Pasar Dalam Negeri, Mengulik Bisnis Rokok Elektrik
World Health Organization merilis penelitian pada tahun lalu yang menunjukkan bahwa ada 23,25% dari total penduduk Indonesia atau 61,40 juta merupakan perokok. Namun, industri rokok mulai mengalami penurunan, baik dari sisi jumlah pengusaha maupun volume industri. Di sisi lain, produksi rokok elektrik justru berakselerasi dan dinilai mengubah kebiasaan sebagian perokok konvensional menjadi perokok elektrik. Halitu ditunjukkan dengan naiknya persentase jumlah orang yang berhenti merokok di Indonesia. Global Adult Tobacco Survey (GATS) meluncurkan penelitian pada 2011 yang menunjukkan persentase perokok yang berhenti di level 3,30% sedangkan menurut penelitian WHO, angka tersebut naik menjadi 9,50% pada 2018. Ada dua produsen raksasa rokok elektronik yang menyatakan tertarik untuk berinvestasi di Tanah Air, yaitu JUUL Labs dan Philip Morris International melalui produk IQOS. Berdasarkan data BIS Research, nilai industri rokok elektrik global diperkirakan sebesar US$11,30 miliar pada 2016. Namun, angka tersebut diramalkan mencapai US$86,43 miliar pada 2025 dengan pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 23,25% sepanjang 2017-2025.
Postingan Terkait
Pemasaran Digital Rokok Menyasar Anak Muda
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023