Penanganan Tengkes Perlu Spesifik
Prevalensi tengkes anak balita secara nasional menurun pada 2022. Namun, angka kasus tengkes baru pada kelompok usia 12-23 bulan justru meningkat. Untuk itu, intervensi harus lebih diperkuat, terutama pada masa persiapan kehamilan hingga anak usia bawah dua tahun. Berdasarkan data Kemenkes, jumlah anak tengkes pada 2021 untuk usia 0-11 bulan sebanyak 565.479 anak. Dari jumlah itu, ekspektasi jumlah anak tengkes pada 2022, atau satu tahun setelahnya untuk anak usia 12-23 bulan, diperkirakan tetap, yakni 565.479 anak. Namun, pada 2022, dilaporkan angka tengkes pada usia tersebut justru meningkat menjadi 978.930 anak.
”Jadi, pada usia 12-23 bulan itu ternyata banyak kasus stunting (tengkes) baru,” kata Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Maria Endang Sumiwi, dalam konferensi pers pemaparan laporan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, di Jakarta, Jumat (27/1). ”Penambahan anak stunting terjadi pada kelompok usia di bawah dua tahun. Usia itu harus diwaspadai dan menjadi perhatian bersama,” kata Endang. Tengkes merupakan kondisi gagal tumbuh kembang akibat kurang gizi. Intervensi untuk mempercepat penurunan tengkes perlu lebih difokuskan pada usia di bawah dua tahun. Hal itu berarti penguatan diperlukan calon ibu hamil, ibu hamil, ibu menyusui, serta bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif dan makanan pendamping ASI. Fase tersebut, yakni pada 1.000 hari pertama kehidupan, menjadi masa krusial untuk mencegah munculnya kasus tengkes baru. (Yoga)
Tags :
#KesehatanPostingan Terkait
Pemasaran Digital Rokok Menyasar Anak Muda
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023