Ibu Kota Nusantara, Cerita Si Pemilik Wisma dan Peladang dengan Rumah Cat Kusam
Proyek Ibu Kota Nusantara
atau IKN niscaya mengubah kehidupan warga lokal di sekitarnya. Minggu (31/12/2023)
siang, Jatmiko (50) memamerkan keramik hitam di penginapan atau wismanya seharg
Rp 1 juta per dua lempeng. Pria gempal asal Banjar Patroman, Jabar, itu punya dua
penginapan di sekitar lokasi Titik Nol IKN, di Desa Bukit Raya, Kecamatan Sepaku,
Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim. Sejak ada IKN, bisnisnya berkembang. Ia
mengaku pernah dapat Rp 90 juta dari katering dan sewa kamar. Kementerian PUPR
menyewa kamarnya setahun dengan nilai Rp 350 juta. Hidup Jatmiko berubah total.
Padahal, sebelumnya ia bekerja sebagai bendahara desa dengan gaji hanya Rp
300.000 per bulan. ”Sekarang mumpung masih bisa kita kebut (usaha), ya,
sekarang ini waktunya. Kalau nanti, pasti ada saingan,” katanya.
Sahbudin (54), warga
Kelurahan Sepaku. Harapannya di tahun 2024 masih sama dengan sebelumnya, yakni
memiliki sepetak tanah dan rumah untuk penerusnya. ”Ndak ada kami mau ganggu IKN.
Kayak apa kita mau stop,” ujarnya. Sahbudin keturunan Balik, etnis asli sekitar
proyek IKN. Ia tinggal di rumah panggung sederhana dari kayu dengan cat biru
kusam yang didirikan di atas lahan milik pamannya di tepi aliran Sungai Sepaku.
Bersama istrinya, Dalisah (45), ia punya delapan anak, tetapi dua meninggal.
Sahbudin dan keluarganya kehilangan tanah sejak tiga dasawarsa lalu.
Lahan seluas 20 hektar hilang
saat perusahaan kayu dan yang terakhir perusahaan hutan tanaman industri (HTI)
hadir. ”Sudah ditebang, ndak ada bukti sudah,” timpal Dalisah. Hanya berbekal
surat tanah garapan tanpa sertifikat, perjuangan Sahbudin merebut kembali tanah
hampir mustahil. Saat protes, dirinya dan warga langsung berhadapan dengan
aparat. ”Begitu caranya mereka dari dulu kalau perusahaan. Apalagi nanti IKN, negara
yang punya,” ujarnya. Sahbudin hampir pasrah, sambil berharap ia focus menggarap
lahan satu hektar miliknya yang ditanami kelapa sawit dan pisang. Sayang, sejak
ada IKN pisangnya ludes diserbu monyet. Kini, Sahbudin bekerja di gerbang
lokasi proyek sumber air baku di IKN., dekat dari rumah, tetapi gajinya hanya
Rp 80.000 per hari. (Yoga)
Postingan Terkait
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023