;

Kontroversi Menu Tengkes di Kota Depok

Kontroversi Menu
Tengkes di Kota Depok

Menu makanan pencegah stunting atau tengkes menuai kontroversi di Kota Depok, Jabar. Pasalnya, stoples makanan yang dibiayai APBN itu ditempeli stiker bergambar Wali Kota Depok Mohammad Idris dan Wakil Wali Kota Depok Imam Budi Hartono. Menu makanan juga dinilai sejumlah warga terlalu sederhana dan kurang bergizi. Program pemberian makanan tambahan (PMT) ini menelan anggaran Rp 4,9 miliar dan menyasar 9.882 anak balita di Depok dengan nilai Rp 18.000 per orang. Sasaran PMT lokal ialah anak balita (6-59 bulan) dengan kategori anak balita gizi kurang, anak balita berat badan kurang, anak balita tengkes dengan gizi kurang, dan anak balita berat badan tidak naik. Kota Depok menerapkan program ini selama 28 hari, yakni 10 November hingga 7 Desember 2023. Anak balita diberikan menu kudapan selama enam hari dan satu hari makanan lengkap.

Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Babai Suhaimi, Senin (20/11) mengatakan, kemasan yang digunakan tidak patut. Selain menimbulkan huru-hara menjelang tahun politik, anggaran pengadaan stoples cukup besar. Terlebih, anggaran program itu dari APBN. Dengan anggaran itu, Pemkot Depok seharusnya lebih mementingkan isi menu dibandingkan dengan kemasan yang dapat memangkas anggaran. Di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok, Senin, anak balita diberikan makanan tambahan berupa kudapan dan menu makan siang yang terdiri dari nasi, sayuran, telur, bakso, dan kuah sop. Menurut Arini, menu kali ini lebih variatif. Kudapan yang diterima beberapa hari sebelumnya dinilai kurang layak, seperti nuget tempe dan tahu rebus. Tidak ada susu. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :