Raksasa Hutan Tropis Tegaskan Komitmen
Di sela perundingan utama Konferensi Perubahan Iklim Ke-28
atau COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab, Indonesia menegaskan kembali upaya
penurunan emisi di sektor kehutanan dan
tata guna lahan. Upaya pengelolaan hutan untuk pengendalian perubahan
iklim ini juga melibatkan dua negara dengan hutan tropis terbesar, yakni Brasil
dan Republik Demokratik Kongo. Wamen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong
menyatakan, Indonesia memiliki pengalaman dalam menurunkan emisi di sektor kehutanan
dan tata guna lahan (FOLU), terutama dalam mengurangi deforestasi. Bahkan, penurunan
deforestasi sudah sampai pada angka terendah. ”Atas capaian ini, kita
seharusnya berhak menerima result-based payment (pembayaran berbasis hasil).
Faktanya, saat ini Indonesia memang sudah menerima dari Global Climate Fund,
kemudian dari Kerajaan Norwegia, dan kerja sama dengan Bank Dunia,” ujarnya di Dubai,
Uni Emirat Arab, Sabtu (2/12/2023).
Pada 2019, emisi Indonesia di sektor FOLU mencapai
922 juta ton emisi setara karbon dioksida (CO2e) akibat adanya kebakaran hutan
dan lahan. Emisi ini turun menjadi 183 juta ton CO2e pada 2020. Kemudian, tahun
2021 emisi kembali naik menjadi 224 juta ton CO2e dan tahun 2022 turun menjadi
222 juta ton CO2e. Guna meningkatkan upaya pengelolaan hutan dalam penurunan
emisi, Indonesia juga menjalin kerja sama dengan Brasil dan Republik Demokratik
Kongo. Ketiga negara ini dikenal memiliki hutan hujan tropis terbesar di dunia
dan kerap menghadapi permasalahan deforestasi. Kerja sama trilateral ini telah
terjalin dalam COP26 di Glasgow, Skotlandia, pada 2021. Kerja sama bertujuan
untuk memperkuat posisi ketiga raksasa hutan tropis ini dalam negosiasi iklim,
termasuk mendorong peningkatan pendanaan berbasis hasil untuk pengurangan emisi
dari deforestasi dan degradasi hutan plus (REDD+). Alue menekankan bahwa negara-negara
maju jangan hanya meminta Indonesia dan negara lain untuk menjaga hutan tropisnya.
Namun, mereka juga perlu berkomitmen untuk memberi dukungan sumber daya melalui
pendanaan iklim global sebesar 100 miliar USD per tahun.
Di sela-sela World Climate Action Summit, rangkaian kegiatan
COP28 di Dubai, Jumat, Presiden Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan PM
Norwegia Jonas Gahr Støre. Keduanya membahas sejumlah isu, di antaranya kerja
sama lingkungan hidup. Menurut siaran pers KLHK, Støre mengumumkan lanjutan
kontribusi Norwegia sebesar 100 juta USD untuk kinerja penurunan deforestasi
Indonesia periode 2017-2018 dan 2018-2019. Kontribusi ini merupakan pembayaran
kedua. Pada Oktober 2022, Pemerintah Norwegia membayar 56 juta USD untuk
kinerja penurunan deforestasi 2016-2017. Terkait pembayaran 100 juta USD dari
Norwegia ini, Bustar Maitar, CEO Yayasan EcoNusa, menyatakan, itu bukanlah
hadiah, melainkan penghargaan atas kerja keras Pemerintah Indonesia menurunkan
angka deforestasi Indonesia secara drastis, dari 1,09 juta hektar pada
2014-2015 jadi 115.500 hektar pada 2019-2020. (Yoga)
Postingan Terkait
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023