Konflik Manusia dan Gajah Berimbas Amuk Massa
Konflik menahun antara manusia dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) berujung perusakan fasilitas konservasi satwa milik negara dan mitra Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Hingga Rabu (28/2) aparat kepolisian menelusuri kasus konflik antara manusia dan satwa di Tanjung Jabung Barat pada Senin dan Selasa (26-27/2). Sekitar 50 orang datang dan berunjuk rasa menuntut BKSDA Jambi agar memindahkan gajah-gajah di Desa Muara Danau, Kelurahan Lubuk Kambing, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Tidak berselang lama, massa terprovokasi merusak kendaraan operasional BKSDA Jambi. Satu mobil lapangan dan 2 sepeda motor hancur. Mereka juga merusak mes mitra BKSDA, Frankfurt Zoological Society (FZS), di Simpang Burut, Kecamatan Renah Mendaluh. Selanjutnya, massa turut merusak stasiun reintroduksi orangutan (Open Orangutan Sanctuary) Danau Alo yang berada tak jauh dari mes. Tak berhenti sampai di situ.
Mereka juga menahan lima petugas konservasi satwa yang ada di stasiun konservasi orangutan. Aparat Polsek Merlung lalu tiba dilokasi untuk mengevakuasi petugas. Mereka diselamatkan ke Markas Polsek Merlung. Kasus perusakan ini pun ditangani polisi. ”Proses (hukum) sedang berlangsung. Pemeriksaan saksi-saksi (dilakukan) di Polsek Merlung,” ujar Kapolres Tanjung Jabung Barat AKBP Agung Basuki, Rabu. Agung mengingatkan masyarakat untuk tidak main hakim sendiri dan melakukan perusakan. Ia mengingatkan konflik itu jangan sampai berbuntut pada perburuan satwa dan meracuni gajah, orangutan, atau satwasatwa dilindungi lainnya. Dalam siaran pers tertulis, Kepala BKSDA Jambi Donal Hutasoit mengatakan, rentetan kejadian berawal dari laporan masyarakat Muara Danau. Petani sawit resah terhadap keberadaan tiga gajah di sekitar kebun garapan mereka yang berbuntut rusaknya tanaman. Petugas lalu mengecek ke lokasi sejak 20 Februari 2024.
”Setelah dicek di lapangan, kebun-kebun masyarakat berada di kawasan hutan produksi terbatas penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh yang merupakan habitat daerah jelajah gajah sumatera di Bentang Alam Bukit Tigapuluh,” ujarnya. Demi menekan konflik, petugas menggiring tiga gajah agar menjauhi kebun garapan. Namun, warga menginginkan gajah dipindahkan dari wilayah Desa Muara Danau. Pada 22-25 Februari, tim tetap menggiring tiga gajah itu ke arah utara Desa Muara Danau. Ketiganya sudah berada di kawasan yang berhutan. Namun, tiba-tiba beredar isu bahwa ada sekitar 40 gajah sedang bergerak dari Kabupaten Tebo menuju ke Muara Danau. Tim konservasi berupaya untuk mengecek dan mendapati isu itu tidak benar. Namun, warga telanjur tersulut amarah sehingga berunjuk rasa hingga merusak berbagai aset konservasi satwa. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023