Potensi Surplus Beras Dihantui Risiko
Produksi beras nasional pada Maret 2024 diperkirakan
meningkat sehingga berpotensi membuat neraca beras surplus. Namun, surplus
beras di sejumlah daerah itu dihantui risiko banjir dan bera. Untuk itu,
jajaran pemda diharapkan memitigasi banjir dan mempercepat penanaman padi. Dalam
Rapat Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kemendagri secara hibrida di
Jakarta, Senin (5/2) BPS memaparkan hasil Kerangka Sampel Area (KPA) luas panen
dan produksi padi. Produksi gabah kering giling (GKG) pada Januari-Maret 2024
diperkirakan lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2023. Pada
Januari-Maret 2023, produksi GKG sebanyak 16,2 juta ton dan pada Januari-Maret
2024 diperkirakan 10,1 juta ton. Produksi GKG pada Januari dan Februari 2024
masih rendah, masing-masing 1,58 juta ton dan 2,42 juta ton.
Pada Maret 2024, produksi GKG diperkirakan naik menjadi 6,1
juta ton. Produksi GKG itu turun 2,82 juta ton dari produksi Maret 2023 yang
sebanyak 8,92 juta ton. Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Senin (5/2)
mengatakan, kendati turun secara tahunan, produksi GKP pada tahun ini akan
mulai melonjak pada Maret. Hal itu akan menyebabkan neraca produksi dan
konsumsi beras mulai surplus. ”Dampak El Nino menyebabkan surplus beras yang
pada tahun lalu mulai terjadi di Februari, pada tahun ini mundur menjadi
Maret,” ujarnya. BPS memperkirakan surplus beras pada Maret 2024 sebesar 970.000
ton. Surplus beras tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan Maret 2023 yang
mencapai 2,59 juta ton.
Dalam rapat itu juga terungkap produksi beras nasional dibayangi
perubahan cuaca yang tidak merata. Ada sejumlah daerah yang mengalami curah
hujan tinggi sehingga berpotensi banjir. Ada pula sejumlah daerah yang curah
hujannya masih rendah sehingga masih banyak sawah yang bera atau belum ditanami
padi. Deputi III Bidang Pereko nomian Kantor Staf Presiden (KSP) Edy Priyono
menuturkan, kondisi cuaca tahun ini berbeda dengan tahun lalu sehingga perubahan
cuaca itu tidak boleh diabaikan. KSP bersama BMKG telah memetakan daerah-daerah
di Indonesia yang berpotensi mengalami gangguan tanam dan panen akibat perubahan
cuaca. Pada Februari 2024, misalnya, terdapat 19 daerah yang berisiko tinggi
mengalami gangguan tanam dan 50 daerah berisiko tinggi mengalami gangguan panen.
(Yoga)
Postingan Terkait
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023