Inferioritas Pangan Lokal di NTT
”Di mana pangan lokal Manggarai? Saya tidak menemukannya
selama di Labuan Bajo ini. Pagi ini saya mencari makanan lokal di hotel ini
juga tidak ada,” kata Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Rinna
Syawal yang kami temui dalam semiloka di Labuan Bajo, Senin (14/8). Kegelisahan
Rinna beralasan. Semiloka yang diselenggarakan di salah satu hotel berbintang
itu membahas transformasi sistem pangan di NTT, yang di antaranya menekankan
pentingnya pangan lokal. Namun, seperti lazimnya hotel-hotel lain di sana, tak ada
menu lokal tersaji, bahkan sekadar ubi, jagung, atau pisang rebus pun tak ada.
Padahal, NTT kaya dengan jenis pangan itu.
”Pangan lokal seharusnya bisa diintegrasikan dengan kegiatan
wisata yang saat ini sudah tumbuh. Dinas pariwisata sebenarnya bisa mewajibkan hotel
agar menyediakan pangan lokal,” kata Rinna. Menu pangan lokal di NTT seperti
tersisih di tanah sendiri. Hal ini sebenarnya bisa menandakan ketidakpercayaan diri
masyarakat menampilkan pangan lokal mereka. Serfia Owa (59), petani yang juga Ketua Aliansi Perempuan Mandiri Manggarai
Barat, mengatakan, anak-anak muda saat ini tidak lagi mengenal dan mengonsumsi
pangan lokal. Bahkan, anak-anak saat diberi pangan lokal kerap menolak karena
tidak terbiasa. ”Saya kira ini juga terjadi di banyak kampung di NTT,” kata
Serfia, yang tinggal di Kampung Munting Kajang, Kecamatan Komodo. (Yoga)
Postingan Terkait
Kopdes Merahputih mendapat dukungan Bank Mandiri
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Mandiri Jogja Marathon 2025 Dongkrak Ekonomi DIY
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023