;

KEHIDUPAN NELAYAN Hanya Sampah yang Tersisa di Laut Kami

KEHIDUPAN NELAYAN
Hanya Sampah yang
Tersisa di Laut Kami

Lisa (53) terengah-engah saat muncul dari belakang rumahnya, di Kampung Muarajaya, Desa Pantai Mekar, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jabar. Ia memikul karung terisi penuh sampah plastik. Kala itu angin sedang kencang. ”Anak-anak susah dapat ikan. Kalau tidak cari sampah, kami makan apa?” kata perempuan dengan lima anak itu, Kamis (27/10) pagi. Lisa menjadi warga terakhir yang tinggal di Kampung Muarajaya yang sejak awal 2000-an ditinggal seluruh penduduk akibat abrasi. Hampir dua jam ia memungut beragam sampah plastic di tepi Teluk Jakarta yang terhampar beragam sampah plastik di bibir pantai. Di pesisir pantai Kampung Muarajaya itu pula sejumlah warga mondar-mandir menggunakan perahu. Mereka tak mencari ikan, tetapi justru berlomba memungut sampah plastik di laut.

Sampah yang dikumpulkan Lisa biasanya dijual ke pengepul Rp 2.000 per kg. Setiap minggu, uang dari menjual sampah plastik rata-rata Rp 50.000 untuk membeli beras hingga air galon. Satu galon air minum dibeli warga dengan harga Rp 7.000. Air galon dipasok dari luar Muaragembong, termasuk dari Jakarta. Warga Kampung Muarajaya dan Muara Gembong di Kecamatan Muaragembong sudah tak memakai air tanah atau air sungai lantaran kualitas air tanah dan sungai tak laik konsumsi, tercemar. Sampah dengan jumlah besar yang dipungut warga di Desa Pantai Mekar dan Desa Pantai Bahagia, Muaragembong, berasal dari saluran Cikarang Bekasi Laut (CBL). Sebagian sampah plastik disebut dari Jakarta dan sampai ke pesisir Muaragembong akibat tiupan angin dan empasan ombak. ”Apalagi kalau musim hujan, sampahnya banyak sekali. Air laut warnanya hitam dan bau. Ikan banyak sekali yang mati,” kata Lisa.

Dedy, salah satu nelayan Desa Pantai Mekar, misalnya, berbulan-bulan tak melaut. Ia memilih mencari rongsokan atau sampah plastik di pantai hingga bekerja serabutan. ”Apa yang ada, bisa dikerjakan, ya, kami kerjakan,” ujarnya. Sekali melaut, utang yang menumpuk di warung bisa Rp 200.000-Rp 300.000. Pengeluaran terbesar untuk membeli bensin 15-20 liter. ”Kami pakai pertalite eceran. Sejak harga BBM naik, satu liter Rp 14.000,” tuturnya. Tandi, salah satu anggota staf Bidang Kelautan Desa Pantai Mekar, menyebutkan, sebagian besar nelayan di desanya selama enam bulan terakhir sudah tak lagi melaut. Nelayan lebih banyak merugi sejak harga rajungan anjlok. Harga rajungan di tingkat nelayan saat ini Rp 18.000 per kilogram atau anjlok dari harga Rp 80.000 per kg.  (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :