Iklim Berubah, Produksi Komoditas Pangan Turun
Produksi sejumlah komoditas pangan, seperti beras dan gula, di sejumlah daerah di Tanah Air turun. Perubahan iklim berupa kemarau basah memicu gagal panen beras di Sumsel dan mengganggu panen tebu di Kabupaten Malang, Jatim. Banyak persawahan di Sumsel, terutama di kawasan rawa lebak, mengalami gagal panen. Penurunan produksi juga terjadi pada komoditas hortikultura. Kondisi ini menyebabkan kenaikan harga yang memicu inflasi. Kadis Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono (4/8) mengatakan, produksi beras menurun signifikan dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data terakhir tahun 2021, produksi beras di Sumsel 1,7 juta ton, menurun dari tahun sebelumnya, 2,73 juta ton. Walaupun produksi menurun, Sumsel masih mengalami surplus, yakni sekitar 900.000 ton.
Bambang menuturkan, dari sekitar 600.000 hektar lahan pertanian di Sumsel, 72,2 % merupakan kawasan rawa lebak dan rawa pasang surut. Kondisi ini membuat kawasan pertanian di Sumsel rawan banjir akibat perubahan iklim. Jamra (30), petani sawah di Desa Cahaya Alam, Kabupaten Muara Enim, mengatakan, panen di wilayahnya turun hingga 50 %. Biasanya, dalam 1 hektar ia bisa mendapatkan sekitar 4 ton beras, sekarang menurun menjadi 2 ton beras. Gubernur Sumsel Herman Deru menuturkan, peran semua pihak untuk membantu petani sangatlah penting, terutama di bidang pembiayaan. ”Banyak petani di Sumsel yang belum bankable (memenuhi syarat kredit perbankan). Adalah tugas penyuluh dan pihak perbankan untuk melakukan edukasi,” ujarnya. (Yoga)
Tags :
#PanganPostingan Terkait
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023