;

ATLET REMAJA, Jalan Panjang Mengejar Mimpi

ATLET REMAJA,
Jalan Panjang Mengejar Mimpi

Di teras 10 x 15 M salah satu gedung UNJ, Rabu (13/7) belasan ibu dan bapak menanti dalam cemas. Mereka adalah para orang tua yang datang dari daerah yang berjarak ratusan hingga ribuan kilometer dari Jakarta, mengantar sang buah hati mengejar mimpi menjadi atlet nasional. Anak-anak berusia antara 12 dan 14 tahun itu menjalani seleksi calon olahragawan pada Sentra Latihan Olahragawan Muda Potensial Nasional 2022, yang menjadi implementasi Desain  Besar Olahraga Nasional (DBON). Firda (46) dan suaminya, Dehendrian (48), dari Bengkulu, mengantarkan anaknya Alfi Zahrin (13), ikut seleksi itu. Demi mewujudkan cita-cita Alfi, mereka mengarahkan Alfi mendaftar seleksi sentra DBON yang dibuka 3-10 Juli. Pada Senin (11/7) mereka bertiga berangkat ke Jakarta untuk seleksi lanjutan, pada 13-15 Juli. Dengan keuangan terbatas, mereka kesulitan membeli tiket pesawat Bengkulu-Jakarta Rp 1,5 juta per orang, karena itu, mereka naik bus Rp 450.000 per orang. Sesampai di Jakarta, mereka menginap di kamar kos seharga Rp 200.000 per malam dekat UNJ. ”Karena tesnya bakal lama (tiga hari jika terus lolos), kami mesti hemat-hemat,” kata Firda.

Perjuangan juga diperlihatkan rombongan Sekretaris Federasi Panjat Tebing Seluruh Indonesia (FPTI) Kota Jambi Kornelius Sitindaon (33). Kornelius membawa dua anak binaannya, yakni Febrina Rizki (13) dan Firzi Anugerah Pratama (14). Sejak berlatih tiga tahun lalu, Febrina dan Firzi dinilai berpotensi besar. Namun, keduanya dari keluarga berekonomi terbatas. FPTI Kota Jambi sempat meminta bantuan pemda, tetapi tidak ada tanggapan. Demi mewujudkan mimpi Febrina dan Firzi menjadi atlet nasional, FPTI Kota Jambi mengeluarkan dana mengantar keduanya ikut seleksi ke Jakarta. Ketiganya naik bus Jambi-Jakarta sejauh 800 km dengan biaya Rp 500.000 per orang. Sesampai di Jakarta, mereka menumpang di Sekretariat Mahasiswa Pencinta Alam Eka Citra UNJ. ”Karena tidak tahu pasti lokasi tes, amannya kami tinggal di Sekretariat Eka Citra,” kata Kornelius.

Ada 799 atlet cilik yang baru lulus sekolah dasar ikut seleksi sentra DBON di empat lokasi, yakni UNJ, Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Negeri Surabaya. Sebanyak 209 atlet remaja ikut seleksi di UNJ. Sebagian besar peserta dari Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Itu karena kesenjangan pembinaan daerah dan pusat. Ketua Tim Pakar UU No 11/2022 dan DBON sekaligus Ketua Tim Review Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional (PPON) Kemenpora Prof Dr Moch Asmawi, Jumat (22/7), mengatakan, ada 112 atlet yang diterima gelombang pertama sentra DBON. Mereka akan mulai masuk asrama per Rabu (27/7). Semuanya bakal mengarungi program jangka panjang dengan sentuhan sport science. Program DBON adalah langkah pemerintah mengisi ruang kosong dalam rantai pembinaan olahraga. Dengan fasilitas yang lebih baik, mereka dilatih menjadi atlet tingkat dunia pada masa depan (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :