Nyepi dan Titipan Anak-Cucu Bangsa
Dalam pemikiran tradisional di Bali, hari raya Nyepi selalu
dikaitkan dengan kondisi lingkungan yang sepi, kemudian disandingkan dengan
empat kata bernuansa larangan, yaitu : tidak boleh menyalakan api (mati geni), tidak
boleh melakukan pekerjaan (mati karya), tidak bepergian (mati lelungaan), dan
tidak bersenang-senang (mati lelanguan). Merayaan nyepi dimulai dengan
kesadaran akan kelemahan manusia dan alam semesta. Itulah yang dilakukan
masyarakat sehari sebelum hari raya yang disebut dengan pengrupukan. Hari ini
merupakan pengakuan secara jujur bahwa manusia itu penuh dengan kekotoran,
demikian juga dengan alam semesta.
Manusia dan dunia itu terlihat dalam bentuk segala kejahatan,
pertengkaran, konflik sosial, korupsi, penyalahgunaan jabatan, penebangan
hutan, banjir, polusi, dan sebagainya. Maka, sebelum hari raya Nyepi, semua ini
harus dibersihkan agar di hari-”H” penyepian, manusia mampu melakukan
perenungan dan kontemplasi secara ringan dan terkonsentrasi. Semua ritual,
seperti pecaruan (korban suci), pembunyian kentungan, termasuk pembakaran
ogoh-ogoh yang seharusnya kecil dan tidak meraksasa (seperti terlihat
sekarang), adalah simbolisasi pembersihan alam semesta. Dan, persembahyangan
yang dilakukan di pura bertujuan membersihkan pikiran manusia. Dengan demikian,
secara simbolis manusia sudah membersihkan diri dan lingkungan, kemudian
memasuki tahun baru dengan pemikiran dan kesadaran baru.
Dilaksanakannya ritual itu merupakan pengakuan, sebuah kejujuran
bahwa manusia memang terbatas dan dunia tidak selalu baik. Dengan bekal
kejujuran dan kebersihan lahir batin yang sudah diselenggarakan sehari
sebelumnya, Nyepi merupakan sebuah awal, saat mengambil ancang-ancang untuk melanjutkan
kehidupan sosial pada hari-hari berikutnya. Kesadaran akan toleransi tidak
hanya membuat kerukunan antaragama dan suku, tetapi juga menciptakan stabilitas
sosial yang selanjutnya mampu melancarkan pembangunan negara. Sejarah telah
memesankan Hari raya Nyepi hanyalah sebuah simbol dari satu kegiatan religius,
tetapi mempunyai tujuan dan manfaat inspiratif.
Secara makro, ia akan menyadarkan masyarakat bahwa Nyepi dan
tapa brata itu berguna untuk menyelamatkan dan menjaga stabilitas sosial. Artinya,
masyarakat memerlukan rehat sejenak untuk meninjau ulang segala kegiatannya. Dalam
skala mikro, setiap manusia mampu melakukan perenungan untuk kebaikannya
sendiri dan kebaikan masyarakat. Tidak usah menunggu hari raya Nyepitahun mendatang
untuk merenung. Nyepi dapat dilakukan mandiri, setiap hari, setiap jam, setiap
saat untuk merenungkan diri. Dengan begitu, Nyepi pun memberi inspirasi kepada
modernitas zaman sekarang yang tiada henti terus berlari. Indonesia adalah
negara besar dengan berbagai sumber daya yang merupakan titipan dari (bukan
untuk) anak-cucu bangsa. Selamat hari raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1946 (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023