;

25 TAHUN REFORMASI Jaga dan Rawat Demokrasi Pascareformasi

25 TAHUN REFORMASI
Jaga dan Rawat Demokrasi Pascareformasi

Upaya menjaga dan merawat demokrasi setelah 25 tahun reformasi tidak boleh berhenti. Mahasiswa didorong berani bersuara dan memiliki semangat seperti pada masa reformasi yang mau berkorban mencari solusi atas berbagai persoalan bangsa. ”Saya minta kepada seluruh mahasiswa, kepada seluruh aktivis demokrasi, mari kita berkolaborasi. Mari kita bersatu merawat demokrasi kita,” kata Sekjen Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera) 1993-1998, Pius Lustrilanang, dalam diskusi peringatan 25 tahun Reformasi 1998 bertajuk ”Reformasi Memanggil” yang diselenggarakan harian Kompas bekerja sama dengan  Yayasan Aldera, di Jakarta, Jumat (19/5).

Dalam acara yang turut dihadiri mahasiswa dari sejumlah universitas ini, perwakilan Muri, Jusuf Ngadri, menyerahkan penghargaan kepada Pius, karena buku Aldera, Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999, yang digagas Pius, menjadi buku terlaris dalam kurun enam bulan (15 Oktober 2022 hingga 15 April 2023). Total buku yang terjual mencapai 160.540 eksemplar. Pius mengajak kolaborasi untuk merawat demokrasi karena 25 tahun setelah Reformasi 1998, muncul sejumlah ancaman terhadap demokrasi.

Hal itu terlihat, dari sempat munculnya ide perpanjangan masa jabatan presiden hingga tiga periode dan penundaan pemilu. Pius juga mengingatkan, demokrasi sering dirampok kaum sipil populis yang menang dalam pemilu. Mereka membajak demokrasi secara pelan-pelan dengan mengakali konstitusi agar bisa berkuasa lebih lama. Demokrasi di negeri ini pun harus dirawat karena penerapan sistem itu butuh perjuangan panjang. Perjuangan untuk reformasi dan demokrasi dimulai sejak 1978 hingga akhirnya rezim otoriter Orde Baru tumbang pada 1998. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :