UJI TANGGUH EKONOMI
Ketangguhan ekonomi nasional dalam mengelak dari impak ketidakpastian global mendapat pengakuan dari sederet lembaga pemeringkat utang internasional. Buktinya, bulan ini saja ada dua lembaga yang mengerek outlook utang Indonesia. Pertama, S&P yang mempertahankan peringkat (rating) kredit Indonesia pada posisi BBB outlook stabil. Kedua, Rating&Investment (R&I) menaikkan outlook Indonesia menjadi positif dengan peringkat kredit tetap pada posisi BBB+ (investment grade). Inflasi yang terkendali, rendahnya defisit anggaran, hingga penurunan rasio utang menjadi dasar bagi kedua lembaga itu mengangkat rating utang Indonesia. Alhasil, kondisi ini memberi angin sejuk bagi pasar keuangan domestik, tepatnya di pasar Surat Berharga Negara (SBN) di tengah tekanan dari pengetatan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed). International Monetary Fund (IMF) dalam External Sector Report: External Rebalancing in Turbulent Times 2023, memprediksi rupiah bakal tertekan sehingga neraca transaksi berjalan terjun ke area defisit. Belum lagi rasio belanja bunga utang terhadap belanja pemerintah pusat yang mencapai angka tertinggi. Dalam kaitan ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, mengatakan peningkatan outlook itu menunjukkan keyakinan kuat internasional atas stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi Indonesia yang tetap terjaga. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Deni Surjantoro, pun tak memungkiri adanya tantangan yang mengadang ekonomi tahun ini. Terutama risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua 2023 karena pelemahan permintaan eksternal dan sikap hati-hati investor menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid, mengatakan aktivitas bisnis saat ini berjalan cukup baik yang menunjukkan menguatnya pemulihan dunia usaha. "Kadin optimistis penurunan utang membuat target pertumbuhan Indonesia 2023 dapat tercapai," katanya. Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira, mengatakan tantangan yang dihadapi pemerintah mencakup seluruh komponen penggerak PDB.
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Anggaran 2025 Terancam Membengkak
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Potensi Lonjakan Rasio Utang perlu Diwaspadai
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023