;

Surplus dari Tekstil Menipis

Ekonomi Ayu Dewi 16 Sep 2019 Kompas
Surplus dari Tekstil Menipis

Tekstil dan produk tekstil produksi Indonesia berhadapan dengan produk impor. Sebagai salah satu komoditas ekspor utama, surplus neraca perdagangan tekstil menipis. Sekertaris Eksekutif Badan Pengurus Nasional Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G Ismy menambahkan, ada masalah yang selama ini dihadapi industri tengah atau industri antara pasar tekstil (TPT) yakni industri kain. Industri kain meliputi industri penenunan, perajutan, pencelupan, pencentakan dan penyempurnaan. 

Industri kain sejak 2010 sudah defisit, minus 1,84 miliar dollar AS. Pada 2018 defisitnya mencapai 4,2 miliar dollar AS. Operasi pasar melibatkan tim gabungan dinilai perlu segera dilakukan tekait impor yang membanjir tersebut. Hal lain yang diminta adalah penerapan safeguard dari hulu hingga hilir. Penerapan safeguard/tindakan pengamanan pengenaan bea masuk sementara produk industri TPT dari hulu hingga hilir dipandang perlu. Langkah ini diyakini bisa melindungi industri TPT dan pasar domestik atas impor produk sejenis. Produk TPT tersebut mulai dari benang, kain, garmen hingga produk tekstil jadi lainnya. 

Ernovian menambahkan, pemberian fasilitas kemudahan lokal untuk tujuan ekspor (KLTE) juga diharapkan untuk merangsang industri hilir TPT mengambil bahan baku dari dalam negeri.  Produk impor yang banyak masuk ke pasar Indonesia, bahkan telah menggerus pangsa pasar lokal mengakibatkan industri di dalam negeri tidak dapat menikmati pertumbuhan konsumsi domestik. Akibatnya, selain harus mengurangi produksi, investasi di industri hulu pun tak ada.

Tags :
#Tekstil
Download Aplikasi Labirin :