Para Pelaju yang Tak Kenal Menyerah
Jakarta masih menjadi magnet bagi jutaan orang. Tak kurang dari tiga juta warga yang tinggal di daerah Bogor, Bekasi, bahkan Maja, Banten, ikut mengais rezeki ke Jakrta. Mereka terpaksa tinggal jauh dari tempat kerja ka rena tak mampu membeli rumah dekat kantornya. Rini Soekarno (54), karyawan perusahaan penerbitan, terkantuk-kantuk di kereta komuter dari Stasiun Manggarai, Jaksel, menuju rumahnya di Bojonggede, Bogor pada sekitar pukul 22.45 pada Selasa (15/11) itu. Begitu sampai di Stasiun Bojonggede, ia dan para pelaju lain bergegas turun. ”Kalau di atas jam 10, angkot tak ada, mesti naik opang (ojek pangkalan). Perjalanan dari stasiun ke rumahnya di Tonjong, Bogor menjelang tengah malam dengan opang hanya 15 menit dengan ongkos Rp 20.000, lebih mahal Rp 5.000 daripada siang hari, sementara jika naik angkot hanya perlu membayar Rp 6.000, tetapi bisa lebih dari 30 menit sampai rumah. Di rumah, ibu dua anak itu tak bisa langsung istirahat. Ia mengurus suminya, Taufan Arianto (61), yang tergolek di ranjang karena stroke sejak tahun 2019. Ia harus menyediakan kebutuhannya, seperti ganti popok dan menyiapkan minum. Setelah itu ia baru istirahat. Rata-rata ia hanya tidur empat jam, sebab subuh ia harus bangun, shalat, lalu menyiapkan kebutuhan dua anak dan suaminya yang akan ia tinggal beraktivitas di luar rumah. Dengan kondisi itu, ia harus mencari penjaga buat suaminya dengan honor Rp 130.000 per hari. Sekitar pukul 07.00, ia sudah harus berada di stasiun kereta menuju Jakarta untuk berangkat kerja. Setelah suaminya terserang stroke, Rini yang biasa naik motor atau naik mobil pribadi bersama suami untuk bekerja harus beralih naik angkutan umum. Akibatnya, hampir setiap pagi ia harus kena macet panjang dari rumahnya ke stasiun. Lepas dari situ, ia harus berjubel di kereta komuter yang penuh sesak selama sekitar satu jam. Sebagai pekerja lapangan, ia setiap hari bisa berbeda tujuan di Jakarta, setiap hari ia bisa pindah ke tiga tempat. Ini membuat Rini baru bisa pulang ke rumah paling cepat pukul 19.00 sampai 20.00. Bahkan bisa lebih malam jika ada acara malam hari.”
Menjadi pelaju dengan naik sepeda motor menjadi pilihan Joko Andy Prastiyo (38) yang bekerja sebagai tenaga alih daya di Palmerah, Jakpus. Bagi Joko, naik motor lebih praktis dan cepat dari rumahnya di Citayam, Bogor, sekitar 36 km menuju Jakarta jika terkena shift kerja malam. Joko bekerja di bagian rumah tangga suatu perusahaan swasta selama 18 tahun sebagai pekerja kontrak. ”Pertama menjadi petugas kebersihan gajinya Rp 650.000 per bulan. Sekarang saya dapat gaji sesuai UMR (upah minimum regional) Rp 4,3 juta per bulan,” tutur Joko, yang tinggal di daerah Citayam, Bojonggede, Kabupaten Bogor. Sebelumnya, ia mengontrak rumah petak di Palmerah Rp 1,7 juta per bulan. Untuk menghemat pengeluaran, ia dan istri pindah ke Bojonggede yang sewa kontraknya lebih murah pada 2017. Hanya sekitar Rp 600.000 per bulan. Selain itu, lokasinya dekat rumah orangtuanya. Tahun 2021, Joko bisa tinggal di rumah seluas 36 meter persegi yang dibelikan ayahnya. Keseharian Joko kini dihadapkan pada tantangan sebagai pekerja pelaju yang memilih naik motor saat mendapat giliran kerja malam. Perjalanan dari rumah ke tempat kerjanya sekitar satu jam. Jika di tengah jalan mengantuk, ia memilih menepi untuk tidur sebentar. Ia juga menghindari daerah rawan begal dengan memilih jalur jalan lebih ramai dan berpenerangan terang daripada jalur berlampu remang dan sepi. Ritme hidup seperti ini setiap hari dijalani jutaan orang di Jakarta. Survei komuter BPS tahun 2014 menyebut 68 % atau 2,4 juta komuter bergerak setiap hari menuju Jakarta (Kompas, 23 Maret 2017). Meski lelah, kenyataan hidup yang keras mengharuskan para pelaju menjalaninya pantang menyerah. (Yoga)
Postingan Terkait
Aturan Baru Jadi Tantangan Industri
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023