'KERIKIL TAJAM' AKSELERASI EKONOMI
Ekonomi nasional pada kuartal II/2023 melaju solid, yang tecermin dari pertumbuhan sebesar 5,17% (year-on-year/YoY), sesuai dengan estimasi pemerintah dan Bank Indonesia (BI) di kisaran 5,0%—5,1%. Tak ayal, data terbaru ini menguatkan optimisme pemangku kebijakan yang menargetkan produk domestik bruto (PDB) sepanjang tahun ini parkir di tangga 5,3%. Akan tetapi, jika dicermati dengan saksama, di depan berserakan ‘kerikil’ yang berisiko menghambat gerak roda ekonomi pada paruh kedua tahun ini. Mulai dari ekspor yang berada di zona merah, hingga sektor investasi yang dibayangi aksi wait and see investor. Soal ini pun sejatinya telah terpampang dalam data Badan Pusat Statistik (BPS). Ekspor yang memiliki kontribusi 20,25% berkinerja buruk yakni tergerus hingga 2,75% pada kuartal II/2023. Prospek ekspor pun tak bisa dibilang terang-benderang. Ada aneka rintangan yang bakal mengadang, di antaranya moderasi harga komoditas, hingga perlambatan ekonomi China, mitra niaga utama. Pun dari sisi investasi yang tecermin dalam pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Agenda politik yang mulai menggema menjelang pemilihan umum (pemilu), mendorong investor memilih wait and see, hingga pemerintahan baru terbentuk. Praktis hanya konsumsi yang dapat diandalkan.
Terlebih, pada kuartal II/2023 seluruh komponen konsumsi mencatatkan pertumbuhan yang cukup solid, mulai dari konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, serta konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga. Merespons situasi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengatakan pemerintah terus mewaspadai dinamika perekonomian global sehingga tidak memberikan sengatan tajam ke ekonomi. Dari sisi konsumsi, kebijakan yang disiapkan adalah memacu belanja negara untuk memberikan daya dorong terhadap konsumsi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu, menuturkan pemerintah terus memantau dan mengantisipasi risiko perlambatan ekonomi dunia saat ini, khususnya dampaknya terhadap ekspor impor nasional. Dari sisi investasi, pemerintah akan memaksimalkan reformasi struktural untuk menciptakan iklim investasi yang menarik. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan menjaga stabilitas dan konsistensi iklim usaha menjadi hal paling penting untuk meningkatkan operasional usaha dan investasi.
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023