;

Anomali Pasar Beras dan Sengkarut Impor

Anomali Pasar Beras dan Sengkarut Impor

Ada yang tak lazim saat musim panen padi tahun ini. Biasanya musim panen diikuti penurunan harga beras dan gabah. Pada musim panen, apalagi panen raya seperti saat ini, produksi beras biasanya akan melimpah. Produksi serentak, kemampuan menyimpan gabah yang rendah, dan kebutuhan likuiditas petani yang tinggi sering membuat harga gabah/beras jatuh saat panen raya. Apalagi periode itu biasanya berbarengan dengan musim hujan, yang membuat petani sulit mengeringkan gabah. Harga gabah jatuh karena kualitasnya rendah.

Namun, hingga April 2023, harga gabah/beras tetap tinggi dan bahkan cenderung terus naik. Menurut Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, pada 14 April 2023, harga beras medium bergerak di angka Rp 13.250-13.450 per kilogram. Selain lebih tinggi dari harga pada Januari (Rp 12.600-12.800 per kilogram), Februari (Rp 12.950-13.100 per kilogram), dan Maret 2023 (Rp 13.150-13.300 per kilogram), harga ini telah melampaui harga eceran tertinggi (HET) baru beras medium yang sebesar Rp 10.900-11.800 per kilogram (tergantung wilayah). Apa penyebab harga beras terus naik? Apa ada kebijakan yang salah sehingga membuat pasar beras mengalami anomali?. 

Dari pengalaman berpuluh-puluh tahun lalu, diketahui bahwa titik kritis cadangan beras terjadi setiap 31 Desember. Cadangan beras pemerintah (CBP) minimal harus cukup untuk memenuhi masa tiga bulan (Desember-Februari) penyaluran, baik langsung maupun tidak langsung. Hal ini terkait dengan irama tanam serentak yang menghasilkan panen yang ajek: musim panen raya (Februari-Mei dengan 60-65 persen dari total produksi), panen gadu (Juni-September dengan 25-30 persen dari total produksi), dan musim paceklik (Oktober-Januari). (Yetede)

Tags :
#Beras
Download Aplikasi Labirin :