;

Uji Kekuatan Ekonomi Lebaran

Ekonomi Hairul Rizal 26 Apr 2023 Bisnis Indonesia
Uji Kekuatan Ekonomi Lebaran

Sudah menjadi tradisi tahunan, Lebaran selalu diwarnai hiruk-pikuk aktivitas mudik dan belanja masyarakat. Lebaran telah menjadi momen perayaan penting bukan hanya bagi kaum muslim. Bukan hanya bagi kalangan mampu, melainkan juga bagi mereka yang berpendapatan menengah ke bawah. Pada Lebaran tahun ini, diprediksi ada 123 juta pemudik meramaikan lalu-lintas antar wilayah dan antarkota di Indonesia. Bertambah 14% dibandingkan musim mudik lebaran tahun 2022. Pertanyaan yang mengemuka kemudian adalah apakah peningkatan jumlah pemudik benar-benar diikuti dengan lonjakan dorongan belanja? Pada momen Idulfitri, per-ekonomian biasanya mendapatkan daya dorong tambahan dari belanja masyarakat. Meskipun demikian, ada sejumlah fakta belanja masyarakat dalam beberapa bulan sebelum Lebaran yang penting untuk diperhatikan. Salah satu indikatornya adalah tingkat penjualan retail. Hasil survei Bank Indonesia menunjukkan bahwa indeks penjualan retail pada triwulan pertama tahun ini ternyata hanya tumbuh 1,6% secara tahunan. Sangat jauh di bawah pertumbuhan pada triwulan pertama 2022 yang mencapai 12,5%. Selain sektor retail, kredit pemilikan rumah dan kendaraan bermotor juga bergerak lebih lambat pada awal 2023. Ini memang tak lepas dari berakhirnya insentif pajak yang diberikan selama masa pandemi melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Kredit pemilikan rumah pada Januari tahun ini hanya tumbuh 0,16% secara tahunan, lebih lambat dibanding pertumbuhan rata-rata triwulan pertama 2022 yang mencapai 1,96%. Sementara pertumbuhan kredit kendaraan bermotor melemah dari 5,28% pada triwulan pertama tahun lalu menjadi 1,17% pada Januari tahun ini. Melihat indikasi melemahnya konsumsi masyarakat sejak awal tahun, wajar jika daya dorong belanja Lebaran tahun ini diperkirakan tidak sekuat tahun lalu kendati arus mudik tetap ramai. Setidaknya ada tiga faktor utama penyebab pelemahan tersebut. Pertama, lonjakan inflasi yang terjadi sepanjang tahun 2022 yang mengena terutama pada kebutuhan dasar, baik bahan pangan maupun energi, termasuk BBM bersubsidi. Kedua, scarring effect dari pandemi yang masih dirasakan oleh masyarakat berpendapatan menengah bawah dan sejumlah sektor. Ketiga, pelemahan ekono-mi global yang menekan sektor-sektor yang mengandalkan pasar ekspor.

Tags :
#Ekonomi #Opini
Download Aplikasi Labirin :