;

Miskin di Lumbung Pangan dan Energi

Lingkungan Hidup Yoga 16 May 2023 Kompas
Miskin di Lumbung Pangan dan Energi

Provinsi Sumsel yang memasuki usia 77 tahun pada Senin (15/5) terus berbenah. Modal kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya membuat ”Bumi Sriwijaya” ini dikenal sebagai lumbung pangan dan energi. Berdasarkan data BPS, produk domestik regional bruto (PDRB) Sumsel disokong oleh tiga sektor yang menyumbang 57,49 % dari total PDRB daerah. Ketiganya ialah pertambangan dan penggalian (25,83 %), industri pengolahan (18,01 %), serta pertanian dan kehutanan (13,65 %). Sumsel juga penghasil karet terbesar di Indonesia dengan produksi bahan olahan karet 1 juta ton per tahun. Tidak hanya itu, dengan perkebunan kelapa sawit seluas 1,4 juta hektar, Sumsel menghasilkan  3,8 juta ton CPO. Sumsel juga layak dijuluki lumbung pangan. Pada 2022, luas lahan panen Sumsel  513.378 ha dengan produksi 2,7 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 1,5 juta ton beras. Dengan capaian itu, Sumsel merupakan penghasil beras tebesar kelima nasional, di bawah Jatim (5,5 juta ton), Jabar (5,4 juta ton),  Jateng (5,3 juta ton), dan Sulsel (3 juta ton).

Ironisnya, dengan berbagai kekayaan itu, Sumsel masih didera kemiskinan. Pada September 2022, BPS mencatat angka kemiskinan di Sumsel 11,99 % dengan jumlah penduduk miskin 1.054.990 jiwa, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional, yakni 9,57 %, walau turun cukup signifikan dalam 10 tahun. Pada 2013, tingkat kemiskinan di Sumsel 14,06 %. Hanya saja, dengan kekayaan alam yang demikian besar, angka dua digit itu masih menjadi masalah. Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya Muhammad Ichsan Hadjri berpendapat, masih tingginya kemiskinan di Sumsel tidak lepas dari belum meratanya pembangunan.  Aliran uang hanya berputar dan dinikmati oleh kalangan tertentu bahkan mungkin uangnya keluar dari Sumsel,” ujarnya. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :