;

Kenaikan Biaya Logistik Perburuk Inflasi

30 Mar 2022 Kompas
Kenaikan Biaya Logistik Perburuk Inflasi

Kenaikan biaya logistik laut akibat pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina dapat memperburuk inflasi global. Kenaikan biaya pengiriman komoditas lintas samudra dapat meningkatkan inflasi global sebesar 1,5 basis poin atau 0,015 %. Kendati peningkatan inflasinya kecil, kenaikan biaya logistik laut juga akan berpengaruh pada pembentukan harga pangan dan energi baik di tingkat produsen maupun konsumen. Saat ini, harga kedua komoditas itu masih tinggi akibat gangguan produksi di sejumlah negara produsen, hambatan pengiriman, serta imbas perang Rusia-Ukraina. Hal itu mengemuka dalam laporan ilmiah mingguan tim ekonom IMF bertajuk ”Shipping Cost and Inflation,” yang menyebutkan, perdagangan maritim berkontribusi 80 % total volume perdagangan dunia. Sejak Maret 2020, biaya pengiriman peti kemas lintas samudra meningkat 7 kali lipat dibandingkan dengan sebelum pandemi Covid-19. Per 25 Maret 2022, Indeks Pengiriman Kontainer Global (GCFI) sebesar 9.430 USD per kontainer (ukuran 40 feet), jauh di atas GCFI 26 Maret 2021 sebesar 4.367 USD per kontainer.

Pada Januari 2022, IMF memperkirakan, inflasi di negara-negara maju pada 2022 sekitar 3,9 % dan di negara-negara berkembang sebesar 5,9 %. Adapun BI dan Pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga inflasi 2022 di kisaran 2-4 %. Khusus inflasi kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) akan dijaga di kisaran 3-5 %. Hamka Baco Kady, anggota Komisi V DPR meminta agar tol laut dioptimalkan untuk pendistribusian sejumlah komoditas pangan yang harganya tengah melambung tinggi. Dengan transportasi laut yang disubsidi pemerintah itu, harga sejumlah komoditas tersebut diharapkan bisa tetap terjangkau karena tidak terimbas kenaikan biaya logistik laut. Plt Dirjen Hubla Kemenhub Mugen Sartoto menuturkan, program tol laut telah berkontribusi positif terhadap ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok di daerah-daerah terpencil. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :