;

Puluhan Tahun Krisis Air Bersih di Balik Megahnya Jakarta

15 May 2023 Kompas
Puluhan Tahun Krisis Air Bersih di Balik Megahnya Jakarta

Puluhan drum berwarna biru dan selang air melintang di setiap gang di Kampung Gedung Pompa, RT 020 RW 017 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakut. Lumut dan bercak kotoran menjadi penanda bahwa puluhan tahun ratusan warga belum pernah merasakan air bersih dari pipa Perusahaan Air Minum Jakarta Raya. Padahal, tak jauh dari mereka banyak perumahan dan gedung bertingkat yang bisa menikmati air dengan lancar. Setiap pagi, Nurrachman (59) bergegas menuju jalan raya untuk membeli air bersih dari truk tangki. Harga satu pikul air dalam jeriken 40 liter Rp 4.000. Guna mencukupi kebutuhan akan air bersih bersama istri dan dua anaknya, ia membutuhkan lima pikul setiap hari. Tiap bulan, Ketua RT 020 Kampung Gedung Pompa ini merogoh Rp 600.000 untuk air bersih. Terdapat 800 keluarga di wilayah itu, 292 keluarga adalah pengontrak. Warga bergantung pada air dari swasta untuk mandi, cuci, dan memasak. Untuk minum, warga harus membeli air galon.

”Saya selalu tanya, kapan mau dipasang, tolong segera dipasang PAM di sini. Kami sudah sering mengadu, tetapi orang PAM hanya survei-survei. Sampai kini belum ada realisasi. Kalau ada PAM, paling satu bulan hanya Rp 150.000,” kata Nurrachman di rumahnya, Jumat (12/5). Jika menggunakan air tanah dengan mengebor sendiri, air yang keluar berwarna kuning, bau, dan asin. Sebab, kampung ini hanya berjarak 100 meter dari tanggul laut Muara Baru. Pipa air bersih sempat masuk ke lingkungan ini yang dikelola oleh PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja). Namun, sejak dialihkan ke PAM Jaya, pipa tdak digunakan dan warga kembali ke selang air. Warga lainnya, Sadiwan (53), menyiasati mahalnya air bersih dengan mandi sekali sehari. Dengan begitu, dia hanya mengeluarkan Rp 400.000 sebulan untuk air bersih. Padahal, di kawasan Pluit, Penjaringan, tak jauh dari kampung mereka berdiri, sejumlah perumahan elite, mal, dan hotel airnya tidak pernah berhenti mengalir.

”Seharusnya PAM segera masuk hingga ke rumah-rumah menyediakan meteran agar terukur dan dikelola negara. Kalau dikelola swasta atau warga, akan sangat rawan terjadi selisih paham,” kata Enny Rohayati dari Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK). Kondisi serupa sempat dirasakan oleh warga di Kampung Nelayan, Kelurahan Kamal Muara, Penjaringan. Setelah puluhan tahun menadah air hujan dan membeli air bersih, mereka akhirnya dapat menikmati bersih PAM Jaya pada 2022. ”Sekarang sudah ada meteran air masing-masing setelah 20 tahun lebih. Dengan meteran otomatis, pembayarannya lebih murah. Namun, saya mengimbau warga hemat air karena sebentar lagi kemarau. Kalau tidak tagihan air  akan lebih mahal,” kata Ketua RW 004 Kampug Nelayan, Amirudin Latif (54). Sejauh ini, cakupan layanan PAM Jaya mencapai 65 % atau 908.324 pelanggan dengan kapasitas produksi 20.725 liter per detik dari kerja sama PAM Jaya bersama dua mitra perusahaan swasta, yakni PT Aetra Air Jakarta dan PT Palyja. Namun, sejak Januari 2023, PAM Jaya sepenuhnya mengelola air bersih perpipaan di DKI Jakarta. Kini, 35 % sisanya menjadi tanggung jawab BUMD DKI Jakarta. PAM Jaya menargetkan 100 persen cakupan pada tahun 2030. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :