Waktunya Singkong Meredam Hegemoni Beras
Setiap harga beras naik, kelimpungan melanda warga seantero negeri, jika tak cepat ditangani, dapat mengganggu perekonomian nasional. Selama beras masih memegang hegemoni mutlak dalam asupan karbohidrat masyarakat, selama itu pula komoditas tersebut akan rentan memunculkan prahara. Pada 2023, produksi beras 30,89 juta ton, menurun dari produksi pada 2022 di 31,54 juta ton. Adapun kebutuhan rata-rata bulanan beras 2,6 juta ton (Kompas, 14/2). Ketika suplai sulit mengejar permintaan, solusi yang bisa ditempuh adalah memangkas permintaan. Salah satu caranya adalah melalui diversifikasi sumber karbohidrat masyarakat sehingga mengurangi ketergantungan pada beras. Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM Eni Harmayani mengatakan, kenaikan harga beras saat ini perlu digunakan sebagai momentum untuk mengembangkan diversifikasi pangan lokal sumber karbohidrat. Apalagi, Indonesia memiliki banyak alternatif pengganti beras sebagai bahan pangan sumber karbohidrat, di antaranya singkong, jagung, ubi jalar, sorgum, talas, kentang, ketan, sukun, dan pisang.
”Semua itu relatif mudah tumbuh dan dibudidayakan di negara kita,” ujar Eni, Jumat (23/2). Akan tetapi, masalah terbesarnya, masyarakat sudah terbiasa mengonsumsi nasi tiga kali sehari. Ungkapan ”belum makan kalau belum kena nasi” masih menjadi moto hidup banyak orang. Padahal, diversifikasi sumber karbohidrat juga penting bagi tubuh manusia. Menggantungkan asupan karbohidrat pada satu sumber saja dalam jangka panjang dapat menimbulkan risiko penyakit degeneratif, seperti diabetes. Perhitungan sederhananya, jika setiap orang mengganti satu porsi makan nasinya per hari dengan sumber karbohidrat lain, kebutuhan beras nasional dapat dipangkas sepertiga atau 33 %. Surplus beras itu dapat diekspor, yang akan menguntungkan petani sekaligus menambah devisa negara.
Adapun masyarakat DIY (Yogayakarta) sudah sejak lama mengenal pangan-pangan pokok selain beras, terutama yang berbahan singkong. Selain langsung digoreng, direbus, atau dikukus, singkong di DIY juga bisa diolah lebih lanjut menjadi makanan pokok berupa tiwul, gogik, sawut, atau growol. Bahkan, umbi-umbian itu dapat pula dibuat menjadi mi yang disebut mi lethek. Kota Yogyakarta pun memiliki pasar khusus yang menjajakan singkong dan ubi jalar, yakni Pasar Telo Karangkajen di Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan. Telo, yang merupakan simpul distribusi kedua komoditas palawija tersebut ke sejumlah pasar lain di Kota Yogyakarta, Bantul, dan Sleman. Menurut Sudras (42), pedagang di Pasar Telo Karangkajen, saat ini dia bisa menjual 1,5 ton singkong per hari, naik dari biasanya 1 ton per hari. Jumlah itu meningkat sejak Desember saat harga beras mulai bergejolak. (Yoga)
Postingan Terkait
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023