Mencari Solusi Bijak Terkait Tarif KRL
Rencana pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan untuk menerapkan subsidi silang dalam penarifan kereta komuter atau KRL Jabodetabek bagi penumpang menuai polemik. Masyarakat menyarankan alternatif lain yang lebih adil dan bijak daripada melanjutkan rencana menaikkan tarif. Warga mendorong subsidi pemda dan pengenaan tarif berbeda di hari libur. Perwakilan pengguna KRL Jabodetabek dari komunitas KRL Mania mengkritisi rencana Kemenhub mengurangi beban subsidi negara ke KRL, khususnya di wilayah Jabodetabek. Rencana subsidi dinilai melanggar prinsip kesetaraan publik dalam pelayanan publik. ”Angkutan umum enggak perlu ada subsidi silang. Layanan publik sama saja seharusnya, enggak ada perbedaan. Pemerintah punya yang namanya PSO (public service obligation/tarif penugasan) atau subsidi publik yang enggak mengenal pembedaan kelas,” tutur Gusti dari humas KRL Mania, melalui telepon, Jumat (30/12). Komunitas itu juga mengkritik kesan negatif yang dicetuskan Menhub Budi Karya Sumadi (Kompas.id, 28/12) dari penyebutan pembedaan tarif bagi pengguna kereta yang mampu dan tidak.
”Wacana subsidi silang ini seolah membenturkan antara orang kaya dan miskin. Saat harga BBM baru naik, dampak pandemi belum selesai, yang harus dibangun adalah solidaritas sosial bukan membenturkan kaya dan miskin,” ujarnya. Perhatian ini penting karena besarnya jumlah pengguna KRL Jabodetabek yang sebagian besar tinggal di wilayah satelit DKI Jakarta. KAI Commuter Indonesia (KCI) barubaru mencatat, rata-rata penumpang harian KRL Jabodetabek 800.000 orang. KRL menjadi salah satu moda angkutan umum yang bertugas melayani 1,2 juta pelaju keluar masuk Jakarta dari Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sebagai solusi untuk meringankan beban pengeluaran negara, kata Gusti, justru pemerintah bisa melanjutkan rencana kenaikan tarif KRL untuk semua pengguna. Menhub Budi Karya Sumadi memastikan ongkos kereta rel listrik atau KRL tidak akan naik sampai 2023. Sebagai gantinya, mereka akan mengkaji kebijakan penyesuaian tarif sesuai dengan sasaran subsidi. Budi mengatakan, tarif asli KRL bernilai Rp 10.000 sampai Rp 15.000 sekali perjalanan. Dengan subsidi, pengguna KRL di Jabodetabek hanya perlu membayar Rp 3.000 untuk 25 kilometer pertama dan Rp 1.000 untuk setiap 10 kilometer berikutnya. (Yoga)
Tags :
#TransportasiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023