JALUR MENDAKI EMITEN ENERGI
Komoditas energi kehilangan tenaga sepanjang tahun berjalan 2023. Kontraksi harga batu bara dan minyak mentah di pasar global dan domestik berimbas negatif terhadap kinerja keuangan emiten terkait. Kondisi itu membuat korporasi di sektor energi harus mengencangkan ikat pinggang dan meracik strategi guna menjaga pundi-pundi profitabilitas. Mengacu pada data termutakhir, batu bara Newcastle parkir di level US$187,55 per ton pada perdagangan Rabu (3/5). Artinya, batu bara sudah melemah 53,59% sepanjang tahun berjalan 2023. Minyak mentah jenis Brent juga mendingin di bursa komoditas global dengan penurunan 9,88% year-to-date (YtD) ke level US$73,58 per barel. Secara tahunan, batu bara Newcastle turun 31,56% dari level US$259 per ton ke level US$177,25 per ton per Maret 2023. Adapun, minyak mentah Brent turun 26,07% year-on-year (YoY) dari US$107,91 per barel ke level US$79,77 per barel. Harga batu bara dan minyak mentah acuan domestik juga bergerak melandai. Harga acuan Indonesia Crude Price (ICP) April 2023 dipatok sebesar US$79,34 per barel, turun 22,6% YoY. Senasib, Harga Batubara Acuan (HBA) pada April 2023 turun 8,2% YoY ke level US$265,26 per ton. Meredupnya harga dua komoditas utama ekspor Indonesia itu berimpak terhadap cuan yang dikantongi emiten batu bara, serta minyak dan gas pada kuartal I/2023.
Meski mayoritas penjualan naik, tantangan berat dihadapi emiten energi untuk mempertahankan pertumbuhan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih. Tak ayal, 7 dari 14 emiten energi mengalami kontraksi profitabilitas.Dua di antaranya ialah PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) yang laba bersihnya anjlok 48,89% YoY menjadi Rp1,16 triliun dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) yang laba bersihnya turun 27,43% YoY menjadi US$86,03 juta. Presiden Direktur dan CEO ADRO Garibaldi 'Boy' Thohir mengatakan volume produksi maupun penjualan ADRO meningkat dan menopang laba inti yang naik 11% menjadi US$538 juta. Sementara itu, Director & Corporate Secretary PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) Dileep Srivastava memaparkan tahun ini menghadirkan sejumlah tantangan. Salah satunya, dampak hujan lebat yang terus menerus sejak akhir 2021. Selain itu, kinerja perseroan dipengaruhi oleh krisis energi dunia yang diperburuk oleh perkembangan geopolitik global, kekhawatiran risiko resesi di negara-negara maju, dan ketidakstabilan industri finansial global.
Tags :
#EnergiPostingan Terkait
Mengendalikan Daya Tarik Eksplorasi Migas
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Amankan Pasokan BBM Dalam Negeri
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Harga Energi Naik-Turun, Investor Perlu Cermat
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023