;

Mendadak ”Quiet Quitting”

Ekonomi Yoga 12 Sep 2022 Kompas
Mendadak ”Quiet Quitting”

Istilah quiet quitting atau ”berhenti diam-diam” belakangan viral setelah seorang Tiktoker asal Amerika Serikat, @zkchilin, kini @zaidleppelin, mengunggah video yang mengatakan ”Quiet quitting, quitting the idea of going above and beyond at work. Work is not your life. Your worth is not defined by your productive output.” Banyak pengguna Tiktok membagikan pengalaman mereka sebagai tanggapan atas video yang diunggah pertengahan Juli 2022 itu. Tagar #quietquitting memperoleh lebih dari 8 juta penonton di platform Tiktok. Time dalam artikel ”Employees Say ‘Quiet Quitting’ Is Just Setting Boundaries. Companies Fear Long-Term Effects (23/8)” menyebut, ”berhenti diam-diam” merupakan konsep untuk tidak lagi bekerja melampaui batas dan hanya melakukan apa yang diminta sesuai deskripsi pekerjaan. Berbagai dugaan penyebab viralnya istilah itu muncul. Presiden dan CEO Society for Human Resource Management, komunitas praktisi manajemen SDM, Johnny C Taylor Jr, misalnya, menduga penyebabnya adalah pekerjaan jarak jauh telah menyebabkan kelelahan parah dan kelelahan Zoom.

Laporan Deloitte dalam Global Gen Z and Millenial Survey 2022 menunjukkan, ada perbedaan cara   pandang antara pekerja generasi baby boomers, generasi X, dan generasi lebih muda. Generasi lebih muda cenderung memprioritaskan keseimbangan kehidupan kerja yang lebih baik dibandingkan dengan generasi terdahulu. Sementara itu, Harvard Business Review (HBR) dengan tegas mengatakan ”berhenti diam-diam” bukanlah istilah baru di dunia kerja. Dalam artikel ”Quiet Quitting Is About Bad Bosses, Not Bad Employees” (31/8/2022) disebut ”berhenti diam-diam” adalah nama baru untuk perilaku lama. Dalam artikel itu disebut, banyak orang, pada titik tertentu dalam kariernya, telah bekerja untuk seorang manajer yang mendorong mereka ”berhenti secara diam-diam”. Ini berasal dari perasaan diremehkan dan tidak dihargai, yang mungkin para manajer itu ber sikap bias atau mereka terlibat dalam perilaku yang tak pantas.  

Dalam konteks Indonesia, Managing Director PT Headhunter Indonesia Haryo Utomo Suryomarto, saat dihubungi Minggu (11/9) di Jakarta, berpendapat, sudah sejak lama istilah ”berhenti diam-diam” muncul. Istilah terdahulu ialah karyawan terlepas (disengaged employees). Jika merujuk survei konsultan tempat kerja ”Gallup” tahun 2013, disengaged employees di Indonesia mencapai 77 %. Berdasarkan survei Headhunter Indonesia lima tahun terakhir, angka disengaged employees mencapai setengah total karyawan.  (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :