton dan bansos beras 203.000 ton. Namun, upaya pemerintah belum berhasil membendung sepenuhnya laju kenaikan harga beras. Kenaikan harga sudah terjadi sejak Juli/Agustus 2021. Bulog kurang berdaya dalam mengelola pasar karena rendahnya stok yang dimiliki. Keputusan impor terlambat, baru bisa direalisasikan di tahun 2023. Sekarang, harga beras kualitas medium telah mencapai Rp 13.000- Rp 14.000 per kilogram dan beras kualitas premium Rp 15.000-Rp 18.000 per kg.

Bulog menjual beras dalam kemasan 5 kg setara dengan Rp 10.600 per kg. Sebagian besar beras Bulog berkualitas premium, dengan broken 5 persen, berasal dari impor. Semakin tinggi selisih harga pasar dengan harga jual Bulog, semakin berjubel masyarakat memperebutkannya, apalagi kualitas beras Bulog bagus dan lebih murah Rp 5.000 per kg atau lebih. Antrean pembeli beras tambah panjang, membuat wajah pemerintah tercoreng. Upaya peningkatan produksi padi via peningkatan produktivitas haruslah dilakukan sembari mengatasi kehilangan hasil pada tahap pengeringan dan penggilingan padi. Pada saat yang sama, areal sawah harus diperluas. Tanpa upaya itu, hampir tidak mungkin Indonesia mampu menghindari impor beras (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :