Krisis Beras Momentum Penguatan Pangan Lokal di NTT
Lonjakan harga beras yang membuat warga perdesaan di NTT tidak mampu membeli merupakan pelajaran berharga. Para pemangku kebijakan bisa segera menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum penguatan dan pengembangan pangan lokal yang lebih terjangkau oleh masyarakat. Hal ini mengemuka dalam diskusi tentang problem krisis beras yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) di Kupang, Sabtu (1/4). Wakil Dekan FEB Unwira Bruder Salomon Leky membuka diskusi yang menghadirkan pembicara analis pemasaran hasil pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Fransiska Diah Iswandari, Koordinator Program Voice for Climate Action Yayasan Penguatan Lingkar Belajar Komunitas Lokal (Pikul) Dina Soro, dan jurnalis Kompas Fransiskus Pati Herin.
Dina mengatakan, NTT tidak sedang mengalami krisis pangan, tetapi krisis beras. Pasalnya, sumber pangan selain beras di NTT masih sangat berlimpah. Dalam pemetaan yang dilakukan Pikul, terdapat lebih dari 30 jenis pangan di NTT. ”Kita tidak kekurangan pangan,” ujarnya. Dina mendorong agar pangan lokal diperkuat dari sisi kebijakan pemerintah. Sementara di sisi masyarakat, krisis beras di NTT seharusnya menjadi momentum kembali memperkuat pangan lokal. Banyak desa di Pulau Timor sudah memulainya dengan menanam pangan selain beras. Menurut Dina, selama ini kebijakan pemerintah belum berpihak pada pengembangan pangan lokal yang beragam. Dalam kebijakan nasional, pemerintah hanya memperhatikan komoditas padi, jagung, dan kedelai. Padahal, tidak semua daerah di Indonesia cocok untuk budidaya tanaman itu. (Yoga)
Postingan Terkait
Kopdes Merahputih mendapat dukungan Bank Mandiri
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023