Terhimpit Harga Minyak Dunia
Pemerintah diminta segera mengambil kebijakan setelah harga minyak dunia melonjak hingga diatas US$ 110 per barel akibat konflik perang Rusia-Ukraina. Pakar Ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, mengatakan Indonesia menghadapi resiko tinggi karena menjadi net importer atau negara pengimpor minyak. "Melambungnya harga minyak memperberat beban negara," kata dia, kemarin. Berdasarkan data New York Mercantile Exchange (NYMEX), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2022 mencapai US$ 113,37 per barel. Jika dihitnung sejak awal tahun ini, hingga harga minyak WTI naik 51,67%. Hal yang sama terjadi pada Indonesia Crude Pride (ICP). Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebut ICP untuk Februari mencapai US$ 95,72%. Naik 11,4% dari Januari. Melihat kondisi ini, Fahmy mengingatkan pemerintah untuk menetapkan proyeksi harga minyak yang menjadi dasar dalam mengambil keputusan untuk menyesuaikan harga jual BBM. (Yetede)
Tags :
#MinyakPostingan Terkait
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Amankan Pasokan BBM Dalam Negeri
Dampak Blokade Selat Hormuz pada Logistik Laut
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Harga Energi Naik-Turun, Investor Perlu Cermat
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023