;

Penggilingan Kecil Makin Terimpit

Lingkungan Hidup Yoga 14 Mar 2023 Kompas
Penggilingan Kecil Makin Terimpit

Kendati telah memasuki masa panen raya, harga gabah di sejumlah sentra padi di Jabar dan Jateng masih relatif tinggi hingga awal Maret 2023. Fenomena ”lapar beras” beberapa bulan terakhir membuat persaingan mendapatkan gabah makin ketat. Pelaku usaha perberasan skala kecil, khususnya penggilingan padi, mesti menunggu hingga harga gabah turun dan masuk hitungan. Situasi itu tergambar saat Kompas menelusuri sentra-sentra padi di Jabar dan Jateng 28 Februari-5 Maret 2023. Sejumlah pengelola usaha penggilingan menyatakan belum mampu memenuhi target pengadaan karena harga gabah yang masih di atas harga acuan. Kapasitas mesin penggilingan pun belum optimal. Selama delapan bulan berturut-turut hingga Februari 2023, komoditas beras mengalami inflasi dan menyumbang inflasi umum bulanan. Harga beras juga belum turun kendati pemerintah telah mengimpor 500.000 ton beras dan sebagian wilayah telah memasuki masa panen pertama tahun ini.

Jumair (48), pelaku usaha penggilingan kecil mitra Bulog di Cirebon, Jabar, Rabu (8/3)  menyatakan, setelah Surat Edaran (SE) Kepala Badan Pangan Nasional RI No :  47/TS.03.03/K/02/2023 tentang Harga Batas Atas Pembelian Gabah atau Beras dicabut pada 7 Maret 2023, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani naik lagi. Hal itu terjadi di Jabar dan sejumlah daerah di Jateng yang berbatasan dengan Jabar, seperti Brebes dan Cilacap. ”Setelah batas atas harga pembelian dicabut, harga GKP petani kembali naik menjadi Rp 5.200 per kg. Hal itu menyebabkan pedagang penebas, termasuk dari korporasi besar, bersaing ketat. Yang memiliki modal kuat yang bakal menang,” ujarnya. Jumair menambahkan, dengan GKP setinggi itu, penggilingan kecil belum dapat memasok beras ke Bulog. Harga GKP itu masih di atas fleksibilitas harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras. (Yoga)


Tags :
#Beras
Download Aplikasi Labirin :