Sapi-sapi Kami Tak Lagi Kuat Berdiri
Sapi perah berwarna hitam putih berumur lima tahun dengan berat daging sekitar 2,4 kuintal milik Endar Sunandar (31) di Kelurahan Cipari, Kuningan, Jabar, Rabu (15/6) mati setelah terpapar PMK sepekan terakhir. Mulutnya berbusa dan luka. Sapi betina itu enggan makan sehingga lemas. Endar telah berupaya mengobati sapinya, mulai dari menyuntikkan obat-obatan dari koperasi dan pusat kesehatan hewan hingga membuat jamu dari olahan bawang putih, telur, dan gula untuk meningkatkan nafsu makan sapi. Berbagai cara itu tak mampu menghalau PMK. ”Sampai sekarang dua induk sapi dan satu pedet saya mati. Kerugian sudah lebih dari Rp 50 juta,” kata bapak dua anak ini. Dari total 65 sapi di kandang milik keluarganya, 16 ekor terpapar PMK. Beberapa sapi terpaksa dijual Rp 8 juta-Rp 10 juta per ekor atau anjlok dari harga ideal Rp 18 juta per ekor.
”Dua tahun ke depan, nasib sapi perah di Cigugur suram. Produksi susunya berkurang dan pedet yang harusnya menggantikan induknya mati,” ujar John Nais, Korlap Unit Respons Cepat PMK Koperasi Serba Usaha (KSU) Karya Nugraha Jaya, yang beranggotakan 1.000 peternak. Menurut John, lokasi kandang yang berdekatan di Cigugur mempercepat penularan penyakit yang menyebar lewat udara itu. Tempat karantina pun tiada tersedia.
Peternak di Lembang, Bandung Barat, juga ikut limbung akibat PMK. Pada Jumat (10/6) malam, Dadang Sopari (54) resah karena keempat sapinya terjangkit PMK. Produksi susu sapinya anjlok sampai 90 %. Ia terpaksa menjual sapi perahnya untuk dipotong meskipun harganya jauh lebih murah, yakni Rp 70.000 per kg untuk daging sapi. Transaksi dilakukan di RPH Cikartani Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU). Sapi-sapi berbobot 300 kilogram yang kini ada di RPH dan terkena PMK kondisinya sudah sulit berdiri.
Jumat lalu, Yaya Mulyana (39), mantri dari RPH memeriksa hingga 13 sapi perah yang akan dipotong. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Tidak hanya peternak, para pedagang daging sapi pun mengalami dilema. PMK membuat penjualan mereka anjlok hampir dua kali lipat, sementara mereka harus menampung daging dari peternak sapi perah yang terus bertambah. Padahal, kondisi sapi kurus, kulit membalut tulang di beberapa bagian. Penjualan daging sapi pun turun drastis, karena masyarakat khawatir makan daging sapi karena wabah PMK. (Yoga)
Tags :
#KomoditasPostingan Terkait
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023